Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Satu Tentang Cita

Bebauan mete bercampur aroma aneka buah lainnya. Tersaji dalam beberapa cawan. Memberi rasa, seteguk harap melepas lelah. Gadis beransel mampir sebentar menjenguk. Sekedar mengamati ataupun melihat sekilas. Enggan membeli, mahal katanya . Tangantangan terampil semakin asyik menciduk sendok demi sendok minuman segar bernama es buah ke dalam seluruh gelas kosong. Tanpanya, mungkin  entahlah bagaimana rasanya. Angin bertiup rendah. Suara sumbang, senar gitar, tarian ijuk, juga angin yang mengisi hari. Upss, ada yang terlupa. Tawa renyah dan semangat karena-Nya di pagi hari semakin menambah  keikhlasan untuk sedia berada dalam lingkaran mungil itu. Para hijabers luruh dalam keterasingan. Bukan asing dalam pengasingan karena suatu dosa, tetapi akibat jalinan persaudaraan yang begitu kuat. Langkah kecil prajurit tertera jelas di antara debu dan setapak yang terlewati. Senyum sumringah, gratis, dan yah, lengkungan itu memberi beribu makna arti kebahagiaan. Entah bag...

November (3)

"Nov, hentilah bercengkerama tentang pebijak yang tengah marak dihuru sejawat. somebody like you tonight, akan kita temui dibalik temaramnya separuh bulan." sembari menikmati sepiring barongko dan teh hangat. di alun-alun, kita mengeja rindu. menamai cita dengan kesungguhan. dihati kita mengukir. lalu dengan tergesa kita mendekapnya. tak tahu kemudian, serasa gelap. juwita mengurung benih dalam cemburunya. sama-sama kita terpekur. Nov, di seperdelapan malam, kita melenggokkan jemari secara apik mengisi ruang kosong antara kanankiri. menghitung kerapihan dan tersenyum. sesekali merenggangkan kedua tapak. hempaskan nafas. entah gelisah atau gembira. sengaja kubiarkan malam menggerutu. hingga jangkrik lupa bahwa dengkurnya menyebalkan. sementara kunangkunang nampak cahaya, kau datang bawa belati. biru. dalam kotak separuh hati. tercium sejenak aroma melati. ini bukan canda. serius.               ...

A Circle

Gambar
Di tempat ini kita duduk mencipta lengkung senyum yang indah. Bersama tertawa lepas, merangkai canda juga kisah. Nada dasar 4/4 yang terpetik oleh jemari mungil pada   senar gitar menghasilkan lantunan yang indah. Kita saling mendorong waktu, mengeja kata, dan sibuk mengatur pola duduk yang nyaman. Dimana pun itu, asal bersamamu kawan, bahagia akan terasa. Walau kita adalah pelukis aksara mati yang   hidup karena takdir namun kita bukanlah pelukis takdir. Marilah, bersama tertawa. Melepas segala rasa yang hambar. Mari, kita bubuhi segores luka dengan kebersamaan.  Lalala, nyanyian sumbang kita mengganggu rumpun oriza sativa yang tengah menikmati mentari. Hei, bukankah kita tengah menghibur? Atau kita sepasang yang kesepian? Ah, lelah tak menampik. Di antara pematang sawah yang masih menghijau kita duduk bersema menyemai rundukan persahabatan di antara padi dan rumpun yang ilalang yang menyaksikan kita berpelukan mesra dalam syair persahabatan.

Hijrah, Bismillah

Komedi Putar (Bapak) di Penghujung Senja

SATU-satu aksara meluncur dari labial dengan posisi tepat mengenai tanah. Tidak terjungkal sih, hanya saja landas pacunya sedikit licin hingga membuatnya tergelincir. Pagi buta dengan kabut dan abu yang cukup mengganggu pernapasan. Bunyi klakson mobil dan truk saling taruhan: siapa yang paling besar bunyinya. Pedagang asongan belum tampak muncul. Kapal penumpang kapasitas 150 orang siap berlayar. Ada yang menggelitik untuk dikomentari di hari empunya November kali ini. Kamis lalu, beberapa sebelum menerima upah atas hasil kerjanya, bapak membuat janji untuk sesegera mungkin membelikan kami tipi. Tidak banyak kata yang terlontar. "Insya Allah, minggu depan kita tidak usah lagi nonton di seberang. Bapak punya rezeki yang cukup untuk membeli perabot itu." Sontak kami bersorak girang. Entah karena girang sebab akan memiliki tipi atau girang karena kebebasan bermain akan dikurangi seiring keberadaan calon benda elektronik satu-satunya di astana senja. ________000_...

Yang berjatuhan, terhempas!

Gambar
Sebab aku takut jikalau mereka tahu tentang permohonan ampun akan kemerdekaan; ingin memerdekakan diri dari penjajahan di tanah milik-Nya. Sebab tiada lagi pengampunan  terbaik selain ampun dari-Nya. Sebab takut melebihi diri-Nya, kuasa atas hak di negerinya terjamah sekelompok kawanan  usil. ***     Diam bukan lagi suatu frasa yang asing untuk dikemukakan di era seperti sekarang ini. Saat beberapa tempat diantaranya tengah berkoar mengenai mubarak, tentang indahnya bulan yang kan menyambut fitri, ada suatu  tempat tengah  beri'tikaf, meruang pada sunyi. Berkawan mesra pada induk kegelapan, berkawan cahya pada tiap waktu yang dinanti. Itu  sulit dicerna.     Derai-derai tawa tak lagi teruntai, tangis-tangis bergelimang semakin  nampak. Entah pada siapa, apa, dan bagaimana mereka mengungkap  rasa  selain melalui sebuah potret bisu. Bibir yang terkatup, bahkan netra menyipit, atau uluran tangan...

Bersama November

Entah mengapa akhir-akhir ini aku lebih sering menulis. Hampir penuh buku catatanku akan tulisan-tulisan tak jelas. Bergambar, berupa kata maupun coretan gak jelas. Hm, bahkan aku pun tak mampu menjawab. Tak mampu menafsirkan arti semua goresan penaku. .. malam semakin larut, para pengamen malam mulai bernyanyi.. Krikk kriikkk krikkk. Menjadi suatu hal yang menarik bagiku. Lumayan gratis, unik, namun agak sedikit berisik karena jujur aku sendiri tak menyukai bunyi bising itu, tapi tidak untuk malam ini.. Aku menikmati alunan melodi yang disampaikan. Sangat menikmati. ..  teringat 14 november setahun silam, dua tahun silam, dan tanggal 14 dibulan  november lainnya. Aku ingin tahu apa yang ku lakukan saat itu. Seperti lirik lagu Tegar, "Aku yang dulu bukanlah yang sekarang..........". Pasti lucu deh, terlebih saat-saat kebersamaan itu. Sejenak aku ingin mengenang masa lalu yang ku tutup rapat-rapat. Yang ingin ku lupakan, tak ingin ku kenang.. .. Dudu...

E l a n g

Gambar
Terlalu letih untuk mengenang bahwa kita pernah melewati dan telah melalui sebuah lorong dimana  waktu dan dirimu berperan sebagai tokoh utama. Menggunakan alur maju-mundur, kau coba menyambungkan sebab-akibat yang telah terjadi selang waktu beberapa tahun. Saat itu, usia gadis kecil, sulungmu beranjak lima belas tahun. Kau gambarkan banyak kata untuk melukis pelangi dan rajutan benang raja itu di kelopak mata asia miliknya. Kau tidak begitu saja membiarkannya menyatu, dengan sabar kau coba biarkan si kecil merajut sendiri rumpun warna agar dapat dipilihnya mana yang baik dan tidak. Tak ingin terbuang, selaksa peristiwa senja saat  aku terduduk manis di beranda bersama kedua adik dan dirinya, menikmati secangkir air bening tiada berwarna, ditemani sepiring kue bunga yang disajikan wanita pilihanmu. Tidak kutahu mengapa, aku tidak dapat berbohong untuk tidak mengenang masa itu, hadir dengan sendirinya dalam tiap kesempatan dimana aku termenung, mengingatmu. Wa...

INTRODUCTION about ...

Pukul 10.00 wita Rentetan kucing yang memang berkaki empat terus hilir mudik tanpa  henti. Menyusuri tiap lorong yang entah menikung, lurus, atau  bahkan berkelok. Sebagian sisi jalan berisi pepohonan dibarengi stiker-stiker, bergelantungan layaknya jemuran. Para pejalan kaki, bebas melenggangkan kaki tanpa perlu menengok kanan atau kiri. "Siapa mau menabrak? Berani. Ketemu polisi aja keringet jagung apalagi sampai menginap di bui. Coba saja tabrak saya, saya  tidak takut." Seorang wanita dengan tanpa beralas kaki sibuk berkoar-koar di tepi jalan. Pukul 09.00 wita Pemberhentian bus yang tak pernah sama sekali disinggahi oleh bus. Hanya diduduki para remaja atau pegawai juga pejalan kaki untuk sekedar beristirahat melepas lelah. Itu dulu! Kini, sepanjang kuperhatikan, tiap harinya akan kita saksikan bersama seorang lelaki paruh baya sibuk mengais tumpukan barang yang tak lagi dipakai, tepat di samping halte tersebut. Pakaian tak layak, postur tubuh yang tingg...

Yang Terakui, Memalukan!

"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru.  Pelukismu agung, siapa  gerangan? Pelangi-pelangi ciptaan  Tuhan." *** Di antara  denting piano dan senar gitar kita bernyanyi.  Berlaku layaknya  anak-anak, kita tengah mengeja  waktu yang tidak lagi  sedikit  mendampingi  hidup untuk  menjalani kehidupan.  Dalam  satu kurun waktu  yang pasti,  berbagai  polemik  yang memecah bingkai bibliografi akan kembali menyatu.  Kepingan yang tidak  utuh  akan  kembali utuh. Merangkainya dengan begitu telaten, Part 1 ...Sebagai  pribadi  yang menyukai exact,  segala tindak  yang akan dan  tengah mengalami  perencanaan akan kukalkulasikan  secara matang, sebaik mungkin.  Tidaklah  rumit,  aku hanya  butuh konsentrasi  penuh  agar  tidak  terjadi kesalahan. Hingga  kesalahan akibat...

Menjaring Pedal Waktu

Kita berlari tiada henti, sesekali beristirahat. Mentari tiada lagi bertoleran pada langkah yang sebelumnya tidak pernah tersepakati kelahirannya. Kita berjalan terus menembus waktu, menabrak angin yang membuat diri gemetar akibat ketakutan, bahkan kita berani menebas dinding pemisah antar ruang. Memutuskan pilihan untuk hijrah adalah sebuah pilihan. Entah itu positif atau negatif. Tidak ada yang dapat disalahkan dalam proses pematangan kisah yang akan terus berlanjut. Pernah suatu ketika, kita berjalan, sahabat. Berdampingan, bersama. Cobalah berdamai bersama masa lalu, bukan berarti kau terus menatapnya dan mengecap diri sebagai pribadi galau. Tidak! Tidak seperti itu. Kita hanya perlu berdamai. Untuk merangkum sejuta kepedihan, ketegangan, kesenangan, dan kegelimangan rasa yang terasa. Beberapa tahun yang lalu, kita berlarian bersama di bawah curah hujan dalam debit yang cukup besar. Berlarian kesana-kemari tiada kenal lelah, bertelanjang kaki, dan juga saling meneriaki. Kita pern...

Bila Tak Sempa Terucap

Apakah aku  termasuk orang yang memiliki hati? Terlalu  lama kutinggalkan beranda ini hingga berdebu di tiap sisinya. Kolam  yang dahulu jernih pun kini tiada lagi nampak, kawanan koi yang berlarian kesana-kemari tak lagi ada. Aroma ranum rambutan dan mangga arum manis tiada lagi menusuk, bahka durian yang harusnya kini berbunga, tidak terlihat pucuk jemari putihnya. Mentari menyongsong, berlarian, kian tinggi, hingga mengena ubun-ubun. Kepalaku serasa pecah, mampukah kuhadapi alur hidup ini seorang diri? Berproses dalam kesendirian. Menjadi mandiri dalam kesendirian, begitu menggugah semangat. Tidak! Hidup adalah sebuah perjalanan, yang mengharuskan kebutaan itu dihilangkan. Namun buta akan hati, mata, dan pikiran, serta pendengaran telah lumpuh sejak lalu. Maafkan aku yang keras kepala. "Lang, kapan pulang?" "Besok. Tunggulah, akan kukabari. Tak usah merisaukan, lelaki." Kau berucap begitu mudah, anginkah diri ini yang menginginkan sentakan kumbang? "Bai...

Yang terucap hilang, yang tertulis abadi

Gambar
Pemahaman tentang arti hidup yang sebenarnya tidak akan didapat hanya dengan membaca, kawan. Ingat itu! Keluarlah dari persembunyian, hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya, buatlah dirimu layaknya seorang pengelana sejati. Hidup bagai pengembara itu sungguh menyenangkan, dan bukankah dalam suatu hadist shahih telah dijelaskan mengenai hidup laksana pengembara. Juga tentang waktu. Kau hanya memperlakukannya seperti pedang tanpa mengambil hikmah nyata dari pedang itu. Kau mempelajarinya secara tersurat bukan tersirat. Cobalah berproses. Menggali lebih jauh lagi tentang arti hidup dan kehidupan. Pekalah terhadap sekitar dan jangan pernah menjadikan kegagalan sebagai sebuah bumerang. Hei, bukankah kau yang telah menciptakan proses "gagal" itu? Nikmatilah. Pencapaian terindah adalah ketika kau dengan telaten mengolah waktu yang kau miliki. Ingat, bahwa kau dilahirkan pada dimensi ruang. Buatlah hidup menjadi lebih bermakna dan kau akan bangga atas segal...

Elang

untuk sebuah nama yang berpendar dalam relungku... Kuteringat wajah seorang paruh baya, yang tengah duduk menanti kedatangan anak gadisnya kala senja  menyapa.  Santai, dia begitu menikmati pemandangan kota yang sangat asing baginya. Dengan angkutan roda empat juga sepeda motor, dan  para pejalan  kaki  yang hilir mudik, ia begitu menyukainya, menurutku. Sore itu, tiga hari yang lalu... Entah mengapa aku yang tak biasa mengabaikan, mencoba untuk mengabaikan ponsel yang telah sekian lama berdering. Aku sengaja, maaf. Terlalu rumit untuk menjelaskan semua. Dia mengedarkan seluruh pandangan, kiri kanan kiri kanan, mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan gadis  kecilnya. Sembari menanti, ponsel jadulnya mengusik jaringan untuk mencoba  menghubungi seseorang. Yang tengah berada dirantau.. Segala menggulung kala senja langit semakin memerah dan oranye. Memamerkan kilau cerahnya, dan dari jauh si sulung segera berlari mencari bayang nyata yang tersenyu...

Mengetuk Lampaunya Kasih

Petikkan senar menyulap canda Berbaris nada teratur menjadi tawa Terlukis bahagia menjadi kata Semua larut dalam makna Fa mi fa la si Semua berucap hambar Sampai si lentik mengutik jemari Ceria seperti pertama berucap Hatiku, rumahku bersamaku Cintaku, kasihku, sayangku Kau kupuja, kukecup Kau kukenang, kupeluk Kusisipkan dalam ruang tersendiri Khusus untukmu Simpan, tutup... Kembali bernyanyi... Lyla, "Kenanglah aku kapanpun engkau mau. Simpan diriku bila masih dihatimu. Andaikan nanti cinta datang kembali. Akan kusanjug engkau didalam hatiku. Jalan ini memang perih. Tapi kita pernah mencobanya. Biarkan saja cerita ini mendewasakan kau dan aku." Kendari, 1Maret 2014 @9:10 am
Tetabuhan gendang diiringi alunan merdu suara penyinden asli Ponorogo semakin meriuhkan suasana syukuran yang diadakan Ketua RT Wangga. Para hadirin semakin asyik berjoget ala dangdut gak jelas. Beberapa anak kecil terlihat menangis meminta pulang, ada yang sibuk bermain petak umpet. Dan, iya petak umpet. Itulah kebiasaan anak-anak dimalam hari yang terkadang dilalaikan orang tua.      "Jan, kamu yang ngitung."      "Oke Pan,"seru anak bertubuh kecil pada si Jangkung, "satu, dua,......sepuluh. Sudah yah!" Seketika berbalik mencari kesepuluh temannya. Mereka bermain sebanyak sebelas orang. Dari kasta usia terkecil yakni empat tahun yang hanya menjadi anak bawang sampai berusia tiga belas tahun, dan dia menjadi pemimpin diantara semua anak. Biasa disebut "

I'm Serious!

Mendung baru saja mengalah pada rembulan untuk sejenak tampil di depan khalayak mempertontonkan cahay anya. Ocehan kecil merekapun terasa menarik saat mendung memulai berceloteh ria. "Oh Rembulan, mengapa kau hanya muncul diwaktu malam?"tanyanya. "Dan kau, Tuan Mendung. Mengapa kehadiranmu selalu membawa isakan tangis?" " Hei kawan, apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti." "Coba kau pikirkan. Perhatikan, kedatanganmu membuat mereka di bawah sana akan berlari-lari dan hampir terjatuh. Ada yang bersembunyi untuk tidak menemuimu, sete ngah mengomel lalu memegang payung, atau  kau perhatikan wanita-wanita itu," sambil menunjuk kearah sebuah pasar,  "Mereka butuh mentari bukan dirimu!" "Jika memang begitu, aku akan pergi. Namun jika bukan karena aku, mereka akan mengalami paceklik berkepanjangan, jika tak ada aku, tidak akan ada hujan. Jika tidak ada hujan, mereka tak akan melihat  barisan spektrum indah rupa kary...

"SM" 1

Hamparan berbintang, 13 Januari 2014 Deru hujan semakin menghempas angin untuk bertiup pada kawanan burung yang tengah berlindung, sekedar  berteduh pada sebuah pohon yang dimana tidak terdapat sangkarnya. Bulan dari pinggiran kabin kapal tengah menanti bintang yang tak jua mncul. Cukup sudah! "Aku tak sanggup menjalani semua," teriak Bulan, "Mengapa sinar berlalu meninggalkanku? Apa salahku? Bukankah dia telah menautkan jari kelingkingnya pada kelingkungku untuk selalu bersama?" Bulan menarik napas lalu berteriak, meneriakkan amarahnya pada laut biru yang tak berdosa. Palembang, 20 Januari 2014 Sinar tanpa bintang, bukan sesuatu yang menarik untuk diulas. Coba perhatikan sekali lagi! Bulan tanpa bintang, hei itu menarik. Jemari Sinar bermain pada sebuah  pena, menggelindingkannya seperti bola bekel lalu mengalunkannya bagai martil. Tidak ada yang tahu apa yang tengah dilakukannya akhir-akhir ini. Hanya kata, "Don't be afraid guys, this about my life....

MALU SEPARUH IMAN

MALU SEPARUH IMAN    MALU ITU SEPARUH IMAN. Begitu sabda Rasulullah 1418 tahun lalu. Malu yang dimaksudkan ialah malu kepada Allah. Malu untuk melakukan maksiat dan malu meninggalkan taat.    Jika malu itu 50% daripada IMAN, mana 50% lagi. Yang selebihnya ialah TAKWA. MALU DAN TAKWA adalah gandingan sifat yang menjadikan seseorang mempunyai 100% keimanan. Takwa bermaksud bukan saja takut kepada Allah tetapi lebih daripada itu 'buat apa yang disuruh dan tinggalkan apa yang ditegah'   Jika sekadar takut saja tak jadi apa-apa. Misalnya takut gagal dalam peperiksaan tidak bererti jika tidak diikuti dengan rajin membaca buku dan mengulangi pelajaran. Takut kepada Allah mestilah diikuti dengan melakukan ketaatan dan menjauhi larangan.   Ukurlah diri kita berapa peratuskah sifat MALU dan TAKWA yang ada pada diri kita. Itulah darjah keimanan kita. Bak kata orang periksalah diri kita sebelum kita diperiksa.   Ulama pernah menyebutkan 'bertafa...