Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2016

Generasi Pena**

   Manusia dibekali lima indra bukan sekadar untuk pelengkap raga, namun juga untuk mengolah rasa, mencipta karya, dan memperbaiki dunia. Olehnya, menulis untuk mengubah dunia. Menerbangkan aksara, memperkenalkan gagasan lewat pikiran. Sebab bukan hanya untuk dikenang melainkan dipelajari. Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan.     Menulis memang pekerjaan yang sunyi, namun tidak sesunyi di masa lalu.    dy a. said Kendari, 28 Februari 2016 | 2:33 pm

Generasi Pena*

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. begitulah aku jadi sepenggal bab kehidupan bagimu, cerita sampingan | kita tak meminta untuk mengawali, namun kita tutup dengan ketaatan    Saya tidak menjadi takut kemudian untuk menebar jala. Musim ini menjadi musim yang baik untuk bermain layangan di lapangan bebas. Musim dimana angin berembus mesra. Layangan tidak pernah gentar menggoyangkan lembut ekornya demi mengibas dan melawan terjangan angin. Dengan mendapatkan perlawanan, layangan terbang membubung tinggi tanpa resah. Hanya lakon tangan penari pengulur benang yang bebas hentak kanan, hentak kiri.    Saya tidak menjadi takut kemudian untuk menampar diri. Zaman ini adalah zaman karuan. Saat benang koyak terbelit tubuhnya sendiri atau angin memutuskannya. Menjadi gentar adalah pilihan. Pilihan untuk sendiri atau bersama juga menjadi gentar adalah pilihan ketika amanah sekadar aman, ah. Sabar dalam menetralkan keadaan hati yang begitu ruwet, amat meny...

Before the Rain

"Biar hujan menghapus jejakmu..."    Kawan di sebelah benar asyik menikmati kawanan lagu band yang pernah ngetop dan digandrungi kaula muda ini. Yang melepaskan segalanya melalui hujan, sebab engkau bukan siapasiapa, dan yang berlalu biar berlalu. Semudah itukah hidup?    Temanteman di sejarah pasti akan protes dan tak menerima hal ini dengan mudah. "Kita" hidup dengan berdasar pada jas merah. Jangan sekalikali melupakan sejarah. Dan, baiklah karena tak akan melupakan sejarah itulah kita akan sulit jika tak mengucap maaf.    Maaf serupa kata yang begitu gamblang dan tak lagi kuno. Tak hanya kalangan bawah yang menerus mengucap maaf tetapi kalangan atas pun. Salahkah? Tidak. Semua benarbenar seperti hujan. Saya menganalogikan bahwa hujan dengan bebasnya dapat turun tanpa ada pergesekan tertentu. Ini tidak rasional tetapi dia nyata. Kehadirannya dapat menciptakan cinta. Misal, (1) dengan hujan, seorang penulis, penyair, dan penyanyi dapat mencipt...

of Believe

Gambar
Untuk langit yang purna Satu jiwa bagi ruh Satu ruh bagi masa Satu masa  bagi Nya Satu; untuk-Nya.   dy a. said Kendari, 23 Maret 2016 | 5:12 pm @RTH Faperta UHO  

55 Hari: Is a Journey?

  Meninggalkan doa di sepotong pagi dan remah sepanjang kata. Kita mengenang matahari pagi itu, yang sempat mengabut dan enggan kembali. Lalu jalan yang tak sunyi menjadi sunyi penuh ilusi. Buat kita, jiwajiwa mula semakin bergiat ber-ilusi. Sesibuk kupu mencari nectar, di dada denting waktu kian lingsir. Dengan rakus, diksidiksi terebut dari buku tua yang tak layak baca. Pontang-panting tubuhnya menyelamatkan diri dari amukan rayap.   Kita tak pernah se-akur dan se-formal ini sebelumnya. Tak ada kata pamit untuk berpisah. Walau cinta belum tertabur sempurna tapi wangi bunga sibuk merona. Kemudian, langkah wanita berpasangpasang dan sekelompok lelaki tanpa sengaja menginjak ranting, meninggalkan jejak berisi kenangan dan langit tak benar-benar berawan. Maka jangan katakan perihal suratan napas. Kita tak benar hilang. Kita masih pandai bercita-angan.   Nama kita utuh: tertulis, terbaca, dan teringat. Bukan sebagai nama tetapi amanah. Bukan sebagai tulisan te...

Jika Mentari Tak Kembali

  7:59 am wita.   Apa yang terjadi jika matahari benar-benar tak kembali? Apa yang terjadi jika matahari kembali tetapi dalam warna yang tak lagi sama? Bagaimana jika dia membawa kegelapan? Siapkah?    Sedari awal telah dikabarkan-Nya perihal ini. Telah cukup as-Syams mewarnai hari dengan  warna benderangnya. Ini kali, dia tetap bersinar dengan pengecualian. Matahari tak akan terbit seperti biasa. Akan dilewatinya ruang dengan degradasi warna yang beda. Penduduk bumi siapkan cara terbaik. Ada yang telah bersiap menyiapkan kocek, memotret abadi "sengaja"; ada yang tengah merunduk memikir; ada yang gagah berdiri rukuk dan sujud merapal mantera doa perolehan perjalanan isra dan mi'raj; dan tentu, ada yang acuh tak acuh.   Di sepanjang hidup, beberapa jiwa pernah mendapati peristiwa alam ini. Mungkin ada yang sekali, dua, bahkan tiga atau empat. Untuk negaraku, perolehan data sekitar 350 tahun sekali dibanding negara lainnya yang mendapat keajaiban...

4: 148

Ada masa ketika duduk lebih baik daripada berdiri; masa ketika meluruskan justru dianggap mendukung kebathilan.     "Ka, senyumpi sedikit!"     Perkataan seperti itu kerapkali terucap dari mereka hampir 2 bulan terakhir. Bukan hanya perkataan melainkan pula tatapan yang tidak dimengerti. Anggapan bahwa telah banyak perubahan membikin jantung ini berdegup tidak karuan dan seolah nanar untuk kembali menatap, menggenggam, dan duduk di samping mereka. Entah siapa yang tidak ingin diusik, saya masih gagal paham terhadap itu semua.     Api yang kecil dapat dipadamkan dengan tiupan kita. Tetapi ketika api membesar, atau bara begitu memerah, meniup justru mengobarkannya.        Jangan menyulut api jika tidak ingin terbakar. Api yang dahulu sebagai penghangat, terkadang digunakan untuk meredam rasa sakit tidak lagi dapat berterima oleh keadaan. Tidak lagi berwarna biru atau hijau melainkan merah saga. Lambat la...

We Have

  Berharaplah engkau hanya kepada Tuhanmu sesungguhnya Dia adalah sahabatmu yg paling setia yang tak kan pernah mengecewakanmu   D engan segala yang dimiliki , kita tidak perlu berjalan hingga menemu tapal batas. Kita tidak diwajibkan untuk menggapai penghujung jalan. Kita hanya perlu mengikat hati lalu mengenalkan si sohib tentang jalan yang tengah kita runut mulusnya ini. Ini tentang hati (lagi). Inilah ke-khas-an tentang comfort zone. Dimana kita dapat menemu jalan seperti ini di antara banyaknya simpang jalan yang nampak? "Do'a itu senjata seorang mukmin,  tiang agama, serta cahaya langit dan bumi" (HR. al-Hakim)       Minimal, rasakan dahulu adem. Bagaimana? Tunjukkan. Bukankah kita memulai dari mengikat hati? Yap yap... Dengan apa? Harta tiada, benda tak mencukupi. Lalu? Bagaimana jika kita memulai dari do'a? Do'a itu murah. Malah gratis jika diungkapkan. Tidak dibutuhkan sebuah debit card atau kartu lainnya untuk mengirim doa....