Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

j a n u a r i : damai (1)

Gambar
saya perlu berdamai dengan waktu. mencairkan suasana. barangkali saya yang terlalu bersikukuh, menutup hal dari segala sehingga kami sulit menyatu. di antara seluruhnya, teman lama kembali datang. menegur dan memberi doa, 'syafakillah kaka Diah.'   saya perlu berdamai dengan waktu. mencairkan suasana. barangkali saya yang terlalu bersikukuh, menutup hal dari segala sehingga kami sulit menyatu. bahkan seorang tua berkata, 'kamu terlalu keras. tidak boleh seperti itu.'  so, here iam. tetaplah menjadi diri sendiri. saling menyambut, bersuka cita bersama wujudkan mimpi. Mari hadapi dunia dengan senyuman. Waktu begitu deras, dan kita harus menghalaunya. Harus. kendari, 22 Januari 2018 diah a. said - seorang pembelajar 1.47 pm

j a n u a r i : tak mesti sempurna untuk menjadi

Gambar
tak mesti sempurna untuk menjadi. tidak mesti sempurna untuk menjadi. sempurna itu bukan suatu kewajiban mutlak. menjadi seorang perfeksionis adalah hal yang menyebalkan dan membahagiakan. di satu sisi, semua akan terlaksana dengan apik. rapi. ter-schedule. di sisi lain, tuntutan ini itu akan memperlambat. tetaplah menjadi sosok biasa. untuk meluar-biasakan yang biasa. agar tidak ada yang kecewa. menuntut untuk sempurna itu perlu, tetapi Tuhan tak memaksakanmu untuk tampil sempurna. sebab manusia tetaplah manusia biasa yang tak akan pernah sempurna. jadilah untukNya dan untuknya yang dipilihNya. menemani ifa. setelahnya, nasra dan zulbaedi. depan rektorat uho @oktober 2017 semangat menjalani hari. selamat berhari kamis. yang terbaik, untukmu. mangatsss. kendari, 18 januari 2018 diah a. said - seorang pembelajar 1.53 pm

j a n u a r i : genap

Gambar
google.com tut tut klakson kendara bertaut memuji. mengumpat. waktu bergelut ngeng ngeng deru knalpot roda dua dengung mengisi jalan dengan agung bak rentetang kosong kemudi meraung aku tidak pernah lupa bagaimana rasa-rasa itu hadir. kunyahan permen karet pagi ini menjadikanu manis. lalu sepat. kemudian berganti. botol-botol mineral berjejer. rapi. tak berempunya. entah siapa yang menyimpan.kemudian seorang ibuk datang mengambil. merawat botol bak anak kandung. menjejali tiap botol dengan bunga  plastik dan serumpun batu mini. tit tit tit sayur di motor bersapa genit seumpama pembeli yang bertarung sengit menawar harga semiring mungkin. pahit bagi pembawa. tetapi itulah hidup. kadang harus pailit demi membuat lainnya tersenyum. sakit. bunga-bunga rimbun mekar. menjelajah ubun-ubun dan sebuah antik melewati jalanan. berumpun dengan dekor merah muda. ada yang genap. semakin tambun satusatu anak berdatangan. menerka mengampun pinta doa pada yang telah. ...

j a n u a r i : meringkas jarak

Gambar
pada jarak yang tak pernah terdekati. seusai Eid Fitri 1438H @Rarontole Tokotua. di tahun yang itu, kita tidak pernah lupa untuk berbagi kabar (walau sekadar emoticon pada layar ponsel). sesuap cuapan menjadi renyah yang lumayan kriuk agar bibir tetap merekah. sepotong canda melempem di selasar otak serta buih-buih adab di tapal kerongkongan. kita tahu; sama-sama tahu cekatan itu. kemudian di tahun setelahnya, diam-diam menerjemah arti adalah rute baru. ber-alih mengubah lintasan, kita sibuk dengan cerita tentang seorang. seorang yang bahkan tidak mengetahui apapun tentangnya; siapa yang menceritakannya; dimana cerita tersebut tersebar; juga sejak kapan lautan kata atas namanya mencair di permukaan. kita pernah bersenda di satu sore. berjanji untuk tidak saling mengungkit apapun perihal hal yang kita tahu bahwa kita tak menyukai itu. kita telah bersepakat. kita biarkan semua seperti nyala lagu pada radio. tetapi kata tetaplah kata yang jika terucap akan terngiang. mela...

j a n u a r i : menghabiskan hujan

Gambar
google pics A: dimana kau akan menghabiskan waktu ketika hujan? I: toko buku, kamar, dan perpustakaan. A: bagaimana jika rumah makan? I: aku harus memastikan. aku tak mengiya dan menolak. A: apa yang ingin kau pastikan? I: akan kupastikan. kau ingin kita menghabiskan hujan dimana? A: aku hanya ingin semangkuk metroxylon sagu rottb dan segelas vanilla latte. aku tahu ini tidak, tapi... kau tahu apa yang inginkan bukan? I: jadi, dimana 'kita' akan menghabiskan waktu kali ini? A: di sini saja. cukup balas chatku. I: kau tak ingin keluar, bermandi hujan, atau kita berdua berada di sekililing orang kantoran yang sibuk mengaduk piring jam 12 mereka? A: aku hanya ingin di sini. sebaiknya kita jangan dulu bertemu.  I: baiklah. A: jadi, dimana kau akan menghabiskan hujan? I: di sana. bersamanya. dengannya. A: sampai jumpa. ponselku lupa ku-charge. kita akan saling mengabari lagi, nanti. I: baiklah. jika tidak, kita telah saling memaha...

j a n u a r i : yang tak tuntas (1)

Ini kali aku duduk di tempat yang beda. Sedikit lebih jauh 10 langkah dari tempat sebelumnya. Di sini, langit terlihat lebih jelas. Lebih abu dan aku dengan leluasa dapat melihat gerak dedaunan di depan maupun samping kiriku. Kibaran bendera juga, detak pasir pada genteng, dan suara manusia. Langit tak biru, seperti dahulu. Tak putih awan. Hanya warna putih mendekati abu-abu dan abu-abu betulan yang nampak. Akan turun hujan, kayaknya. Kita pastikan sebentar ketika hujan turun atau saat langit bergemuruh. Awan seakan berarak. Guruh langit pelan mengetuk. Aku menghitung detak waktu. Enam dari 15 sekoci telah berlayar. Mengarungi kehidupan Januari yang sesak. Aku harus kuat. MengandalkanNya adalah jalan terbaik selainnya.  PanggilanNya perlahan terdengar. Waktu kian beranjak dan langit diarak kelabu. Bagaimana cara memecah kebisuan? Bagaimana mencairkan kebekuan hati? Adakah yang lebih baik selain menerima dan mengikhlaskan segala? Satu-satu orang bergegas meninggalka...

j a n u a r i: izinkan aku bertamu

Gambar
"... bergeraklah dan terus belajar  hingga kau lelah dan kau dapati lelah kelelahan mengikutimu." 2 Januari 2018. Bulan pertama penanda penanggalan Masehi telah memasuki usia Dua hari. Tidak banyak yang terjadi di Dua hari ini selain anak-anak yang girang meniup terompet; bapak-ibuk pekerja yang libur dan hari ini kembali memasuki kantor; kakek-nenek yang menggerutu tak kuat menahan deru mercon yang bertabur di langit seperti tepung. Pedagang berbahagia tentu. Seakan musim, semua tiba-tiba berseliweran di pinggiran jalan. Mengingatkan satu hal; bahwa yang pergi pasti akan kembali. Sepagi ini sekolah-sekolah telah dipenuhi warganya. Seragam putih merah kembali menaungi daratan kota. Mereka tampak imut. Iya, imut. Aku berada di sudut lain. Dimana aku dapat berkreasi walau dalam keterbatasan. Setengah jam berlalu dan kini setengah jam setelahnya seorang lelaki yang tak asing wajahnya datang. Datang dengan senyum yang sama. Dia pemilik suara itu. Satu hal men...