Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

18 Februari

SATU Di satu dan lainnya, tangis adalah ungkapan rasa berbentuk dan ber-rasa. Di antara sekian alasan, cinta-lah yang menjadi hal utama. Untuk apa kamu nangis? Untuk cinta. Jika bukan karena cinta, maka tak akan ada tangis. Benarkah begitu? Saya pernah bertemu seorang. Dua orang. Lebih dari itu. Sesedih apapun, ia tak akan menangis. Sederhana: "Kalian tak perlu melihatku cengeng. Cukup aku sendiri," begitu katanya. Kemudian, di lain waktu Allah sempatkan saya bertemu dengan banyak orang yang mudah mengeluarkan tangis. Karena apa? Entah, tetiba saja karena berbagai alasan. Di waktu yang lain, tangisan terjadi karena ke-ter-kejut-an. Tetiba hujan deras di pelupuk mata. Kaget akan hal tersebut. Juga, tangistangis perihal bahagia. Semisal tentang pertemuan.  Definisi tangis selain ungkapan rasa berasa belumlah jelas. Antara kita, bahkan belum menyepakati apa itu tangis. Bdw, emng km prnh nngs? DUA Cinta: antara yang dipertemukan di seper...

luruh

Gambar
Kita sedang dalam perasaan tidak merayakan apapun. Hanya ingin jumpa, menatap, dan mendengar tentang apapun yang belum sempat atau bahkan berulang kali kudengar. Lalu di suatu malam Februari yang tidak pernah terduga, kubaca pesan yang membuat hati berdegup. Kencang. Tidak karuan, seperti halnya ketika burung terbang yang kutumpangi melintas di antara gumpalan awan. Sejak itu semua yang kupersiapkan terlupa. Abu seperti halnya awan saat akan hujan.  Di Bandar Udara, tanpa berpikir panjang kukatakan apa yang membuncah melalui sambungan udara padamu, kecuali rindu. Jujur saja, sungkan rasanya untuk berbicara serius perihal itu. Aku takut genangan air akan memenuhi lesungku yang tak begitu dalam. Sekelilingku sibuk dengan ponselnya. Aku berkaca di ponselku juga, menatap manik yang tak lagi seperti dulu. Barangkali dia tahu, aku ingin mengatakan apa yang tak pernah terucap. Dalam kesenjangan, tibatiba dikatakannya. Kujawab saja, "Iya," dengan terbata. ...