E l a n g
Terlalu letih untuk mengenang
bahwa kita pernah melewati dan telah melalui sebuah lorong dimana waktu
dan dirimu berperan sebagai tokoh utama. Menggunakan alur maju-mundur,
kau coba menyambungkan sebab-akibat yang telah terjadi selang waktu
beberapa tahun. Saat itu, usia gadis kecil, sulungmu beranjak lima belas
tahun. Kau gambarkan banyak kata untuk melukis pelangi dan rajutan
benang raja itu di kelopak mata asia miliknya. Kau tidak begitu saja
membiarkannya menyatu, dengan sabar kau coba biarkan si kecil merajut
sendiri rumpun warna agar dapat dipilihnya mana yang baik dan tidak. Tak
ingin terbuang, selaksa peristiwa senja saat aku terduduk manis di
beranda bersama kedua adik dan dirinya, menikmati secangkir air bening
tiada berwarna, ditemani sepiring kue bunga yang disajikan wanita
pilihanmu. Tidak kutahu mengapa, aku tidak dapat berbohong untuk tidak
mengenang masa itu, hadir dengan sendirinya dalam tiap kesempatan dimana
aku termenung, mengingatmu.
Wanita pilihanmu, bukanlah sosok Khadijah binti Khuwailid, bukan pula bayang Fatimah. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang wanita biasa yang membuatmu terpikat hingga kau persunting menjadi kekasihmu, sejatinya dia berhasil hingga kini mengemban amanah yang diberi. Memberimu tiga gadis kecil yang usil, pandai berceloteh, dan juga pandai mencuri hati wanitamu. Siapa yang mengajari kami jika bukan dirimu.
Tiga pekan lalu, kita bertemu. Seminggu, 7x24 jam bahkan tak cukup, bukanlah waktu yang sempurna untuk menjumlahkan dan mengeliminasi rasa rindu yang berpendar dalam relung. Genangan rasa mengharu biru yang tak terluapkan, hanya dengan senyum semua terasa. Jelas, kala pertemuan pertama itu, bukan untuk pertama seumur hidup namun setelah sekian lama tak bertemu, dengan gagahnya kau menyapaku dengan senyum dan menyapu pipi ini dengan nada bilabial yang khas. Kutahu kau telah lelah, aku pun. Maka, di waktu senggang ingin kubuka sedikit tirai gorden relung ini untuk mengenangmu. Terlalu melankolis, namun kurindu bayang semu kita. Hanya muncul dalam bayang, imaji, atau halusinasi. Kau bahkan tidak menerima genggaman tangan kecil ini, tak kutahu, apa yang terjadi. Kau berbalik, tersenyum, melambai, sekilas bulir bening mengaliri kedua belah pipi dibalik teduh bola mata coklat. Ingatanku, sepasang malaikat tak bersayap tengah duduk menenun rindu, menyemai do'a pada embusan angin yang melambai-lambai nakal. Ingin sekali kuhardik, sayang, sopranku tak lagi sama seperti dulu, saat aku dengan manjanya menangis meronta, bukan hanya aku, namun kedua gadis kecilmu pun mengikuti langkahku untuk menangis sejadinya meminta imbalan sebutir permen atau bahkan selembar rupiah bergambar kertas untuk membeli sesuatu. Kau tahu? Kami merindu masa lalu yang tak mungkin dapat terulang kembali. Dan kami bertiga pun tahu, kalian ingin tetap mengulang masa itu jua, namun bukan dengan kami. Walau tentu masih bersama kami, namun tak dapat dipungkiri bayang itu secara halus memberi tahu, gambaran masa depan yang tengah dan pernah kita bahas bersama di antara lambungan horison yang merona memerah merasa malu sebab rayuannya ampuh menghipnotis percakapan senja kita. Tunggu, akan kuberi kabar gembira tentang itu. Tunggu, semua 'kan baik-baik saja. Bahkan julukan "Asri Kecil" pun tak 'kan hilang, tidak akan pergi begitu saja, dia telah utuh menjadi bayang jejak tubuh yang tengah menyongsong mentari.
Jangan biarkan, punggung ini menghilang dibalik malam yang menemaram. Redup...
Kdi, 2 Mei 2014
Dy

Wanita pilihanmu, bukanlah sosok Khadijah binti Khuwailid, bukan pula bayang Fatimah. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang wanita biasa yang membuatmu terpikat hingga kau persunting menjadi kekasihmu, sejatinya dia berhasil hingga kini mengemban amanah yang diberi. Memberimu tiga gadis kecil yang usil, pandai berceloteh, dan juga pandai mencuri hati wanitamu. Siapa yang mengajari kami jika bukan dirimu.
Tiga pekan lalu, kita bertemu. Seminggu, 7x24 jam bahkan tak cukup, bukanlah waktu yang sempurna untuk menjumlahkan dan mengeliminasi rasa rindu yang berpendar dalam relung. Genangan rasa mengharu biru yang tak terluapkan, hanya dengan senyum semua terasa. Jelas, kala pertemuan pertama itu, bukan untuk pertama seumur hidup namun setelah sekian lama tak bertemu, dengan gagahnya kau menyapaku dengan senyum dan menyapu pipi ini dengan nada bilabial yang khas. Kutahu kau telah lelah, aku pun. Maka, di waktu senggang ingin kubuka sedikit tirai gorden relung ini untuk mengenangmu. Terlalu melankolis, namun kurindu bayang semu kita. Hanya muncul dalam bayang, imaji, atau halusinasi. Kau bahkan tidak menerima genggaman tangan kecil ini, tak kutahu, apa yang terjadi. Kau berbalik, tersenyum, melambai, sekilas bulir bening mengaliri kedua belah pipi dibalik teduh bola mata coklat. Ingatanku, sepasang malaikat tak bersayap tengah duduk menenun rindu, menyemai do'a pada embusan angin yang melambai-lambai nakal. Ingin sekali kuhardik, sayang, sopranku tak lagi sama seperti dulu, saat aku dengan manjanya menangis meronta, bukan hanya aku, namun kedua gadis kecilmu pun mengikuti langkahku untuk menangis sejadinya meminta imbalan sebutir permen atau bahkan selembar rupiah bergambar kertas untuk membeli sesuatu. Kau tahu? Kami merindu masa lalu yang tak mungkin dapat terulang kembali. Dan kami bertiga pun tahu, kalian ingin tetap mengulang masa itu jua, namun bukan dengan kami. Walau tentu masih bersama kami, namun tak dapat dipungkiri bayang itu secara halus memberi tahu, gambaran masa depan yang tengah dan pernah kita bahas bersama di antara lambungan horison yang merona memerah merasa malu sebab rayuannya ampuh menghipnotis percakapan senja kita. Tunggu, akan kuberi kabar gembira tentang itu. Tunggu, semua 'kan baik-baik saja. Bahkan julukan "Asri Kecil" pun tak 'kan hilang, tidak akan pergi begitu saja, dia telah utuh menjadi bayang jejak tubuh yang tengah menyongsong mentari.
Jangan biarkan, punggung ini menghilang dibalik malam yang menemaram. Redup...
Kdi, 2 Mei 2014
Dy

Komentar