Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Malam Apa Ini?

Tudung saji kubuka. Kosong. Panci dapur kosong. Pun belanga. Tak ada bebauan apapun di sini kecuali sampah. Lemari tak menyimpan pusaka. Cermin tak nampak erotis pun aura magis. Tak ada rasa apapun di sini kecuali ambisi. Piringpiring tak berwarna. Tak bercorak. Vas tanpa bunga. Meja tanpa rampel. Ruang tanpa tamu dan perabot. Kosong. Mimpikah? Tidak. Kah mimpi? Tidak ti-dak. Lalu? ... Semua habis terjual. Tersisa kenangan dan rindu yang salah alamat di malam yang katanya petanda baru-baru-baru. Semua ludes. Tersisa mercon dan mesiu yang tak berwelas asih di malam yang katanya penanda kaum urban bondong ke kawasan baru. Semua purna. Tersisa tong dan jalan bertabur sampah sisa malam. ... "Kak, malam apa ini?" tanyaku.  "Dik, malam ini apa?" jawabnya. "Kak, apa malam ini?" tanyaku. "Dik, ini malampir. Dengan pundi yang gentayangan di tiap ruang; dengan aroma pesta semalam bercampur alkohol, rokok, parfum murahan, dan bungkus k**dom; ...

Selamat Pagi, Sayang

Selamat pagi, sayang. pagi ini, embun dedaunan begitu segar tak ada gerimis apalagi hujan hanya kita dan matahari pagi Selamat pagi, sayang pagi ini, langkah kaki kita beradu gerak mentari tak ada sepasang sepatu kets pun sandal hanya kaki kita beralas alam Selamat pagi, sayang apa kabarmu? tahukah kamu kabar baik ini kali? ah, tidak. kan belum kuberitahu aku bertemu Dia. di sepertiga waktu yang biasa kau bangunkan aku. dengan gemas, diceritakanNya tentangmu. aih, begitu melankoliknya suasana saat itu. dan, tidak ada musik terlebih suara lainnya. benar, hanya aku dan dia. tanpa beradu pandang--aku takut--segala tentangmu begitu nyata. mungkinkah...? kau tak pernah mengajariku beradu pandang. kau juga tak pernah mengajariku ilmu mungkin. kuingat, hanya ilmu kepastian yang selalu kau ulang di tiap waktu. rasanya, aku membutuhkan masa lalu sebagai penampar pipi ini. aku terlalu bersemangat untuk berkata-kata tentang ini-itu dan melupakan janji dahulu. ...

apakah aku punya bapak?

Biar kuberitahu sedikit tentangnya: Tentang BAPAK.  Saya selalu (merasa) memiliki(nya). Tidak banyak kenangan yang ada tetapi cukup untuk membuat waktu menoleh ke belakang.  Delapan tahun bukanlah waktu yang baik untuk mengatakan bahwa kesempatan benar-benar telah merenggut kebersamaan yang seharusnya menjadi hak paten pribadi. Terkadang saya berpikir sejenak dan memutuskan suatu keputusan entah bijak atau tidak: Apakah saya punya ayah? Apa yang membuktikannya? Apakah saya punya ibu? Apa yang membuktikannya? Desember yang basah: bau hujan, belahan aspal, hingga durian yang menusuk indera penciuman. Desember benar-benar arogan, tetapi cukup diselipkannya satu momen spesial untuk para wanita. HARI IBU. Ribuan (orang yang dapat saya jangkau baik nyata pun maya) menghambur kata “happy mother’s day” dengan dibubuhi intrik lainnya. Selalu seperti itu, tidak pernah berubah. Mengapa? Tiap tahun, ada hari dimana tanggal dan waktu tersebut menjadi teramat ...

RINDU ITU CINTAKAH?

    Saya pernah membaca sebuah kalimat (entah dibuku, google, atau mana--lupa--) bahwasanya, dalam sebuah hubungan tak perlu saja cinta atau tok sayang melainkan ada pembukusnya. Nah, loh? Yang dimaksud ternyata adalah IMAN. Waduh, kok ada iman? Nyangkutnya dimana? Pikiran pendek saya mulai mendominasi otak yang gaduh.         Dalam kehidupan, IMAN memiliki peran besar. Tidak hanya sekadar pengisi kewajiban aja seperti yang dipelajari dari teka, esde, hingga esema kalau iman itu ada enam. Iman kepada (1)... (2)...,...hingga (6) melainkan keenam itu dipahami hingga lahirlah wujud konkretnya. Bahasa guru sih, biar teori gak sekadar teori, yuk praktik!       C I N  T A  pada dasarnya adalah fitrah Ilahiah kepada seluruh makhluk. Makhluk hidup. Setidaknya, kita adalah sesama makhluk. Jika bukan makhluk maka kita adalah ciptaan. Jika kita bukan ciptaan maka kita bukanlah siapa-siapa. Jika kita bukan siapasiapa, lantas siapa...

Sederhana, Itu Cintakah?

Bahagia itu sederhana.      Sepersekian menit rangkaian kata itu berhasil mencipta satu makna. Sore ini, saya bersemedi di dalam ruang kecil setelah lelah menjadi bolang di pagi hingga siang. Sembari duduk lepas, mata saya berjalan memakan remah tulisan yang tertera. Saya semakin mengagumi mereka yang hebat. Walaupun, di waktu itu, seorang kakak yang baik hati (versi-ku) menegaskan bahwa jangan terlalu mengagumi dan menjadi sosok alay terhadap jiwa-jiwa lainnya.  Mengapa? Timbangnya, kau akan mudah jatuh dan terperosok jauh jika mengetahui sisi lainnya. Awalnya, saya ragu dan hanya mendengar serta mengambil hikmah sepertiga dari ribuan kata yang terlontar. Namun, kini saya semakin percaya, memang manusia seperti itu adanya. Ada kalanya, ketetapan hati dan kodrat Ilahiah tak dapat kita hindari. Dan saya mengalaminya. Istilah beken-nah, panas-panas tai ayam , hangat-hangat indomie... Fiuhhh      Desember ini, saat matahari tidak lagi...

That's the Way

"Masa usia jangan disiakan sebab ia tak 'kan kembali. ..."     Itulah kalimat yang sempat teringat. Kumpulan kata yang terus menjadi bayangku. Entah mengapa, entah siapa. Dalam senandung langkah, semua terurai begitu saja. Sekikis duka ditambah sepercik suka, ada harapan dalam pengorbanan , so simple.      Di berbagai kesempatan, satu dua kerikil menyempatkan mampir. Si sandal jepit tidak pernah sekalipun terdengar ber-ah-ih-uh. Hidup mungkin seperti itu, tidak selalu susah dan sesusah serta semudah yang kita bayangkan.    Beberapa kawan asal nyeletuk, "Kamu kok betah di situ? Perasaan gak ada perubahan. Netap deh!" Bersama angin, tanya itu telak terjawab, "Damai!" Namun, ada alasan lain. Kembali pada teori sandal jepit tadi, mau sandal jepit kelas maribu, sapuluh ribu, duapuluh ribu, hingga tusan ribu tak mempengaruhi fungsi sandal tersebut sebagai penjajah tanah, pemijak rasa, dan penadah rasa. Tingkat kasta penghasil kesejahtera...

Dialog Hati

"Kau dan aku selamanya. Memecah kebekuan menjadi cair. Padatan air yang melunak, semoga."      Tidak ada yang tahu kemana kaki akan melangkah, tangan akan bergerak, bibir akan melunak, dan hati bertaut. Semua masih berdiam di koridor masing-masing. Kita, kukatakan "kita" memutuskan waktu yang terjelajah entah sampai ambang mana tiada menahu kecuali kepastian akan tujuan. a: "Kamu penulis, ya? Tulisan kamu bagus-bagus. Aku suka!" b: "Bukan, aku bukan penulis seperti yang kau kira." a: "Lantas? Siapa yang menulis itu di dindingmu?" b: "Jemariku!" a: "Nah, lo! Berarti kamu 'kan?" b: "Bukan!" ... a: "Maaf, bukan aku. Kamu boleh mengatakan aku pandai menulis. Kau menikmatinya tapi aku tidak. Aku merasa gagal. Gagal dalam menuliskan nama-Nya di tiap langkahku!" ***       Lewat proses seperti inilah seorang bocah sepertiku berkembang. Tidak dengan menjadi seorang introv...

Absurd

“Hidup ini hanya sekali, maka jadikanlah yang sekali ini menjadi bermakna, tinggalkanlah jejak agar kau dikenang"     19 November 2015 ... Tidak banyak yang dapat saya lakukan di tanggal istimewa ini. Saya kebanyakan merenung dan berdiam seminggu terakhir. Satu diantara sekian banyak perenungan yang saya lakukan, pertengahan November selalu menjadi aksi tangis besar-besaran untuk saya.     Biasanya, saya akan menjadi seorang bocah riang. Sibuk celoteh ke sana ke sini, mencari kesibukan: apapun itu. But, tidak untuk pekan ini. Saya benar-benar drop dari situasi-situasi sebelumnya. Pertengahan tahun lalu, saya benar-benar terhenyak dengan aksi partner saya dalam mengemban sebuah misi. Boleh dikatakan saya down.     Dia, mudahnya mengatakan ini dan itu sementara saya dibuat tidak mengucapkan sepatah katapun. Sembari dia sibuk berceloteh, saya fokuskan berpikir antara hati dan logika. Tidak sulit. Saya sudah biasa dan harus biasa dalam hal mult...

Lelaki November

Titik.

Katamu, tak usah meracik kata merupa bumbu penganan lezat sebab se-njelimet- apapun kalimat itu, kita tetap menyebutnya rindu, bukan? ... sebab mengalir darahmu dalam tubuhku. ... sebab menyatu darahmu; darahku. ... sebab merasukmu ialah aku. Terimakasih. ______________________________________________________________________________________-- dy. Kendari, 13 Nov 2015. 11:36pm

Let It Go (3)

Sepuluh mata yang terbenam di ufuk barat adalah waktu yang kucinta dipenghujung waktu. Sepuluh nafas yang terdesah di ujung resah adalah rindu yang kutanam dalam. Sepuluh peluh yang meluap di akhir kata adalah pertahanan terakhir. Sepuluh tambah dua fonem yang terucap adalah a-k-u s-a-y-a-ng k-a-m-u ........................................... CUKUP ........................................... Wajah november mengembara ini kali. Cari air. Cari darah. Cari kata. Cari curi cara. Segala menjadi halal. Adakah kewajiban mencinta dengan menyederhanakan suatu hal? Pagi tadi, orangorang berkerumun di suatu ruang; ceritakan kamu, dia, dan kami (tentu). Saya tidak terlalu paham tentang dimensi ruang yang mereka cakapkan. Terkadang saya mengangguk setuju jika sepaham. Menggelengkan kepala tanda kekonyolan. Senyum tipis menertawakan atau diam tanpa kata menjadi pemerhati + peninjau terbaik. Mungkin ini efek dari tidak nyenyaknya tidur semalam. Bukan tentang rindu tapi ini tentang masa depan(g)...

Let It Go (2)

Meja itu dipenuhi tawa... Aku bisa menebak, pada akhirnya cerita ini sampai padamu. Cerita tentang segala hal yang kita pertentangkan selagi logis dan rasa tak satu. Aku bisa meramu, pada waktu yang jemu lihat tingkah kekanakkan dua, tiga, empat,..., sepuluh jiwa yang tandas dilindas masa. Seperti itukah? Tidak. Maaf, aku terlalu hiperbola. Lupakan aku, kembali pada saya: ...    Dia tidak ada. Pun di rumah, ladang, dan setapak sepanjang desa ibu dan bapak. Saya sudah berasa tidak memaksa diri berpikir keras untuk menyusulnya tapi kegugupannya buat hampir seluruh orang sekitar tambah resah.    April 2014; Saya akhirnya pulang membawa rindu yang menumpuk dalam almari. Separuh telah luruh dalam perjalanan. Kutandaskan dikaram kapal yang kulewati. Sisanya  masingmasing berdiam di beberapa tempat yang tidak kuketahui. Lelaki itu (lagi) menjemputku. Saya tidak perlu menunggu banyaknya orang yang lalu lalang. Begitu kapal sandar di dermaga, dengan kokoh langkah...

Pulang

Gambar
Pekerjaanku adalah menangkap cahaya. Menangkupnya yang jatuh dan papa dalam jemari. Pekerjaanku adalah menadah waktu. Mengitarinya untuk kubuai dalam catatan semu. Pekerjaanku adalah ... merindu. Ya, merindu. Bukan kamu, tapi Dia. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri. Tiada berkawan makhluk hidup. Dia memilih duduk memojok tanpa suara. Dering ponsel pun tiada. Dia benar-benar sendiri. Orangorang ketawa hi hi; melihatnya sendiri. Dia tetap diam. Kenyamanan menikmati desktop 29 inchi membuatnya tak bergeming. Bocah berlari, nyanyi,  dan terpelanting di depan tak disambutnya. Orangorang sibuk mengoceh bak menunggu ketel mendidih, ia masih mematung sesekali mengerjapkan mata. Terkadang menahan senyum. Orangorang lalang, pandangannya selalu awas tanpa merubah gerak tubuh. Orangorang pergi; dia masih sendiri. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Duduknya kian g...