Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Yang berjatuhan, terhempas!

Gambar
Sebab aku takut jikalau mereka tahu tentang permohonan ampun akan kemerdekaan; ingin memerdekakan diri dari penjajahan di tanah milik-Nya. Sebab tiada lagi pengampunan  terbaik selain ampun dari-Nya. Sebab takut melebihi diri-Nya, kuasa atas hak di negerinya terjamah sekelompok kawanan  usil. ***     Diam bukan lagi suatu frasa yang asing untuk dikemukakan di era seperti sekarang ini. Saat beberapa tempat diantaranya tengah berkoar mengenai mubarak, tentang indahnya bulan yang kan menyambut fitri, ada suatu  tempat tengah  beri'tikaf, meruang pada sunyi. Berkawan mesra pada induk kegelapan, berkawan cahya pada tiap waktu yang dinanti. Itu  sulit dicerna.     Derai-derai tawa tak lagi teruntai, tangis-tangis bergelimang semakin  nampak. Entah pada siapa, apa, dan bagaimana mereka mengungkap  rasa  selain melalui sebuah potret bisu. Bibir yang terkatup, bahkan netra menyipit, atau uluran tangan...

Bersama November

Entah mengapa akhir-akhir ini aku lebih sering menulis. Hampir penuh buku catatanku akan tulisan-tulisan tak jelas. Bergambar, berupa kata maupun coretan gak jelas. Hm, bahkan aku pun tak mampu menjawab. Tak mampu menafsirkan arti semua goresan penaku. .. malam semakin larut, para pengamen malam mulai bernyanyi.. Krikk kriikkk krikkk. Menjadi suatu hal yang menarik bagiku. Lumayan gratis, unik, namun agak sedikit berisik karena jujur aku sendiri tak menyukai bunyi bising itu, tapi tidak untuk malam ini.. Aku menikmati alunan melodi yang disampaikan. Sangat menikmati. ..  teringat 14 november setahun silam, dua tahun silam, dan tanggal 14 dibulan  november lainnya. Aku ingin tahu apa yang ku lakukan saat itu. Seperti lirik lagu Tegar, "Aku yang dulu bukanlah yang sekarang..........". Pasti lucu deh, terlebih saat-saat kebersamaan itu. Sejenak aku ingin mengenang masa lalu yang ku tutup rapat-rapat. Yang ingin ku lupakan, tak ingin ku kenang.. .. Dudu...

E l a n g

Gambar
Terlalu letih untuk mengenang bahwa kita pernah melewati dan telah melalui sebuah lorong dimana  waktu dan dirimu berperan sebagai tokoh utama. Menggunakan alur maju-mundur, kau coba menyambungkan sebab-akibat yang telah terjadi selang waktu beberapa tahun. Saat itu, usia gadis kecil, sulungmu beranjak lima belas tahun. Kau gambarkan banyak kata untuk melukis pelangi dan rajutan benang raja itu di kelopak mata asia miliknya. Kau tidak begitu saja membiarkannya menyatu, dengan sabar kau coba biarkan si kecil merajut sendiri rumpun warna agar dapat dipilihnya mana yang baik dan tidak. Tak ingin terbuang, selaksa peristiwa senja saat  aku terduduk manis di beranda bersama kedua adik dan dirinya, menikmati secangkir air bening tiada berwarna, ditemani sepiring kue bunga yang disajikan wanita pilihanmu. Tidak kutahu mengapa, aku tidak dapat berbohong untuk tidak mengenang masa itu, hadir dengan sendirinya dalam tiap kesempatan dimana aku termenung, mengingatmu. Wa...

INTRODUCTION about ...

Pukul 10.00 wita Rentetan kucing yang memang berkaki empat terus hilir mudik tanpa  henti. Menyusuri tiap lorong yang entah menikung, lurus, atau  bahkan berkelok. Sebagian sisi jalan berisi pepohonan dibarengi stiker-stiker, bergelantungan layaknya jemuran. Para pejalan kaki, bebas melenggangkan kaki tanpa perlu menengok kanan atau kiri. "Siapa mau menabrak? Berani. Ketemu polisi aja keringet jagung apalagi sampai menginap di bui. Coba saja tabrak saya, saya  tidak takut." Seorang wanita dengan tanpa beralas kaki sibuk berkoar-koar di tepi jalan. Pukul 09.00 wita Pemberhentian bus yang tak pernah sama sekali disinggahi oleh bus. Hanya diduduki para remaja atau pegawai juga pejalan kaki untuk sekedar beristirahat melepas lelah. Itu dulu! Kini, sepanjang kuperhatikan, tiap harinya akan kita saksikan bersama seorang lelaki paruh baya sibuk mengais tumpukan barang yang tak lagi dipakai, tepat di samping halte tersebut. Pakaian tak layak, postur tubuh yang tingg...

Yang Terakui, Memalukan!

"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru.  Pelukismu agung, siapa  gerangan? Pelangi-pelangi ciptaan  Tuhan." *** Di antara  denting piano dan senar gitar kita bernyanyi.  Berlaku layaknya  anak-anak, kita tengah mengeja  waktu yang tidak lagi  sedikit  mendampingi  hidup untuk  menjalani kehidupan.  Dalam  satu kurun waktu  yang pasti,  berbagai  polemik  yang memecah bingkai bibliografi akan kembali menyatu.  Kepingan yang tidak  utuh  akan  kembali utuh. Merangkainya dengan begitu telaten, Part 1 ...Sebagai  pribadi  yang menyukai exact,  segala tindak  yang akan dan  tengah mengalami  perencanaan akan kukalkulasikan  secara matang, sebaik mungkin.  Tidaklah  rumit,  aku hanya  butuh konsentrasi  penuh  agar  tidak  terjadi kesalahan. Hingga  kesalahan akibat...