Elang
untuk sebuah nama yang berpendar dalam relungku...
Kuteringat wajah seorang paruh baya, yang tengah duduk menanti kedatangan anak gadisnya kala senja menyapa. Santai, dia begitu menikmati pemandangan kota yang sangat asing baginya. Dengan angkutan roda empat juga sepeda motor, dan para pejalan kaki yang hilir mudik, ia begitu menyukainya, menurutku.
Sore itu, tiga hari yang lalu... Entah mengapa aku yang tak biasa mengabaikan, mencoba untuk mengabaikan ponsel yang telah sekian lama berdering. Aku sengaja, maaf. Terlalu rumit untuk menjelaskan semua.
Dia mengedarkan seluruh pandangan, kiri kanan kiri kanan, mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan gadis kecilnya. Sembari menanti, ponsel jadulnya mengusik jaringan untuk mencoba menghubungi seseorang. Yang tengah berada dirantau..
Segala menggulung kala senja langit semakin memerah dan oranye. Memamerkan kilau cerahnya, dan dari jauh si sulung segera berlari mencari bayang nyata yang tersenyum simpul, khas. Lelaki berseragam biru langit, lengkap dengan topi birunya, dan sepatu yang kurindu, 'lah lama takku lihat. Ayah...
Didekapnya, malu.. Haa, lama sudah aku tak mengecup tangan tuanya. Yang selalu mengais rezeki untuk kami, oh, ayah...
Lelaki tegar, tegas, dan disiplin. Bernetra Asia, dengan perawakan tinggi dan kebapak-an. Yah, dia ayahku yang selalu kusebut dalam potret. Entah bagaimana aku mendefinisikan segala tentangnya, terlalu banyak kata yang kubutuhkan untuk merangkai sajak indah tentangmu.
Sebelum ada yang menghabiskan waktuku, izinkan kukecup kembali tangan dan pipi rentamu, seraya kubisikkan terimakasih. Pada lelaki yang kucintai, juga wanita yang memperjuangkan nyawanya untukku...
Terimakasih, for all.
---1*10 April 2014*---
Kuteringat wajah seorang paruh baya, yang tengah duduk menanti kedatangan anak gadisnya kala senja menyapa. Santai, dia begitu menikmati pemandangan kota yang sangat asing baginya. Dengan angkutan roda empat juga sepeda motor, dan para pejalan kaki yang hilir mudik, ia begitu menyukainya, menurutku.
Sore itu, tiga hari yang lalu... Entah mengapa aku yang tak biasa mengabaikan, mencoba untuk mengabaikan ponsel yang telah sekian lama berdering. Aku sengaja, maaf. Terlalu rumit untuk menjelaskan semua.
Dia mengedarkan seluruh pandangan, kiri kanan kiri kanan, mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan gadis kecilnya. Sembari menanti, ponsel jadulnya mengusik jaringan untuk mencoba menghubungi seseorang. Yang tengah berada dirantau..
Segala menggulung kala senja langit semakin memerah dan oranye. Memamerkan kilau cerahnya, dan dari jauh si sulung segera berlari mencari bayang nyata yang tersenyum simpul, khas. Lelaki berseragam biru langit, lengkap dengan topi birunya, dan sepatu yang kurindu, 'lah lama takku lihat. Ayah...
Didekapnya, malu.. Haa, lama sudah aku tak mengecup tangan tuanya. Yang selalu mengais rezeki untuk kami, oh, ayah...
Lelaki tegar, tegas, dan disiplin. Bernetra Asia, dengan perawakan tinggi dan kebapak-an. Yah, dia ayahku yang selalu kusebut dalam potret. Entah bagaimana aku mendefinisikan segala tentangnya, terlalu banyak kata yang kubutuhkan untuk merangkai sajak indah tentangmu.
Sebelum ada yang menghabiskan waktuku, izinkan kukecup kembali tangan dan pipi rentamu, seraya kubisikkan terimakasih. Pada lelaki yang kucintai, juga wanita yang memperjuangkan nyawanya untukku...
Terimakasih, for all.
---1*10 April 2014*---
Komentar