Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Let It Go (2)

Meja itu dipenuhi tawa... Aku bisa menebak, pada akhirnya cerita ini sampai padamu. Cerita tentang segala hal yang kita pertentangkan selagi logis dan rasa tak satu. Aku bisa meramu, pada waktu yang jemu lihat tingkah kekanakkan dua, tiga, empat,..., sepuluh jiwa yang tandas dilindas masa. Seperti itukah? Tidak. Maaf, aku terlalu hiperbola. Lupakan aku, kembali pada saya: ...    Dia tidak ada. Pun di rumah, ladang, dan setapak sepanjang desa ibu dan bapak. Saya sudah berasa tidak memaksa diri berpikir keras untuk menyusulnya tapi kegugupannya buat hampir seluruh orang sekitar tambah resah.    April 2014; Saya akhirnya pulang membawa rindu yang menumpuk dalam almari. Separuh telah luruh dalam perjalanan. Kutandaskan dikaram kapal yang kulewati. Sisanya  masingmasing berdiam di beberapa tempat yang tidak kuketahui. Lelaki itu (lagi) menjemputku. Saya tidak perlu menunggu banyaknya orang yang lalu lalang. Begitu kapal sandar di dermaga, dengan kokoh langkah...

Pulang

Gambar
Pekerjaanku adalah menangkap cahaya. Menangkupnya yang jatuh dan papa dalam jemari. Pekerjaanku adalah menadah waktu. Mengitarinya untuk kubuai dalam catatan semu. Pekerjaanku adalah ... merindu. Ya, merindu. Bukan kamu, tapi Dia. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri. Tiada berkawan makhluk hidup. Dia memilih duduk memojok tanpa suara. Dering ponsel pun tiada. Dia benar-benar sendiri. Orangorang ketawa hi hi; melihatnya sendiri. Dia tetap diam. Kenyamanan menikmati desktop 29 inchi membuatnya tak bergeming. Bocah berlari, nyanyi,  dan terpelanting di depan tak disambutnya. Orangorang sibuk mengoceh bak menunggu ketel mendidih, ia masih mematung sesekali mengerjapkan mata. Terkadang menahan senyum. Orangorang lalang, pandangannya selalu awas tanpa merubah gerak tubuh. Orangorang pergi; dia masih sendiri. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Dia datang. Sendiri. Dua puluh tiga Oktober dua ribu lima belas: Duduknya kian g...

Selamat Datang, Oktober

Selamat datang, Oktober! Ada apa dengan Oktober? Tidak, tidak ada suatu spesial sekalipun. Lalu?  Ya, aku hanya bermaksud menyambutnya secara sederhana. Dengan cara sederhana, seperti air yang harus menjadi ricik, atau angin, atau api jelma abu, atau bahkan dengan menjelma siapapun. Ini kali Oktober tidak datang seorang diri. Dia menjadi begitu istimewa untuk dirinya. Seperti itu? Bisa jadi atau bahkan tidak. Lupakan! Atau Luapkan? Terserah. Tiga puluh hari sebelumnya dan sekian jam sebelum pukul ini, dirinya rebah dengan hujaman tiga puluh dentum ketidakpastian. Jarinya asyik mengetok meja rias dan mendandani bukunya dengan beribu kata. Menulis diari? Entahlah, yang kutahu dia sedang menulis. Tiga puluh hari sebelumnya di dadanya remuk sebuah kemantapan. Katanya, aku mungkin tidak seperti yang kau pikirkan tapi apa yang kau pikirkan tentangku tidaklah salah. Sebut saja aku, pikirkan saja aku, dan katai aku dengan anggapan lumrahmu yang semua orang yakini itu benar: Aku tidak a...