Yang terucap hilang, yang tertulis abadi

Pemahaman tentang arti hidup yang sebenarnya tidak akan didapat hanya dengan membaca, kawan. Ingat itu! Keluarlah dari persembunyian, hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya, buatlah dirimu layaknya seorang pengelana sejati. Hidup bagai pengembara itu sungguh menyenangkan, dan bukankah dalam suatu hadist shahih telah dijelaskan mengenai hidup laksana pengembara. Juga tentang waktu. Kau hanya memperlakukannya seperti pedang tanpa mengambil hikmah nyata dari pedang itu. Kau mempelajarinya secara tersurat bukan tersirat.

Cobalah berproses. Menggali lebih jauh lagi tentang arti hidup dan kehidupan. Pekalah terhadap sekitar dan jangan pernah menjadikan kegagalan sebagai sebuah bumerang. Hei, bukankah kau yang telah menciptakan proses "gagal" itu? Nikmatilah. Pencapaian terindah adalah ketika kau dengan telaten mengolah waktu yang kau miliki.

Ingat, bahwa kau dilahirkan pada dimensi ruang. Buatlah hidup menjadi lebih bermakna dan kau akan bangga atas segala pencapaian yang kau raih, seperti memetik bintang di langit atau bahkan kau berhasil merajai waktu untuk meminang melati. Juga pagelaran Rama Shinta di bawah purnama Prambanan. Semua eksotis, kawan. Kita cipta bersama jemari yang tumpul dan pena bermata tajam lalu tergores pada kanvas. Jadilah, sebuah riwayat perjalanan hidup: Buku.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a.: "Setiap penulis akan mati. Karyanyalah yang abadi. Maka tulislah sesuatu yang bermanfaat bagimu di akhirat nanti."

Kendari, 31 Mei 2014 @1:23pm

‪#‎D‬.A.S

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a