Yang Terakui, Memalukan!

"Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru.  Pelukismu agung, siapa  gerangan? Pelangi-pelangi ciptaan  Tuhan."

***
Di antara  denting piano dan senar gitar kita bernyanyi.  Berlaku layaknya  anak-anak, kita tengah mengeja  waktu yang tidak lagi  sedikit  mendampingi  hidup untuk  menjalani kehidupan.  Dalam  satu kurun waktu  yang pasti,  berbagai  polemik  yang memecah bingkai bibliografi akan kembali menyatu.  Kepingan yang tidak  utuh  akan  kembali utuh. Merangkainya dengan begitu telaten,

Part 1
...Sebagai  pribadi  yang menyukai exact,  segala tindak  yang akan dan  tengah mengalami  perencanaan akan kukalkulasikan  secara matang, sebaik mungkin.  Tidaklah  rumit,  aku hanya  butuh konsentrasi  penuh  agar  tidak  terjadi kesalahan. Hingga  kesalahan akibat  buyarnya konsentrasi akhirnya menyapa  dalam diamnya.

Hidup sebagai  orang  yang ingi tahu adalah sebuah kewajaran. Tiada yang dapat melarangnya .  Hanya saja akuterlalu ingin tahu untuk hal-hal yang  tidak seharusnya kutahu. Layaknya insect aku terus  beterbangan mencari sesuatu yang ingin  kuketahui.

"Lang, seperti  hujan, yang selalu ampuh membuat kita duduk berjam-jam melakukan hal  yang sama dengan  tingkah yang sama.  Selalu seperti itu, Lang."
"Kau tidak menyukainya?"
"Lang," lamat-lamat kutatap senyum yang  tersungging di antara ke dua belah labialmu, "kau tahu,  aku tidak menyukai hujan!"
"Mengapa?"
"Sebab kau adalah hujan. Menghujat hatiku dengan rinaimu, kau  tahu? Dalam diammu kau taklukkan aku, terlebih saat kau dengan sengaja berganti peran dengan  pelangi dalam mengisi kekosongan diariku."  ucapku lirih.

Semburat kemerahan semakin nampak.  Mentari perlahan  mulai menekuni tangga menuju dunianya. Para bidadari *yang tak pernah terlihat  secara tibba-tiba datang  tersenyum dan mengerling nakal, "Tak  usah resah. Kau adalag sinar untuk Lang. Sinar itu kau, Nar."

***

Namaku Sinar. Seorang perempuan pengedar daun diameter 3cm dengan panjang 9cm. Besar dan hidup di dunia fana  membuatku  bahagia. Kau tahu? Aku  bebas. Hei, bebas. Mereka  di sana adalah kawanku. Ada  Bang Roi, Iki, Erta, dan Suga.  Mereka adalah karibku. Kami berlima dan aku, seorang diri wanita. Percaya? Terserah.

"Nar, kau bawa?"
"Tidak, Bang. Untuk minggu ini, aku berhenti!"tatapku.
"Kenapa? Jangan bilang kau takut pada seragam kopi susu itu!" liciknya.
"Hahhaha, santai Bang. Hidup  ini, kekuasaan liberal, Bro," kataku sembari menghembuskan asap  Tuhan 9cm yang kebanyakan  orang tidak tahu betapa nikmatnya Tuhan ini.
"Kau berlagak seperti orang bodoh," kesal dia melihat tingkahku yang cuek, "keluarkan, aku butuh."

Empat  sekawan  itu tidak menyadari kesudutanku. Terpuruk?  Yah.
Untuk saat ini, aku  tidak dapat  melakukan apapun. Hanya  diam. Selalu  diam. Ah.  Aku tidak  percaya  dengan  perasaanku saat ini. Mungkinkah? Sudahlah.

***

Malam ini, kotaku kembali diguyur hujan. Selaksa sendu yang membekas dalam jiwa.  Aku, lagi patah  hati. Eh, konyol. Haha. Tidak mungkin seorang gadis  tomboi, pecinta arak,  gila judi, dan produsen daun setan jatuh cinta. Terlebih padanya, sosok yang tak sengaja menangkap basah  transaksiku di penghujung  kota. Di bawah rembulan,  bersama motor bututnya, baju koko, dan peci  dia menyapa.
"Assalamualaikum."

Pojok Ijo, 3:20 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a