Yang berjatuhan, terhempas!
Sebab aku takut jikalau mereka tahu tentang permohonan ampun akan
kemerdekaan; ingin memerdekakan diri dari penjajahan di tanah milik-Nya.
Sebab tiada lagi pengampunan terbaik selain ampun dari-Nya. Sebab
takut melebihi diri-Nya, kuasa atas hak di negerinya terjamah sekelompok
kawanan usil.
***
Diam bukan lagi
suatu frasa yang asing untuk dikemukakan di era seperti sekarang ini.
Saat beberapa tempat diantaranya tengah berkoar mengenai mubarak,
tentang indahnya bulan yang kan menyambut fitri, ada suatu tempat
tengah beri'tikaf, meruang pada sunyi. Berkawan mesra pada induk
kegelapan, berkawan cahya pada tiap waktu yang dinanti. Itu sulit
dicerna.
Derai-derai tawa tak lagi teruntai,
tangis-tangis bergelimang semakin nampak. Entah pada siapa, apa, dan
bagaimana mereka mengungkap rasa selain melalui sebuah potret bisu.
Bibir yang terkatup, bahkan netra menyipit, atau uluran tangan mengulur
waktu memohon. Pinta-pinta yang terisolir bagai bantuan seusai tsunami,
banjir, maupun gempa bumi juga kebakaran melanda. Terkungkung dalam
dunia yang bebas, memilih untuk mati secara perlahan juga perlahan
hidup untuk mati.
Tidak ada lagi susunan alif, ba, ta
yang menyusuri tiap tikungan. Lorong-lorong sepanjang beberapa hasta
menjadi amuk tiada terkira. Surga semakin menjauh rasanya. Negeri itu
tidak mati namun dimatikan. Suara-suara laras panjang menghiasi
awang-awang, pekikan ibu yang takut pada balitanya semakin melengking.
Jika bertambah, tamatlah.
"Furqon, jangan ke sana. Berbahaya."
"Iya, Bu."
Wanita itu segera berlari sebentar menuju dapur, membikin sebotol susu
untuk bayi mungilnya. Tergesa-gesa ia menuangkan bubuk putih,
menyiramnya pun tak beraturan hingga panas air menghinggapi tangan
halusnya.
"Furqon, kamu dimana?" dicarinya Furqon, tidak
didapatinya wajah sulung manis itu. Seketika terdengar bunyi lirih yang
terkontaminasi pita suara lelaki.
Duar, dorrr... Fatimah
segera menuju keluar, berlari dengan menggendong si balita. Matanya tak
lagi sempurna melihat. Namun, kakinya masih gesit untuk menahan derap
langkah sehasta.
"Furqon!" teriaknya, "Hentikan. Bunuh aku,
jangan dia!" Begitu histeris. Lihatlah, yang tengah tersenyum penuh
kemenangan. Darah segar bersemburan, netra lelaki mungil itu terkatup
rapat, setelah sebelumnyam mengucapkan sepatah kata.
"Ana mustaq ilaik, Umi."
Langit terasa tiada, menembus Arsy-Nya. Awan berubah pekat, debu
beterbangan kesana kemari. Wanita itu duduk bersimpuh di samping mayat
seorang lelaki: Furqon, anak lelakinya telah tiada. Tewas tertembak pria
berseragam khas.
Tak lama, mobil yang dikendarai para
lelaki berseragam itu berputar balik menuju arahnya. Mengucapkan
hello, lalu kembali meluruskan sebuah mistar panjang berisi beberapa
bulir tabung berukuran 4 cm dengan diameter 0,5 cm. Dunia ini kejam.
Diambilnya orang yang kucintai. Sunyi.
"Dorr. Good bye, Madam." teriak netra biru itu.
"Asy-hadu all--a i---laa--ha ill-lallahu waa---asy---ha---duu an---na mu---hamm-madah ra-------su---lull-ah....."
Hujan turun, rinainya menebas persendian. Wajah wanita itu kaku,
bibirnya memucat, semakin di dekapnya wajah putra yang mati tertembak
beberapa waktu lalu. Tak jauh, sekitar 5 hasta darinya, seorang bayi
tertawa. Hingga kini, peristiwa yang sama terus berulang tanpa
kepastian berapa saudara yang pergi berpulang menghadap-Nya.
Kejam, apanya yang kejam. Biarlah semua berkata kejam. Hanya mengucap,
melihat, dan merasa. Sempurna, rasa yang tercipta semakin menusuk.
Nafas beribu nyawa tidak lagi sanggup menahan sakit.
Duhai Dzat Yang Maha Pengampun, ampuni dosa mereka. Tempatkan mereka di
sisimu, sebagai hamba terbaik. Syahid karena-Mu, hidup untuk-Mu, dan
berjuang untuk menegakkan risalah nabi-Mu.
"Ya Rabb kami, beri
ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu
dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau
Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."(QS. 59: 10)

Komentar