Komedi Putar (Bapak) di Penghujung Senja

SATU-satu aksara meluncur dari labial dengan posisi tepat mengenai tanah. Tidak terjungkal sih, hanya saja landas pacunya sedikit licin hingga membuatnya tergelincir. Pagi buta dengan kabut dan abu yang cukup mengganggu pernapasan. Bunyi klakson mobil dan truk saling taruhan: siapa yang paling besar bunyinya. Pedagang asongan belum tampak muncul. Kapal penumpang kapasitas 150 orang siap berlayar. Ada yang menggelitik untuk dikomentari di hari empunya November kali ini.

Kamis lalu, beberapa sebelum menerima upah atas hasil kerjanya, bapak membuat janji untuk sesegera mungkin membelikan kami tipi. Tidak banyak kata yang terlontar. "Insya Allah, minggu depan kita tidak usah lagi nonton di seberang. Bapak punya rezeki yang cukup untuk membeli perabot itu." Sontak kami bersorak girang. Entah karena girang sebab akan memiliki tipi atau girang karena kebebasan bermain akan dikurangi seiring keberadaan calon benda elektronik satu-satunya di astana senja.

________000_________________

Inilah drama serial terbaru milik bumi di sepetak jazirah bernama zebra khatulistiwa. Seorang kawan baruku, sebut saja namanya sekuen. Jemarinya lincah menggerakkan mata pena  untuk tetap setia mengukir aksara di sebilah papan, selembar kertas, atau pada tanah yang dipijaknya. Kagum dan tertarik adalah salah satu hal mengapa aku ingin selalu berada di dekatnya. Kepekaan yang tidak kumiliki dimilikinya, tetapi untuk hari ini sepertinya dia terhuyung pada sudut yang tak tepat.

Siluet-siluet dan origami buatannya terpampang jelas di depan kamar berukuran 3x4 m. Bukan hanya itu, hamparan kertas beraneka warna pun tak luput dari pandangan bola mata. Menakjubkan. Dia mengabdikan dirinya dalam dunia yang terdengar sulit untuk dijalani dengan baik dan benar. Tetapi, tetap saja dia abadi dalam sejarah hidupnya.

Kun fayakun. Bumi tetap berwarna biru. Kemarau masih setia. Polusi menjadi momok bagi pengguna jalan. Bayang semu, hakiki. Suatu hal ingin saya sampaikan: berlatar belakang pribumi dan kalangan bawah, juga seantero kisi-kisi uan anak sekolahan (mataku sembab, kawan). Lelah kuamati layar tipi hitam putih yang sibuk mengorasikan pendapat(nya) tentang titik jenuh di kuadran berbeda.

Senja yang matang. Saya menarik pola linier, mengamati. Hembus dan resapi. Berbicara tentang ci(n)ta dengan sejuta pokok ken(e)gerian, kukalkulasikan rasa tanpa hasil. Yah, mungkin para punggawa tengah mengaplikasikan teori pascal dalam kenyataan yang terkadang berbanding terbalik dengan hal fana.

_____________000______________________________

Saya akhirnya tertawa lepas. Menyaksikan Indonesia Raya dengan background yang cukup menggugah. Hanya saja, senja terlampau lama menyimpan kenangan. Padahal, usiaku tak lagi panjang.

"Pak, terimakasih. Satu-satu opini dan alibi yang selalu kugunakan terbantahkan berkatmu. Pak, adakah hari esok kita dapat bercengkerama lagi seperti dahulu? Dalam kehangatan bukan cengkeraman  waktu yang membatasi gerak langkahku."


_____________000______________________________

"Pak, saya ingin bermain komedi putar di malam minggu dengan setumpuk lolli pop mengisi tas miniku. Berputar mengelilingi dan menatap dunia dari atas sana, arah jam dua belas, Pak."


Kendari, 3 November 2014
Dy


Pojok Ijo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a