Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Harga sebuah Pengakuan (2)

Gambar
// selama itu aku akan selalu mengingatmu // // kapan lagi ku tulis untukmu tulisantulisan indahku yang dulu // ... //mungkinkah kau kan kembali lagi // //menemaniku menulis lagi // // puisi terindahku hanya untukmu // (Jikustik - Puisi) ***  Seperti langit runtuh, ketika itu datang. Di alam bawah sadar, harapanharapan bergelayut. Menerka. Mencari. Meringis. Mengemis. Seperti langit berubahubah. Di sudut pandang yang basah, ideologi berlepas. Hempas. Terampas. Seperti langit, biru. Di cokelat mata Asia, hati berlarian. Hati hati. Perlahan, pasti. Tak ingin mati. Menanti. atau Dinanti? --- Kelak, ketika akan bercerita. Perihal seorang anak bernama Dinanti. Yang kehadirannya teramat dinanti. Kemudian malammalam tetap berlalu. dengan sebongkah  keramat melamat lambat menuju langit. Meluncurkan beribu pias. Mencomot mantra tanpa melihat tetapi tepat. Lalu mengarah menuju Arsy menjelma mimpi. maka dengan ini mengakui, memahami arti hadirmu K...

Harga Sebuah Pengakuan (1)

Gambar
Gemetar. Takut. Setidaknya ini yang saya rasakan sejak semalam. Mencoba menghibur diri dengan berbagai hal termasuk menulis. Pikiran tidak fokus dan persendian semakin payah. Saya perlu banyak penghapus pagi ini. Tanpa alasan jelas, ketakutan semakin besar. Mata sembab tanpa tangis. Semalam, saya memulai menulis lagi. Memegang pena dan kertas, tetapi tulisan tetap tak berubah lebih baik. Mencong kanan mencong kiri. Mengakali menggunakan smartphone juga leppy, sama saja. Tidak membuahkan hasil. Semakin saya coba, getarannya semakin kuat. Menangis? Ingin tapi tidak bisa. Sepagi ini dengan tulisan cengeng. Sebab saya tidak tahu. Percakapan percakapan yang memancing emosi berlebih padahal sejak siang kemarin saya tidak mengeluarkan sepatah katapun selain memanggil Obe... (kucing di asrama). Ponsel kerapkali jatuh. Kelingking keseringan mampir di tombol backspace. Ada apa? ***  Semakin ke atas, tekanan udara semakin ... sehingga membutuhkan persiapan matang. Semakin...

Save Our Generation (3)

Gambar
Tulisan ini dibuat untuk sekadar sharing atas ilmu yang didapatkan saat mengikuti sebuah kajian online about parenting. Denger kata parenting biasa-biasa aja, ya, 'kan? Namun, bagi yang sensi-tif pasti akan memertanyakan, kok gitu? Kan kamu...? Okay, i'm single and whats the problem? Tidak menjadi suatu permasalahan besar mendengar, membaca terlebih mengikuti kajian menyangkut hal tersebut sebab pada akhirnya kita akan dituntut untuk menjadi. Bukankah belajar untuk menjadi itu di mulai dari sekarang agar dimudahkan ke depannya?  *** Ketika mengikuti materi, saya hanya membayangkan betapa repotnya kedua orang tua saya mengasuh saya untuk pertama kali. Sebagai sulung saat itu, pasti banyak kerepotan tak terduga yang muncul. Entah apa saja yang terjadi saat itu, sampai sekarang saya masih enggan menanyakannya. Kemudian disusul kedua adik saya yang menggemaskan. Tiga putri kecil pelengkap keluarga (yang sekarang tinggi, cerdas, dan cantiknya melebihi si sulung... h...

Titik-titik yang Bertahan

Gambar
Setiap tempat punya cerita. Baik buruh. Bagus jelek. Ganteng cantik. Sederhana. Mewah. Ukuran tertentu menjadikan seseorang memiliki tolak ukur/standar kapasitas yang berbeda.   Kita punya kenangan; yang kita taruh di tempat berbeda. Kita punya perasaan; yang bercampur logika. Kita memuja waktu yang enggan menari akrab di hadapan. Kita saling memendam angan lalu beradu dalam pikiran. Kita pernah berbagi; kemudian saling mengisi. Bersama.   Sabtu. Hari yang biasa saja. Dimana kita menyepakati sebuah senja untuk kita. Kita. Kita mengisi kekosongan  waktu dan hati dengan melingkar. Menjadi titik titik kecil pelengkap kuadran. Melengkapi puzzle yang berceceran juga bergantian menjadi puzzle aneka rupa. Masing kita memiliki warna. Sebab hidup adalah tentang mewarnai. Bagaimana kita menjadi seorang yang miliki warnawarna lengkap (tak hanya hitam dan putih).   Sabtu. Hari yang biasa saja. Kita tak miliki patokan khusus untuk mengikat kata. Hanya sebuah tatapa...

November Newsletter

Gambar
Apa kabar? Di sepotong pagi berusia 7953 hari, seorang anak duduk menerka kisah yang akan datang. Tidak ada harapan pasti untuk masa yang telah terlewati tetapi masih ada untuk masa depan. Seorang anak yang gemas memamerkan gigi kelinci di usia 1825 hari.  Aktif berbicara di usia 370 hari. Aktif berlarian di saat yang bersamaan. Tidak hanya berlari melainkan gesit memanjati tiap senti kusen. Dan di 1700-an hari hingga kini tetap sedia mempertahankan rutinitas baca tulis. Seorang anak yang bahkan di usianya telah mampu melafalkan juga mengingat perkalian 1-10. Anak yang entah bagaimana kemudian akan diceritakan. Entah sebagai apa dia nantinya.  Dia masih meraba bayang. Mengelus permukaan yang halus, ringan, sesekali berbuih, pun dapat menenggelamkan. Tak diketahuinya pun, akan ada apa di masa yang akan datang. Dia masih sibuk menghitung usia. Mencari keganjilan keganjilan untuk kemudian digenapkan. Dia sementara menyepi. Mengamat bayang. Mengingat kata. ...

Sepotong Pagi dan Sebuah Sapa

Gambar
Apa kabar? Pagi ini, kawanan burung lesu berkicau hanya suara ponsel berisi nada-nada campuran klasik, pop, dan arabian. Pagi ini, kawanan pepohonan tak seribut biasa. Tak ada bau embun juga kabar(mu). Pagi ini. *** Percayalah. Beli eve. Di tiap kata yang kamu tuliskan pagi i ni adalah apa yang kamu lakukan dahulu. Saya percaya, jangan sekali kali melupakan se jarah. Maka tengok se jenak ke belakang, barangka li ada jejak yang kamu tinggalkan. Dan, kini kamu me rasakannya. Merasa kan hingga kamu mulai pongah, jen uh, dan lelah dengan sendiri. Tidak menamp ik . Saya boleh mengajukan tanya, waktuwaktu yang telah terlewati itu kamu k emana saja? Hingga apa yang menjadi kesah tak kamu ketahui. Ditutupinya segala hal yang membuat kamu tidak tampak hingga kamu tetap bersinar . Ditutupinya nodanoda itu. Jangan memungkiri. Ada perasaan yang sepertinya terse mbunyi. Boleh jadi, kep ribadian yang berbeda. Ketidak sukaan menengok ke bela kang juga belajar da ri mas...