Bila Tak Sempa Terucap
Apakah aku termasuk orang yang memiliki hati? Terlalu lama kutinggalkan beranda ini hingga berdebu di tiap sisinya. Kolam yang dahulu jernih pun kini tiada lagi nampak, kawanan koi yang berlarian kesana-kemari tak lagi ada. Aroma ranum rambutan dan mangga arum manis tiada lagi menusuk, bahka durian yang harusnya kini berbunga, tidak terlihat pucuk jemari putihnya.
Mentari menyongsong, berlarian, kian tinggi, hingga mengena ubun-ubun. Kepalaku serasa pecah, mampukah kuhadapi alur hidup ini seorang diri? Berproses dalam kesendirian. Menjadi mandiri dalam kesendirian, begitu menggugah semangat. Tidak!
Hidup adalah sebuah perjalanan, yang mengharuskan kebutaan itu dihilangkan. Namun buta akan hati, mata, dan pikiran, serta pendengaran telah lumpuh sejak lalu. Maafkan aku yang keras kepala.
"Lang, kapan pulang?"
"Besok. Tunggulah, akan kukabari. Tak usah merisaukan, lelaki." Kau berucap begitu mudah, anginkah diri ini yang menginginkan sentakan kumbang?
"Baiklah." Aku akan selalu menunggu bianglala yang berputar di tengah arena, yang kini mainkan bersama dan kau tertawa lepas, bahagia. Aku menemukan senyummu, Lang.
Aku hanya ingin menyampaikan, masak tak lama lagi. sedang kita bertaut jemari pun tak pernah. menatapmu dari kejauhan itu sudah lebih dari cukup, Lang. Kau tahu? Mereka tengah menerka sesuatu tentangmu. Bahkan aku pun ikut menerka, bagai kuis, Lang.
Hidup ini misteri tak terpecahkan. Aku jatuh dan kejatuhan itu meminta dengan suara gagah, "Bangkit". Menatap suram pada wajah langit yang menatapku dingin, hendak memuntahkan buliran bening.
Hidup ini, mimpi. Titik yang terpisah, saling berpendar pada koridor yang berbeda. Bermain dalam lorong tanpa memakai alas apapun. Hidup begitu, Lang. Tidak sempurna, hanya mencoba mendekati kesempurnaan, itulah.
"Di, minggu, jam lima sore, tempat biasa."
"Ngapain?"
"Ngobrol. Kamu tidak kangen untuk mendengar guyonanku pada kembang di sana?"
"Entahlah. Aku ingin sendiri, Lang." Kau tahu, sakit. Perih tak berbayar, gratis kau beri ditambah senyum hangat yang cipta di antara bibirmu.
Dua juni dua puluh empat belas, kita saling menatap dari kejauhan dan kau tersenyum, melangkah mendekat, mendekap angan. Aku merindukan Lang yang dulu. Hingga aku tak lagi dapat menatap dan menata waktu untuk kelangsungan hidup di bola biru ini lebih lama. Kau lupa, Lang. Janji-janji yang tak pernah kau tepati, kini menagih. Dan aku kesakitan, tertebas pedang waktu yang mengiris sembilu. Sekali lagi, "Lang, perih."
Senyum itu, buatku jatuh dan lumpuh untuk beberapa saat.
Dy, Kendari 030614
Mentari menyongsong, berlarian, kian tinggi, hingga mengena ubun-ubun. Kepalaku serasa pecah, mampukah kuhadapi alur hidup ini seorang diri? Berproses dalam kesendirian. Menjadi mandiri dalam kesendirian, begitu menggugah semangat. Tidak!
Hidup adalah sebuah perjalanan, yang mengharuskan kebutaan itu dihilangkan. Namun buta akan hati, mata, dan pikiran, serta pendengaran telah lumpuh sejak lalu. Maafkan aku yang keras kepala.
"Lang, kapan pulang?"
"Besok. Tunggulah, akan kukabari. Tak usah merisaukan, lelaki." Kau berucap begitu mudah, anginkah diri ini yang menginginkan sentakan kumbang?
"Baiklah." Aku akan selalu menunggu bianglala yang berputar di tengah arena, yang kini mainkan bersama dan kau tertawa lepas, bahagia. Aku menemukan senyummu, Lang.
Aku hanya ingin menyampaikan, masak tak lama lagi. sedang kita bertaut jemari pun tak pernah. menatapmu dari kejauhan itu sudah lebih dari cukup, Lang. Kau tahu? Mereka tengah menerka sesuatu tentangmu. Bahkan aku pun ikut menerka, bagai kuis, Lang.
Hidup ini misteri tak terpecahkan. Aku jatuh dan kejatuhan itu meminta dengan suara gagah, "Bangkit". Menatap suram pada wajah langit yang menatapku dingin, hendak memuntahkan buliran bening.
Hidup ini, mimpi. Titik yang terpisah, saling berpendar pada koridor yang berbeda. Bermain dalam lorong tanpa memakai alas apapun. Hidup begitu, Lang. Tidak sempurna, hanya mencoba mendekati kesempurnaan, itulah.
"Di, minggu, jam lima sore, tempat biasa."
"Ngapain?"
"Ngobrol. Kamu tidak kangen untuk mendengar guyonanku pada kembang di sana?"
"Entahlah. Aku ingin sendiri, Lang." Kau tahu, sakit. Perih tak berbayar, gratis kau beri ditambah senyum hangat yang cipta di antara bibirmu.
Dua juni dua puluh empat belas, kita saling menatap dari kejauhan dan kau tersenyum, melangkah mendekat, mendekap angan. Aku merindukan Lang yang dulu. Hingga aku tak lagi dapat menatap dan menata waktu untuk kelangsungan hidup di bola biru ini lebih lama. Kau lupa, Lang. Janji-janji yang tak pernah kau tepati, kini menagih. Dan aku kesakitan, tertebas pedang waktu yang mengiris sembilu. Sekali lagi, "Lang, perih."
Senyum itu, buatku jatuh dan lumpuh untuk beberapa saat.
Dy, Kendari 030614
Komentar