Sepanjang waktu yang merekam jejak, kita akan menjadi peretas mimpi hingga akhir masa penantian. Apa yang tengah kulawan? Di tengah taman berbau kasturi, aroma yang begitu dielukan kita berjibaku melawan kesendirian dan menyelami iman. Bukankah sepi adalah kenikmatan? Dimana diri berjumpa bersama Yang Haq. Di sini, perjuangan masih terus berlanjut. Tapi tubuh rubuh berselimut lusuh. Satusatu alasan untuk tinggal mulai berubah menjadi perkara yang telah lama memeram. Di sini, kuingat kembali katakata yang menjelma sukaduka. Bersama kita menyulam gaun terbaik. Namun, tubuh api yang menyalanyala mengundang nyalakan anjing. Gigigigi runcing tajam siap menakuti. Kemudian, hanya suara jangkrik dan panggilan menuju rumahnya. Gaung bersahutan seperti bulir keringat yang berjatuhan membasahi topeng. Kudengar pula naskah kabhanti yang pernah kuhapal satu baitnya terapal merdu. Inaina bersenandung. Dengan inikah mesti aku mesra dengan nuansa kekanakkan? S...