Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

That's the Way

"Masa usia jangan disiakan sebab ia tak 'kan kembali. ..."     Itulah kalimat yang sempat teringat. Kumpulan kata yang terus menjadi bayangku. Entah mengapa, entah siapa. Dalam senandung langkah, semua terurai begitu saja. Sekikis duka ditambah sepercik suka, ada harapan dalam pengorbanan , so simple.      Di berbagai kesempatan, satu dua kerikil menyempatkan mampir. Si sandal jepit tidak pernah sekalipun terdengar ber-ah-ih-uh. Hidup mungkin seperti itu, tidak selalu susah dan sesusah serta semudah yang kita bayangkan.    Beberapa kawan asal nyeletuk, "Kamu kok betah di situ? Perasaan gak ada perubahan. Netap deh!" Bersama angin, tanya itu telak terjawab, "Damai!" Namun, ada alasan lain. Kembali pada teori sandal jepit tadi, mau sandal jepit kelas maribu, sapuluh ribu, duapuluh ribu, hingga tusan ribu tak mempengaruhi fungsi sandal tersebut sebagai penjajah tanah, pemijak rasa, dan penadah rasa. Tingkat kasta penghasil kesejahtera...

Dialog Hati

"Kau dan aku selamanya. Memecah kebekuan menjadi cair. Padatan air yang melunak, semoga."      Tidak ada yang tahu kemana kaki akan melangkah, tangan akan bergerak, bibir akan melunak, dan hati bertaut. Semua masih berdiam di koridor masing-masing. Kita, kukatakan "kita" memutuskan waktu yang terjelajah entah sampai ambang mana tiada menahu kecuali kepastian akan tujuan. a: "Kamu penulis, ya? Tulisan kamu bagus-bagus. Aku suka!" b: "Bukan, aku bukan penulis seperti yang kau kira." a: "Lantas? Siapa yang menulis itu di dindingmu?" b: "Jemariku!" a: "Nah, lo! Berarti kamu 'kan?" b: "Bukan!" ... a: "Maaf, bukan aku. Kamu boleh mengatakan aku pandai menulis. Kau menikmatinya tapi aku tidak. Aku merasa gagal. Gagal dalam menuliskan nama-Nya di tiap langkahku!" ***       Lewat proses seperti inilah seorang bocah sepertiku berkembang. Tidak dengan menjadi seorang introv...

Absurd

“Hidup ini hanya sekali, maka jadikanlah yang sekali ini menjadi bermakna, tinggalkanlah jejak agar kau dikenang"     19 November 2015 ... Tidak banyak yang dapat saya lakukan di tanggal istimewa ini. Saya kebanyakan merenung dan berdiam seminggu terakhir. Satu diantara sekian banyak perenungan yang saya lakukan, pertengahan November selalu menjadi aksi tangis besar-besaran untuk saya.     Biasanya, saya akan menjadi seorang bocah riang. Sibuk celoteh ke sana ke sini, mencari kesibukan: apapun itu. But, tidak untuk pekan ini. Saya benar-benar drop dari situasi-situasi sebelumnya. Pertengahan tahun lalu, saya benar-benar terhenyak dengan aksi partner saya dalam mengemban sebuah misi. Boleh dikatakan saya down.     Dia, mudahnya mengatakan ini dan itu sementara saya dibuat tidak mengucapkan sepatah katapun. Sembari dia sibuk berceloteh, saya fokuskan berpikir antara hati dan logika. Tidak sulit. Saya sudah biasa dan harus biasa dalam hal mult...

Lelaki November

Titik.

Katamu, tak usah meracik kata merupa bumbu penganan lezat sebab se-njelimet- apapun kalimat itu, kita tetap menyebutnya rindu, bukan? ... sebab mengalir darahmu dalam tubuhku. ... sebab menyatu darahmu; darahku. ... sebab merasukmu ialah aku. Terimakasih. ______________________________________________________________________________________-- dy. Kendari, 13 Nov 2015. 11:36pm

Let It Go (3)

Sepuluh mata yang terbenam di ufuk barat adalah waktu yang kucinta dipenghujung waktu. Sepuluh nafas yang terdesah di ujung resah adalah rindu yang kutanam dalam. Sepuluh peluh yang meluap di akhir kata adalah pertahanan terakhir. Sepuluh tambah dua fonem yang terucap adalah a-k-u s-a-y-a-ng k-a-m-u ........................................... CUKUP ........................................... Wajah november mengembara ini kali. Cari air. Cari darah. Cari kata. Cari curi cara. Segala menjadi halal. Adakah kewajiban mencinta dengan menyederhanakan suatu hal? Pagi tadi, orangorang berkerumun di suatu ruang; ceritakan kamu, dia, dan kami (tentu). Saya tidak terlalu paham tentang dimensi ruang yang mereka cakapkan. Terkadang saya mengangguk setuju jika sepaham. Menggelengkan kepala tanda kekonyolan. Senyum tipis menertawakan atau diam tanpa kata menjadi pemerhati + peninjau terbaik. Mungkin ini efek dari tidak nyenyaknya tidur semalam. Bukan tentang rindu tapi ini tentang masa depan(g)...