Bogor: Hujan, Pulang, dan Ruang (1)
Alhamdulillah alaa kulli hal Purnama malam itu menyambut dengan girang. Oranye dan bundar utuh. Terduduk dan mengamati sekitar tanpa membutuhkan kata lisan selain adz-Dzikr, cukup untuk menjadi penikmat kenikmatan-Nya. Banyak jalan baru yang terlewati. Tanpa perlu dihapal namanya, ejaan kata yang tersemat lebih untuk mengingat. Dan, sesuatu yang bulat berwarna oranye itu terus mengikuti. Dia bukan baju kesebelasan timnas Negeri Kincir Angin yang sempat menjajah bangsa penghasil rempah selama 350th menurut sejarah. Dia bukan embrio dari telur bebek pula. Atau bola pingpong. Tiap kelokan dia terus mengamati. Mengikuti jejakjejak jalan. Berotasi. Ada hal yang harus terucap kali itu, tanpa perlu bergumam. Semakin banyak gedung bertingkat terlewati, dia makin cantik terlihat. Aku menyukainya dan well, kameraku tak baik mempersunting. Maka dg bijak, indera penglihatan dan otakku berkompromi untuk menaruhnya sebagai ingatan. Aku menaruhnya di satu tempat. ... ...