Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Bogor: Hujan, Pulang, dan Ruang (1)

Alhamdulillah alaa kulli hal Purnama malam itu menyambut dengan girang. Oranye dan bundar utuh. Terduduk dan mengamati sekitar tanpa membutuhkan kata lisan selain adz-Dzikr, cukup untuk menjadi penikmat kenikmatan-Nya. Banyak jalan baru yang terlewati. Tanpa perlu dihapal namanya, ejaan kata yang tersemat lebih untuk mengingat. Dan, sesuatu yang bulat berwarna oranye itu terus mengikuti. Dia bukan baju kesebelasan timnas Negeri Kincir Angin yang sempat menjajah bangsa penghasil rempah selama 350th menurut sejarah. Dia bukan embrio dari telur bebek pula. Atau bola pingpong. Tiap kelokan dia terus mengamati. Mengikuti jejakjejak jalan. Berotasi. Ada hal yang harus terucap kali itu, tanpa perlu bergumam. Semakin banyak gedung bertingkat terlewati, dia makin cantik terlihat. Aku menyukainya dan well, kameraku tak baik mempersunting. Maka dg bijak, indera penglihatan dan otakku berkompromi untuk menaruhnya sebagai ingatan. Aku menaruhnya di satu tempat.  ... ...

Iqra' dan Qalam; untuk Insan.

Ramadan tak melulu tentang estafet kita perihal amal ma'ruf nahi munkar. Seperti, berlomba ke masjid, mengkhatamkan alqur'an, dan berburu ta'jil. Ada hal lain yang kerapkali terlupakan. Bagai terbawa bah, meluap begitu saja. Hilang. Siapa dia? Eh, atau apa itu? Cobalah menebak; kuis. Perburuan masing jiwa telah mengena garis kesekian miliknya. Seorang pemburu akhirat pun begitu. Banyak hal namun kerapkali yang kecil itulah yang menghilang. Dalam keterampilan berbahasa, terdapat 4 keterampilan. Sehari-hari, keempatnya amat berkaitan. Jika dalam biologi, mereka menyebutnya simbiosis. Nah, menyimak berbicara membaca, and the last menulis. Yap, menulis menggenapi keempatnya. Mengapa harus menulis? Ini jawabnya... Orang yang hobi menulis umumnya memiliki kondisi mental lebih sehat ketimbang tidak melakukannya. Layaknya es krim, menulis adalah cairan yang mudah lumer dan beraneka rasa. Beda tangan beda rasa pun berlaku.  Layaknya koki, menulis...

Lepas dan Gapai Asa (1)

Ikhlaskan masa lalu, hadapi masa depan Apapun yang terjadi, ku 'kan selalu ada untukmu. Janganlah kau bersedih, cause everything its gonna be okay. Just a liric... Potongan lirik dari lagu "Ya, sudahlah". Lagu ini sempat membuming saat th 2010. Kala itu saya baru beranjak SMA. melangkah pasti menuju pitih abuabu. Langkah dimana orang lain begitu berdebar sebab menanti sweetseventeen. Ditembak kakak kelas. Naksir temen sekelas dan kelakuan anak baru SMA lainnya. *** SMA begitu menarik untuk dibahas. Yeoyyy. Selain karena kelakuan d atas, hal lain yang begitu nampak adalah adanya sifat untuk membangun diri menjadi lebih up to date dan "dewasa".  Masa dimana bangunan dalam diri mulai dibangun. Pengokohan tiang hingga dinding pun atap yang dicicil sedari kecil mulai terlihat. Dini, namun pasti. Terkadang, ada yang malah berbalik arah. Jika sebelumnya adalah anak "alim" maka boleh jadi ketika hormon hormon semakin meningkat dan lingkunga...

Menghimpun Semesta (1)

Ruh-ruh itu seperti pasukan  yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan. Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling terpaut. Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih. (HR Muslim) Selamat datang, Juni. Dengan kedatangan yang membawa gerimis tebal, Mei beranjak gugur meninggalkan dahan. Menyimpan cerita tersendiri bersama waktu dan lusinan anak manusia yang hahahihi sana sini. Kemudian, setangkup harapan berlarian. Aku sembunyi. Berdiri. Mengintip samar. Berlari. Merunduk. Lalu dengan penuh kejutan, aku terduduk menatap layar ponsel. Semua benar telah basah. Ada kenangan yang berjalan. Ada yang kuinginkan. Ada yang tak kuingin. Aku masih miliki jalan panjang, katanya. Aku masih ingin pertahankan hidup layaknya merpati. Wew... Mengapa harus merpati? Baiklah. Sepenuhnya, pada masa lalu yang ingin menguntitt, aku masih tertunduk malu. Aku tak hanya lali pada kehidupan melainkan penghidupan.  Mei benar benar jahat....