Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Kamu, the other reason

Kemudian para sahabatnya pun menjadi sosok yang menaruh dunia hanya di tangan mereka, tidak masuk ke dalam hati mereka.   Seperti apa rupa sahabat? Adakah dia yang selama ini menanti kita dapat disebut dan kenang sebagai sahabat? Sebenarnya, dia siapa hingga kita menyematkan "sahabat" padanya?    Saya cukup ribet untuk memahami apa  yang dimaksud dengan sahabat dalam arti sebenarnya. Dan, tidak menutup kemungkinan saya tidak memahami mengapa saya hanya memiliki dan nyaman dengan salah seorang, sebuah kelompok, atau pengamat sesuatu dalam kadar yang sedikit. Saya tidak pernah memiliki mereka dalam jumlah banyak. Mungkin cukup selektif untuk mengatakan mereka sebagai teman terlebih sahabat yang lebih identik dengan saudara itu. This me. ...    Hingga kini, menginjak bangku perkuliahan saya berada di lingkaran tertentu dengan tidak menaruh harap pada mereka. Kamu yang menemukan tulisan ini pasti menebak bahwa saya ... bla bla bla dan bla bla bla, ...

Bahagia itu Sederhana

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tentram (Ar-rad: 28)  Bismillahirrahmanirrahim. Nun, demi pena dan apa yang telah mereka tuliskan.       Saya merasa tidak asing dengan dunia ini tetapi saya harus bergedik panjang saat menanti keputusan panjang. Keputusan setahun. Keputusan yang tidak mainmain. Saya masih merasakan bagaimana kelunya lidah saat mengucap visi dan misi yang sama sekali tidak saya persiapkan. Benarbenar tidak ada perasaan termasuk amunisi mental. Alhasil, saat nama pemberian diucap untuk bersilah ke depan, saya harus menahan tangis. Luapan emosi itu terus berlanjut hingga visi misi berakhir. Sama sekali tidak tahu apa, bagaimana, tetapi itulah. Dia adalah saya.      Komitmen panjang, diskusi ilmiah, debat kandidat, semua terlewati. Tawa renyah, siulan pendek, tepuk tangan silih berganti, pun matamata tajam yang awas. Saya tidak dapat melihat mereka satu persatu. Ada yang saya tak ingin lihat. Ada...