" Pak, laut adalah kehidupan." kataku dengan suara penuh. Gelombang deru tak mengizinkan berbicara pelan. Dari sini, matahari terlihat indah saat terbenam. Meninggalkan jejak merah untuk langit. Menyisakan luka. "Semuanya adalah kehidupan. Dicipta-Nya sebagai pelengkap, Nak. Kau tidak dapat men- judge ..." Panjang lebar bapak menjelaskan. Hati tidak diam. Logika berpikir cepat. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang mengandalkan perasaan, aku lebih menyukai menyeimbangkan logika dan perasaan. Perempuan itu sensitif. " Pak, matahari tinggal separuh. Kapan pulang?" " Sebentar lagi. Tidurlah sebentar, Bapak akan menjaring jala sekali lagi lalu kita pulang." Lelaki itu berkata seakan matahari tepat sejengkal di atas kepala. Gadis kecil di sampingnya menatap jauh ke bibir pantai yang tak nampak. Mencari bayang ibu dan kedua adik kecilnya: Farhan dan Fariz. Mungkin, mencintai adalah seperti ini. Setia menanti. Setia mengabari. Setia bersa...