Menjaring Pedal Waktu
Kita berlari tiada henti, sesekali beristirahat. Mentari tiada lagi bertoleran pada langkah yang sebelumnya tidak pernah tersepakati kelahirannya. Kita berjalan terus menembus waktu, menabrak angin yang membuat diri gemetar akibat ketakutan, bahkan kita berani menebas dinding pemisah antar ruang. Memutuskan pilihan untuk hijrah adalah sebuah pilihan. Entah itu positif atau negatif. Tidak ada yang dapat disalahkan dalam proses pematangan kisah yang akan terus berlanjut.
Pernah suatu ketika, kita berjalan, sahabat. Berdampingan, bersama. Cobalah berdamai bersama masa lalu, bukan berarti kau terus menatapnya dan mengecap diri sebagai pribadi galau. Tidak! Tidak seperti itu. Kita hanya perlu berdamai. Untuk merangkum sejuta kepedihan, ketegangan, kesenangan, dan kegelimangan rasa yang terasa.
Beberapa tahun yang lalu, kita berlarian bersama di bawah curah hujan dalam debit yang cukup besar. Berlarian kesana-kemari tiada kenal lelah, bertelanjang kaki, dan juga saling meneriaki. Kita pernah melalui kisah dimana rengekan-rengekan manja tercipta begitu saja. Juga, tentang permainan petak umpet dan uang hasil korupsi alias uang jalan dari pertolongan yang seharusnya memang pantas kita lakukan tanpa upah.
Sahabat, kawanku, kita telah melewati berbagai proses. Bahkan kini, proses itu pun masih berlangsung. Lihatlah, tatapan fajar pada embun yang membasahi dedaunan, rerumputan yang berdesis nyaring, terinjak telapak para pemimpin. Sebab, kita dilahirkan untuk memimpin, kawan. Kita adalah pemimpin.
Adalah suatu hal, fitrah bagi manusia untuk menjalankan amanah sebagai khalifah: pemimpin. Terkadang, kita tersesat pada perempatan jalan yang redup, atau saat kita jenuh dan merasa bahwa si cebol tidaklah mungkin memeluk bulan, maka pribadi pun seperti itu. Sekali lagi, 'Tidak'.
Hidup ini begitu rumit untuk kau sandingkan bersama bara yang menyalak di tengah auman waktu. Marilah, bersatu menggenggam waktu. Kita adalah pecahan cahya yang menerangi tiap koridor waktu dengan kilau jama'i. Upss, sahabat, tentang pilihan, tentang angan, tentang mimpi, mari terus bermimpi. Mari kita berlatih diri untuk tak jenuh bermimpi, melatih diri untuk menjadi seorang pemimpi ulung. Sebab tiada pemimpi(n) yang berakhir tragis seperti buih yang menyapu bibir pantai.
Mulailah dari hal kecil, sesederhana mungkin, dengan cara sederhana, dan strategi sederhana. Sederhana di pandang awam, namun tidak dimata-Nya.
wallahualam bishawab...
Dy. Kdi, 050614
Pernah suatu ketika, kita berjalan, sahabat. Berdampingan, bersama. Cobalah berdamai bersama masa lalu, bukan berarti kau terus menatapnya dan mengecap diri sebagai pribadi galau. Tidak! Tidak seperti itu. Kita hanya perlu berdamai. Untuk merangkum sejuta kepedihan, ketegangan, kesenangan, dan kegelimangan rasa yang terasa.
Beberapa tahun yang lalu, kita berlarian bersama di bawah curah hujan dalam debit yang cukup besar. Berlarian kesana-kemari tiada kenal lelah, bertelanjang kaki, dan juga saling meneriaki. Kita pernah melalui kisah dimana rengekan-rengekan manja tercipta begitu saja. Juga, tentang permainan petak umpet dan uang hasil korupsi alias uang jalan dari pertolongan yang seharusnya memang pantas kita lakukan tanpa upah.
Sahabat, kawanku, kita telah melewati berbagai proses. Bahkan kini, proses itu pun masih berlangsung. Lihatlah, tatapan fajar pada embun yang membasahi dedaunan, rerumputan yang berdesis nyaring, terinjak telapak para pemimpin. Sebab, kita dilahirkan untuk memimpin, kawan. Kita adalah pemimpin.
Adalah suatu hal, fitrah bagi manusia untuk menjalankan amanah sebagai khalifah: pemimpin. Terkadang, kita tersesat pada perempatan jalan yang redup, atau saat kita jenuh dan merasa bahwa si cebol tidaklah mungkin memeluk bulan, maka pribadi pun seperti itu. Sekali lagi, 'Tidak'.
Hidup ini begitu rumit untuk kau sandingkan bersama bara yang menyalak di tengah auman waktu. Marilah, bersatu menggenggam waktu. Kita adalah pecahan cahya yang menerangi tiap koridor waktu dengan kilau jama'i. Upss, sahabat, tentang pilihan, tentang angan, tentang mimpi, mari terus bermimpi. Mari kita berlatih diri untuk tak jenuh bermimpi, melatih diri untuk menjadi seorang pemimpi ulung. Sebab tiada pemimpi(n) yang berakhir tragis seperti buih yang menyapu bibir pantai.
Mulailah dari hal kecil, sesederhana mungkin, dengan cara sederhana, dan strategi sederhana. Sederhana di pandang awam, namun tidak dimata-Nya.
wallahualam bishawab...
Dy. Kdi, 050614
Komentar