I'm Serious!
Mendung baru saja mengalah pada rembulan untuk sejenak tampil di depan khalayak mempertontonkan cahayanya. Ocehan kecil merekapun terasa menarik saat mendung memulai berceloteh ria.
"Oh Rembulan, mengapa kau hanya muncul diwaktu malam?"tanyanya.
"Dan kau, Tuan Mendung. Mengapa kehadiranmu selalu membawa isakan tangis?"
" Hei kawan, apa maksudmu? Aku sama sekali tak mengerti."
"Coba kau pikirkan. Perhatikan, kedatanganmu membuat mereka di bawah sana akan berlari-lari dan hampir terjatuh. Ada yang bersembunyi untuk tidak menemuimu, setengah mengomel lalu memegang payung, atau kau perhatikan wanita-wanita itu," sambil menunjuk kearah sebuah pasar, "Mereka butuh mentari bukan dirimu!"
"Jika memang begitu, aku akan pergi. Namun jika bukan karena aku, mereka akan mengalami paceklik berkepanjangan, jika tak ada aku, tidak akan ada hujan. Jika tidak ada hujan, mereka tak akan melihat barisan spektrum indah rupa karya Sang Agung. Jika aku tidak ada, awan akan selalu berwarna putih, kau tahu? Pianopun memiliki dua warna, dentingan tuts hitam dan putih. Tentu keduanya memiliki arti yang berbeda. Begitupun aku denganmu. Maaf Rembulan, mungkin kau terlihat gusar sebab jika aku menampakkan diriku, maka jelas dirimu akan tersingkir dari pandangan para muda-mudi yang tengah merajut kasih di bawah bias sinarmu."
"Bagaimana jika kita berdamai? Kurasa aku mulai menyukaimu, Tuan Mendung."
"Ah, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan Nyonya!"
"Aku sedang tidak bercanda."
"Buktikan bahwa kau tidak sedang bercanda, aku terlalu takut untuk terkhianati dan dibohongi."
"Semelankolis itukah dirimu, Tuan?", "Jangan bercanda, kau yah kutebak. Kau mungkin penikmat tembang Purnama Merindu?"
"Hei, hei, hei. Apa yang kau perbincangkan?"
"Kuberi satu pernyataan. Kita memang tak 'kan menyatu, salahkah itu? Jangan bilang takdir. Kita memang berbeda, aku bersinar kau meredup. Lalu,..."
"Yah Nona. Lalu maukah kau berjalan berdampingan denganku untuk hari esok yang telah menanti? Jika aku mampu bersahabatkan mentari yang sinarnya berjuta lebih terang darimu, maka tak ada alasan mutlak bagimu untuk menolakku!", ucap mendung dengan nada datar, "Dan kita akan menjadi pasangan serasi. Seperti bulan dan bintang, senja pada horison, tangis dan tawa, atau komet Halley yang dengan setianya selalu menampakkan diri, berkomitmen bersahabat dengan alam, walaupun hanya sekali dalam tujuh puluh dua tahun menampakkan lesatan bagai sebuah lidi yang melayang atau lemparan senter dilangit."
"Kurasa jelas. Kukatakan sekali lagi, aku menyukaimu."
"Wanita terlalu cepat bertindak."
"Apa kau bilang?"
"Oh tidak. Aku bara saja mengatakan, aku telah jatuh cinta pada sosok itu, yang kutemui tadi saat mengunjungi bumi dalam radius delapan puluh kilometer kami berdebat. Bersua pada angin, seperti suara yang membutuhkan gravitasi,"sejenak terdiam, "Namun aku sadar, Archimedes menjadi penghalang semua. Mengambang pada hati yang temaram. Nona, kau Rembulan. Rembesan EMBun LANgit, tak sadarkah, dirimu itu...?"
"Apa?"
"Kau, separuh rusuk yang tertinggal. Maukah kau kembali padaku?"
Komentar