Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

B-e-n-d-e-r-a

Gambar
Berkibar. Kibar terus. Terus berkibar. Ke kanan, ke kiri, segala arah. Teruslah sesuka hati, hingga lelah. Hingga kau kembali di turunkan. Apa yang dipikirkan ketika mengingat bendera? Merah Putih. Tiang. Kain. Ibu Fatmawati. Kemerdekaan. Upacara. Atau bahkan hari Senin?   Saya menyukai bendera. Apalagi bendera frisian flag, hehe... Ini bukan hari Senin. Ini hari Kamis. Dan bendera itu tetap berkibar tanpa mengingat hari apa ini. Ditahunya, pagi bersiap melayang di udara dan malam bobo syantippp sembari mengingat apa yang telah berlalu. Layaknya bendera, dengan tiang kokoh; pengibar yang entah terus berganti di tiap harinya; juga kekokohan tali temali saat mengikat agar tak mudah goyah saat diterpa angin, itulah manusia. Cobaan datang silih berganti. Ada baik buruk. Ada ibroh. Ada hikmah. Banyakan orang (termasuk saya) terkadang kufur akan hal tersebut. Masih sesekali mengeluh, kenapa? Di bilang khilaf iya, di bilang tidak juga iya. Jadi? :)   ...

Sepotong Pagi di Kota Hujan (2)

Gambar
Inilah pagiku. Pagi kita. Pagi di Juni yang tak hujan. Sedang Sapardi sibuk menerjemahkan Juni yang basah dan kita tentang pertengahan tahun. Dimana abang-abang sibuk menyiapkan pundi-pundi rupiah, ibu-ibu dipinggir jalan menggamit lengan lelaki pemanggul goni. Meraup sisa-sisa keringat yang berjatuhan demi membuat dapur tetap mengepul. Inilah pagiku. Pagi kita. Pagi di Juni yang telah beranjak. Kini pagi di penghujung Oktober yang basah. Embun masih menetap pasrah di dedaunan. Deru motor, langkah anak sekolah, sahutan ember tetangga, nyalak kuali yang bergesek sudek, juga tangis bayi yang belum benar lelap. Inilah pagi. Dengan segenap rutinitas juga kisah. Aku menyukai pagi. Aku menyukai sepotong kisah di tiap harinya. Di sepotong pagi, ada tawa lepas yang ikhlas. Ada tatapan cerah yang teduh. Ada wajah berias tana keluh. Tanpa kerutan. Aroma parfum sekeping dua keping receh. Bau embun. Juga panas setrika. Bahkan musik beraneka rupa. Pagi kita tak melulu sama. Mes...

Keep Moving Forward, Dear...

Gambar
Sebab ini bukanlah perjalanan biasa. Hingga mengakhiri pun bukan dengan cara biasa. Perjalanan ini tidak asal bergerak mengikuti arah angin. Tidak mengikuti ombak. Tidak menunduk pada perasaan. Sebab ini bukanlah perjalanan biasa. Bukan berangkat dari nol melainkan berangkat dari keadaan baik, sehat, susah, atau senang. Berangkat dari awal kedatangan di Bumi Allah. Sebab ini bukanlah perjalanan biasa. Bekal tak ala kadarnya. Bekal paceklik hingga penghujan semua tersedia. Maka, perjalanan ini menjadi berharga. Tidak dengan cara yang biasa. Tidak dengan langkah semrawut. Tidak dengan perbekalan ala kadarnya. Juga, tidak dengan pemimpin yang ala ala. Bukan dia yang datang secara tetiba. Bukan dia yang tiba dengan polos, ada apa? Bukan dia. Dipilih pemimpin yang baik, agar visi misi jelas dan ujian para penghuni kapal dapat segera redam. Bukan berhenti. (QS Al-Hasyr: 18) Bukan pemimpin yang hanya melihat. Melainkan bergerak menuntaskan cita terdahulu agar ...

yang (seharusnya) dicintai

Gambar
Pagi ini, dengan kota masih berselimut kabut, banyak bercerita yang ingin meluap. Bukan lagi tentang hari ke-enam dimana diri terbelenggu dalam sebuah ruangan dan setumpuk buku.  Pagi ini, dengan segala kekuatan, seakan kembali mengingat banyak hal. Perihal buah, musim, dan kotak. Ingin ku banyak bercerita--butuh-- meluapkan banyak kisah yang selama ini hanya dapat didengungkan. ***    Pada sebuah pagi , dunia kembali menyapa. Matahari masih terbit dari timur. Seruan subuh yang merdu. Suaranya saling bersahutan. Imam memimpin sholat. Makmum lantang menjawab aamiin di tiap fatihah. Saya menikmati semua. Bahagia (1) Dunia begitu bahagia di pagi yang tidak banyak desing, doadoa bersahutan. Saling berlomba menuju Tuan. Para doa mengambil keputusan cepat untuk segera menemu Tuan.  Bunga di taman bermekaran. Bentuk warna warni saling memadu: teduh, cantik, indah. Selamat datang. Terucap selamat datang untuk segala hal. Pada nafas yang kembali. Raga ...

Mama Eya: di Balik Tegarnya Seorang Perempuan

Gambar
Dua hari saya  terjebak. Tetiba mengingat masa lampau. Mengundang orangorang yang telah pergi untuk kembali hadir mengisi hari. Dua hari saya termangu. Menjelang ashar, bukan karena keringat dingin yang kerap menghantui selama empat hari terakhir melainkan munculnya dia yang kerap saya jahili dan terkadang saya tak sabar untuk bangun pagi kemudian memutar tivi dan bersama kami menonton salah satu channel kesukaan kami, Mamah dan Aa. Dua hari yang berat dibanding ujian yang memasuki hari ke-empat ini. Merubah segalanya. Tidak lagi menatap dinding langit kamar melainkan memaksa untuk dapat duduk. Saya belajar duduk selama 5menit. Tak sanggup. Duduk kembali. Tak sanggup. Duduk lagi. Begitu seterusnya hingga saya dapat duduk dan memangku sebuah laptop. Saya mengingatnnya. Saat pulang sekolah, tidak ada suara. Sunyi. Saat pergi sekolah, suara tivi memenuhi ruang. Tayangan berbau islami tak pernah dilewatkan. Wajib bagi kami, cucunya pergi ke sekolah tiap hari = kewajiban ba...

i've live a thousand lives

Gambar
  Well... Untuk hari ke-empat saya masih kokoh bersemedi didampingi buku-buku yang ternyata menagih untuk dibaca. Ya, telah banyak buku yang terdampar dalam bak pengumpulan karya dan semua layaknya pemandangan yang begitu jauh untuk dijangkau. Selama ini buku-buku itu terpajang praktis. Buku-buku tersebut saya pilah menjadi beberapa tempat. Buku wajib baca. Buku penting tidak mendesak. Dan kumpulan buku penutup--Habis baca bentar langsung tutup gitu-- hehe. Ketika sendiri dan menatap bacaan dengan variasi usia, saya lebih sering menjadi seorang thinker for future. Untuk jangka yang saaaaaaaaaaaaaaaaaaaangat panjang. Yang biasa dikonsepkan dengan baik, kini menjadi lebih baik dan benar. Saya menjadi seorang yang lebih merunutkan suatu sebab akibat kemudian membuat bagan. Menggambar pohon. Merunut dari akar hingga pucuk. (Gambar tidak terlalu bagus, jangan dibayangkan. Cukup liat aja gambar di samping kanan tulisan).  Buku menjadi teman terbaik. Untuk curhat....

Berdamai (1)

Gambar
2010-2016 : Ada alasan di tiap langkah. Semakin di cari, semakin nampak menyeruak. Ada alasan mengapa semua harus tetap dalam kendali. Harus tetap terjaga: Stabil. Ada alasan; untuknya. Saya menjadi melankolik seharian. Entah karena perasaan bersalah akibat tidak berdaya melawan sistem imun diri sendiri selama -+ 48 jam. Pura-pura tegar sepanjang waktu itu. Dengan nyata menggagalkan temu lingkar kecil bersama para titik-titik keci. Dengan sempurna memolototi diri  akibat kepayahan diperbuat. Saya menjadi...  ***  Olehnya, perlu alasan. Diadakannya alasan, atas tanya mengapa. Pertanyaan dan pernyataan yang kerab terumbar: Jaga kesehatan. Baiklah. Saya lalai. Maka kini saya sadar, untuk siapa kesehatan itu perlu saya jaga. Untuk: (1) Kedua orang tuaku (without caption); (2) Kedua adik kecilku yang tetap selalu kekanakan di mata si sulung; (3) Lingkar bil Qalam (terimakasih sejak awal telah menjadi penyokong dan kini menjadi the one); (...

Its Jum'ah (1)

Gambar
Semakin  tinggi imannya, semakin rendah hati dirinya Semakin merasa tidak apa-apanya. Fitrah sebagai manusia, menghamba Fitrah sebagai manusia, mencinta Fitrah sebagai jiwa, berpasangan Fitrah sebagai jenis, berlainan ***  Agar kita mampu menghargai sebuah pertemuan, dibuatlah perpisahan Agar kita mampu menghargai sebuah perpisahan, dibuatlah rindu Agar kita mampu menghargai sebuah rindu, dibuatlah ukhuwah Agar senantiasa persaudaraan terjaga Maafkan aku yang tak sempurna.  Manusia yang paling tinggi kedudukannya ialah yang tidak melihat yang tinggi keduduka dirinya Manusia yang paling besar keutamaannya adalah yang tidak melihat besar keutamaan dirinya dy a. said Kendari, 14 Oktober 2016 | 8:30 am