Postingan

Fort Rotterdam - Somba Opu: Sebuah Catatan Perjalanan

Gambar
Di Jalan Pasar Ikan menjelang maghrib, langit semakin gelap. Hujan kian gencar menerobos bilik baju semua yang sengaja atau tidak sengaja bersapa dengannya. Berjalan dari Fort Rotterdam menuju Losari adalah jarak tempuh yang tidak terlampau jauh. Saya dan teman memutuskan untuk menyudahi petualangan di benteng yang menyimpan jejak Pangeran Dipenogoro serta perjuangan Ujung Pandang tempo dulu. Menyempatkan diri berswafoto di tepi jalan serta menikmati sedikit semburan hujan membuat saya dan teman tidak kuasa untuk segera berlindung. Tidak kuat bertahan lebih lama, kami memasuki sebuah toko oleh-oleh  di kawasan Somba Opu. Lumayan banyak panganan serta souvenir tersedia. Terutama, kue aneka bentuk dan rasa (durian). Saya tidak dan sulit untuk menemukan varian rasa itu di kota tempat saya berasal. Lepas memuaskan mata, berpikir oleh-oleh akan ditujukan oleh siapa, dan apa yang akan dibeli, saya meminta untuk mampir ke sebuah tempat makan. Untuk urusan kampung tengah, saya aka...

there's a life, there's a hope

Gambar
    Ada hal bagi dua dunia yang berbeda. Pepatah mengatakan, "There's a life, there's a hope.", sebab manusialah sang pembuat harapan itu. Yang hidup, yang membuat harapan untuk terus melanjutkan kehidupan. Sedang, bagi yang tidak tampak, "While there's a hope, there's a life." Hal ini berlaku untuk beberapa hal, termasuk manusia. Manusia ada karena adanya sebuah harapan. Harapan untuk membentuk dan melanjutkan hidup. Bagaimana kemudian Sang Maha Pencipta menciptakan Hawa dari rusuk seorang Adam, yang ia cipta dari tanah. Maka, lahirlah Qabil Habil beserta saudara kembar mereka yang cantik jelita. Jika, Adam tak digoda iblis untuk memakan buah Khuldi, maka tentu akan berbeda cerita di zaman sekarang ini.  Membaca buku #imsahraza, memberi tahu bahwa takdir adalah ketetapan. Sejauh apa berusaha, Ia akan menguji sesuai kesanggupan hambaNya. Tidak melebihi batasan. Tentang Sahraza. Bayi mungil yang menanti kehadiran ayah ibu. Tentang ayah ibu yan...

Yang Akan Datang

Gambar
  nanti akan kau temui dia bukan pada penghujan maupun terik juga mekar teratai atau mawar nanti akan  kau temui  dia bukan pada deretan pilihan belanjaan modis juga pedagang di pasar barangkali akan kau temui  dalam keadaan yang tidak kau sangka di waktu yang entah kapan. nanti. __ 2020 berakhir begitu saja. meninggalkan kenangan kata: tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu. tentu  saja banyak hal telah terjadi. kedukaan, kenistaan, kebahagiaan, kehilangan, dan kemenangan juga kekalahan menjadi hal yang lumrah. penyikapan terhadap apa yang terjadi pun berbeda. entah diakhiri dengan ekspresi  apa. kita akan memulai sesuatu. hal. yang. baru. kita telah berencana, tetapi ada  sebaik-baik perencana. terkadang, menghardik takdir kerap dilakukan. tetapi, kita bisa apa? kita tak punya kuasa, melainkan kata kiasan.  kita akan merayu pemilik takdir, mengikuti kehendak diri. tetapi, lagilagi kita bisa apa? kita hanya mampu berdoa dan bergerak. mengikuti ...

Sisakan Ruang (Sedikit untuk Kecewa)

Gambar
“Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah” -Izzatul Islam-   Sekitar 2014 saya pernah mengatakan, “Saya bersyukur dipertemukan dengan A. Orangnya baik, ramah, dan…” sederet kebaikan yang nampak padanya saya sebutkan secara gamblang pada B. B tersenyum menanggapi dan di akhir pertemuan, dia mengatakan, “Dik, sisakan satu ruang dihatimu untuk menaruh kekecewaan yang akan kamu dapatkan di masa depan.”   Sepanjang perjalanan dari Kampus Baru UHO-Kota Lama saya berpikir tentang maksud dari kata tersebut. Saya paham tetapi menuntut ingin diberi penjelasan. Seperti mengenyampingkan bahwa manusia-manusia langit tidak mungkin akan mengecewakan. Saya percaya itu.   Membaca tulisan Afifah Afra, mengingatkan saya pada nasihat tersebut. Terkadang, kita merasa telah dekat dengan seseorang dan mempercayainya. Namun, pada kenyataannya kita tidak mengetahui “Dia siapa? Siapa dia?” yang sebenarnya. Kita merasa akrab di media (nyata dan maya): saling sapa, mengomentari status, berte...

17 Macet

17 Maret 2020 libur diliburkan meliburkan hibur terhibur menghibur dihibur kubur terkubur dikubur mengubur _________________________ sudah

18 Februari

SATU Di satu dan lainnya, tangis adalah ungkapan rasa berbentuk dan ber-rasa. Di antara sekian alasan, cinta-lah yang menjadi hal utama. Untuk apa kamu nangis? Untuk cinta. Jika bukan karena cinta, maka tak akan ada tangis. Benarkah begitu? Saya pernah bertemu seorang. Dua orang. Lebih dari itu. Sesedih apapun, ia tak akan menangis. Sederhana: "Kalian tak perlu melihatku cengeng. Cukup aku sendiri," begitu katanya. Kemudian, di lain waktu Allah sempatkan saya bertemu dengan banyak orang yang mudah mengeluarkan tangis. Karena apa? Entah, tetiba saja karena berbagai alasan. Di waktu yang lain, tangisan terjadi karena ke-ter-kejut-an. Tetiba hujan deras di pelupuk mata. Kaget akan hal tersebut. Juga, tangistangis perihal bahagia. Semisal tentang pertemuan.  Definisi tangis selain ungkapan rasa berasa belumlah jelas. Antara kita, bahkan belum menyepakati apa itu tangis. Bdw, emng km prnh nngs? DUA Cinta: antara yang dipertemukan di seper...

luruh

Gambar
Kita sedang dalam perasaan tidak merayakan apapun. Hanya ingin jumpa, menatap, dan mendengar tentang apapun yang belum sempat atau bahkan berulang kali kudengar. Lalu di suatu malam Februari yang tidak pernah terduga, kubaca pesan yang membuat hati berdegup. Kencang. Tidak karuan, seperti halnya ketika burung terbang yang kutumpangi melintas di antara gumpalan awan. Sejak itu semua yang kupersiapkan terlupa. Abu seperti halnya awan saat akan hujan.  Di Bandar Udara, tanpa berpikir panjang kukatakan apa yang membuncah melalui sambungan udara padamu, kecuali rindu. Jujur saja, sungkan rasanya untuk berbicara serius perihal itu. Aku takut genangan air akan memenuhi lesungku yang tak begitu dalam. Sekelilingku sibuk dengan ponselnya. Aku berkaca di ponselku juga, menatap manik yang tak lagi seperti dulu. Barangkali dia tahu, aku ingin mengatakan apa yang tak pernah terucap. Dalam kesenjangan, tibatiba dikatakannya. Kujawab saja, "Iya," dengan terbata. ...