Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Yang Akan Datang

Gambar
  nanti akan kau temui dia bukan pada penghujan maupun terik juga mekar teratai atau mawar nanti akan  kau temui  dia bukan pada deretan pilihan belanjaan modis juga pedagang di pasar barangkali akan kau temui  dalam keadaan yang tidak kau sangka di waktu yang entah kapan. nanti. __ 2020 berakhir begitu saja. meninggalkan kenangan kata: tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu. tentu  saja banyak hal telah terjadi. kedukaan, kenistaan, kebahagiaan, kehilangan, dan kemenangan juga kekalahan menjadi hal yang lumrah. penyikapan terhadap apa yang terjadi pun berbeda. entah diakhiri dengan ekspresi  apa. kita akan memulai sesuatu. hal. yang. baru. kita telah berencana, tetapi ada  sebaik-baik perencana. terkadang, menghardik takdir kerap dilakukan. tetapi, kita bisa apa? kita tak punya kuasa, melainkan kata kiasan.  kita akan merayu pemilik takdir, mengikuti kehendak diri. tetapi, lagilagi kita bisa apa? kita hanya mampu berdoa dan bergerak. mengikuti ...

Sisakan Ruang (Sedikit untuk Kecewa)

Gambar
“Tetaplah bertahan dan bersiap-siagalah” -Izzatul Islam-   Sekitar 2014 saya pernah mengatakan, “Saya bersyukur dipertemukan dengan A. Orangnya baik, ramah, dan…” sederet kebaikan yang nampak padanya saya sebutkan secara gamblang pada B. B tersenyum menanggapi dan di akhir pertemuan, dia mengatakan, “Dik, sisakan satu ruang dihatimu untuk menaruh kekecewaan yang akan kamu dapatkan di masa depan.”   Sepanjang perjalanan dari Kampus Baru UHO-Kota Lama saya berpikir tentang maksud dari kata tersebut. Saya paham tetapi menuntut ingin diberi penjelasan. Seperti mengenyampingkan bahwa manusia-manusia langit tidak mungkin akan mengecewakan. Saya percaya itu.   Membaca tulisan Afifah Afra, mengingatkan saya pada nasihat tersebut. Terkadang, kita merasa telah dekat dengan seseorang dan mempercayainya. Namun, pada kenyataannya kita tidak mengetahui “Dia siapa? Siapa dia?” yang sebenarnya. Kita merasa akrab di media (nyata dan maya): saling sapa, mengomentari status, berte...

17 Macet

17 Maret 2020 libur diliburkan meliburkan hibur terhibur menghibur dihibur kubur terkubur dikubur mengubur _________________________ sudah

18 Februari

SATU Di satu dan lainnya, tangis adalah ungkapan rasa berbentuk dan ber-rasa. Di antara sekian alasan, cinta-lah yang menjadi hal utama. Untuk apa kamu nangis? Untuk cinta. Jika bukan karena cinta, maka tak akan ada tangis. Benarkah begitu? Saya pernah bertemu seorang. Dua orang. Lebih dari itu. Sesedih apapun, ia tak akan menangis. Sederhana: "Kalian tak perlu melihatku cengeng. Cukup aku sendiri," begitu katanya. Kemudian, di lain waktu Allah sempatkan saya bertemu dengan banyak orang yang mudah mengeluarkan tangis. Karena apa? Entah, tetiba saja karena berbagai alasan. Di waktu yang lain, tangisan terjadi karena ke-ter-kejut-an. Tetiba hujan deras di pelupuk mata. Kaget akan hal tersebut. Juga, tangistangis perihal bahagia. Semisal tentang pertemuan.  Definisi tangis selain ungkapan rasa berasa belumlah jelas. Antara kita, bahkan belum menyepakati apa itu tangis. Bdw, emng km prnh nngs? DUA Cinta: antara yang dipertemukan di seper...

luruh

Gambar
Kita sedang dalam perasaan tidak merayakan apapun. Hanya ingin jumpa, menatap, dan mendengar tentang apapun yang belum sempat atau bahkan berulang kali kudengar. Lalu di suatu malam Februari yang tidak pernah terduga, kubaca pesan yang membuat hati berdegup. Kencang. Tidak karuan, seperti halnya ketika burung terbang yang kutumpangi melintas di antara gumpalan awan. Sejak itu semua yang kupersiapkan terlupa. Abu seperti halnya awan saat akan hujan.  Di Bandar Udara, tanpa berpikir panjang kukatakan apa yang membuncah melalui sambungan udara padamu, kecuali rindu. Jujur saja, sungkan rasanya untuk berbicara serius perihal itu. Aku takut genangan air akan memenuhi lesungku yang tak begitu dalam. Sekelilingku sibuk dengan ponselnya. Aku berkaca di ponselku juga, menatap manik yang tak lagi seperti dulu. Barangkali dia tahu, aku ingin mengatakan apa yang tak pernah terucap. Dalam kesenjangan, tibatiba dikatakannya. Kujawab saja, "Iya," dengan terbata. ...

Januari dan Hujan (1)

Januari ke-Empat di 2020 Tidak seperti kemarin, ini malam hujan sedikit telat mengetuk langit. Barangkali ada yang tak mengizinkannya menjenguk penduduk Bumi. Sengaja tidak membukakannya pintu bahkan jendela. Namun, hujan adalah rembesan. Dengan teduhnya bersabar menunggu di depan pintu Bumi. Itulah kesempatan untuknya berbincang dengan Bulan juga Bintang.  Diamdiam di sela percakapan yang riuh, satusatu titiknya berselancar tanpa hambatan menuju tiap genting penduduk Bumi. Maka apa yang diharapkan selain mengikhlaskan yang telah terlewati? Sebut saja si dia yang tak ingin membuka pintu Bumi sedang kebobolan. Lihat, hujan tengah berjalan mengetuk seluruh genting, pepohonan, tanah, dan not musik. Lagulagu tentangnya berseliweran. Kita bisa me-request via radio, televisi, atau search di youtube. Apapun itu. Juga, statusstatus tentangnya. Trilyunan kata penuhi beranda.  Januari sedang tidak baikbaik saja. Anggaplah begitu. Hujan semakin rajin bertandang. Tak a...

merayakan hari

Gambar
" Hidup itu berjalan sesuai keinginan hatimu. Ketika kamu bawa ke arah yang baik, tentu Allah akan berikan kebaikan padamu. " 3 Januari 2020 Saya pernah menemukan seorang perempuan yang tak rela membuang sub total belanjaannya. Bertemu lelaki yang tak membuang barang tuanya meskipun itu terlihat tak berguna. Bertemu anak yang kerap berpura tangis agar dituruti keinginannya. Bertemu remaja yang merengek pada teman lelakinya. Bertemu segerombolan bocah yang teramat berisik. Bertemu nenek penjual masker. Bocah penjual es dan kue. Juga, hal lain. Setiap pertemuan tersebut memiliki kisah yang tak sama. Ada hikmah. Maka, perjalanan adalah hal yang mengasyikkan untuk memetik buah bernama hikmah. Terkadang, kita bersifat abai. Tidak menganggap bahwasanya tiap temu adalah pembelajaran bagi hambaNya yang bersyukur.  Saya menikmati seluruh momen. Tidak ingin merusak suasana juga ingatan, memilih untuk menulis adalah pilihan terbaik. Menulis sama dengan mer...

dua januari

Gambar
" Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak  akan pernah menjadi takdirku dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku. "  -Umar bin Khattab- 2 Januari 2020.  Kemarin, riakan berwarna memenuhi langit bumiku.  Sisa petasan, derum knalpot, arang pembakaran, umpatan, tangisan, tawa, dan deras air terekam jelas. Butuh keikhlasan untuk melepas tahun bernama 2019. Di sana banyak hal terjadi. Menjelang pelepasannya, banyak resolusi berhamburan di media sosial. Saya adalah salah satu yang mengetuk jemari pada layar ponsel untuk turut meramaikan aksi unggahunggah re-solusi. Tidak ada harapan khusus selain di-amin-i. Bukankah tak semua pengikut medsos kita sudi mengamini dan menyukai apa yang kita lakukan? Apa yang terencana di 2019, beberapa tercapai, lainnya tertinggal. Mengejutkan ketika Sang Maha Pengasih memberikan nikmatNya yang bahkan tidak terkira sedikitpun. Semua adalah capaian. Gag...

Tentang Banyak Hal

Gambar
Debu, deru, dan seru adalah saksi dimana kita menjalani sembari mempertentangkan beberapa takdir. Kita bukanlah sang pemilik roda, tetapi kendali tuas ada di tangan kita. Kerapkali, kita menyibukkan diri untuk berbagai hal yang tak perlu diurusi. Namun, bagaimanapun rasa ingin tahu ada. Apakah setelah itu bahagia atau terpaksa? Memiliki dua belas penanggalan Masehi adalah hal membahagiakan. Bagaimana tidak, masingmasing memiliki rasa berbeda. Seperti ketika kamu memasuki mall atau menemui abang-abang es krim serta menanyakan berbagai rasa yang bahkan tak masuk akal. Itu ada. Kita secara sadar menghabiskan waktu dan kadang berpura lupa bahwa tiap bulannya terlewat begitu saja.  Membersamai diri--me time--, mengitari kota tua, menikmati hiruk pikuk Ibu Kota, menemani teman bercerita--berbelanja--, mencari kayu bakar, mendaki gunung, bahkan melihat anakanak membuka kertas contekan saat ulangan semester bukanlah sebuah kebanggaan. Kita hanya perlu mensyukuri setiap waktu...