Satu Tentang Cita

Bebauan mete bercampur aroma aneka buah lainnya. Tersaji dalam beberapa cawan. Memberi rasa, seteguk harap melepas lelah. Gadis beransel mampir sebentar menjenguk. Sekedar mengamati ataupun melihat sekilas. Enggan membeli, mahal katanya.

Tangantangan terampil semakin asyik menciduk sendok demi sendok minuman segar bernama es buah ke dalam seluruh gelas kosong. Tanpanya, mungkin  entahlah bagaimana rasanya. Angin bertiup rendah. Suara sumbang, senar gitar, tarian ijuk, juga angin yang mengisi hari. Upss, ada yang terlupa. Tawa renyah dan semangat karena-Nya di pagi hari semakin menambah  keikhlasan untuk sedia berada dalam lingkaran mungil itu.

Para hijabers luruh dalam keterasingan. Bukan asing dalam pengasingan karena suatu dosa, tetapi akibat jalinan persaudaraan yang begitu kuat. Langkah kecil prajurit tertera jelas di antara debu dan setapak yang terlewati. Senyum sumringah, gratis, dan yah, lengkungan itu memberi beribu makna arti kebahagiaan. Entah bagaimana menjelaskannya.

Semoga tetap semangat karena-Nya. Aamiin.
*** 

November masih memberi kesan yang menarik. Enggan memberi waktu bagi penghujan untuk menyapa walau sebentar. Sementara mentari tergopoh-gopoh beranjak naik ke timur, menyongsong cita lalu dengan anggun menuruni bukit harap sebab di sana ada beribu kisah yang siap tercipta di jemari yang menggenggam pena. Para penulis, calon penulis, dan handai taulan siap berbagi. Dalam tajuk apapun, semua akan menjadi satu tanpa mengenal kasta dan terpilah karena kasta. Gurauan renyah dan juga terkadang  terkesan gag banget kerap kali mewarnai senja yang dalamdiam memotret.



Tanpa penghormatan, penaku habis. Bukan suatu permasalahan hanya saja BBM tengah booming karena kenaikannya membuat penjaja pena menaikkan tarif penjualan demi keuntungannya. Yah, daripada tidak ada yang menjajakannya.

Selasa, di kampus yang tetap ramai. Mentari tepat mengarah ke peraduanku. Duduk menikmati lekuk dedaunan, derap langkah, dan nyanyian beradu padu. Semoga semua baikbaik saja, sebab tidak ada yang 'kan tahu tentang cita yang tercipta di antara deru waktu. Satu.


Kendari, 25 November 2014.
Dy

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a