Gadis itu anakmu, Ayah
Dibawah sinar terik sang surya, seorang lelaki dengan penampilan lusuh tak terurus tengah duduk bersiul didepan sebuah toko. Tidak sedikitpun terlihat raut wajah kegusaran ditengah krisis ekonomi yang melanda negeri agraris ini. Sorot matanya liar, dengan sebatang rokok ditangan kirinya. Sesekali ia hisap lalu hempaskan membentuk rancu, seperti kepulan asap bak air mendidih yang baru dibuka tutupnya. Tidak jelas kemana ia akan berjejak, walau mempunyai istana sendiri yang berdiri megah di kota metropolitan bersama seorang ratu juga seorang putri mahkota. Yah, putri mahkota. “Namun dia tidak memiliki wajah yang serupa denganku. Golongan darah kami berbeda. Lalu, mesti kusebut apa dirinya? Anakku? Oh tidak, akan kuungkap siapa dia sebenarnya,”ujarnya ketika ditanya seorang kerabat Rena, gadis manis yang kini tengah beranjak remaja. Bagaikan di sebuah negeri dongeng, hidup bahagia dengan segala bentuk kesyukuran akan karunia-Nya akan ia jalani. Namun dongeng adalah...