Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Gadis itu anakmu, Ayah

Dibawah sinar terik   sang surya, seorang lelaki dengan penampilan lusuh tak terurus tengah duduk bersiul didepan sebuah toko. Tidak sedikitpun terlihat raut wajah kegusaran ditengah krisis ekonomi yang melanda negeri agraris ini. Sorot matanya liar, dengan sebatang rokok ditangan kirinya. Sesekali ia hisap lalu hempaskan membentuk rancu, seperti kepulan asap bak air mendidih yang baru dibuka tutupnya. Tidak jelas kemana ia akan berjejak, walau mempunyai istana sendiri yang berdiri   megah di kota metropolitan bersama seorang ratu juga seorang putri mahkota. Yah, putri mahkota. “Namun dia tidak memiliki wajah yang serupa denganku. Golongan darah kami berbeda. Lalu, mesti kusebut apa dirinya? Anakku? Oh tidak, akan kuungkap siapa dia sebenarnya,”ujarnya ketika ditanya seorang kerabat Rena, gadis manis yang kini tengah beranjak remaja. Bagaikan di sebuah negeri dongeng, hidup bahagia dengan segala bentuk kesyukuran akan karunia-Nya akan ia jalani. Namun dongeng adalah...

Merindu-Nya

Aku.. tidak ingin pergi sia-sia ingin melepas semua dengan kedahagaan menikmati tiap inci saraf lalu tertawa lepas bahagia Aku.. dengan segenap cinta karenaNya selalu merinduNya Kasih, aku merindu dalam buai dekapMu Kristal bening malaikatku, tak sanggup menahan beban pundaknya kini telah meringkih tak tertahan, begitu pilu Kasih, perkenankan kuberkata bersajak dalam kisah dalam lidah tak bertulang pada jiwa yang merasa Andai, aku ingin memilih Mungkin, tetesan keramat itu sungguhkah? Ibu, Ayah.. aku ingin menemuinya dalam balutan doa yang terpanjat memanjat untukNya Kasihku, kekasih dunia akhirat Sampai kumenutup mata Izinkan aku terpejam Menghapus semua kisahku Melalui demi.. Cinta, karenaNya Bukan paksaan Terimakasih tuk semua warna terlukis, menjadi satu dalam bingkai penuh potret nampak buram namun jelas Mengukir senja di cakrawala Aku pergi, tuk sebentar saja Salam sayangku menitip rindu dariku dan Dia Kami menatap jauh bukan berang...