Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Mengetuk Lampaunya Kasih

Petikkan senar menyulap canda Berbaris nada teratur menjadi tawa Terlukis bahagia menjadi kata Semua larut dalam makna Fa mi fa la si Semua berucap hambar Sampai si lentik mengutik jemari Ceria seperti pertama berucap Hatiku, rumahku bersamaku Cintaku, kasihku, sayangku Kau kupuja, kukecup Kau kukenang, kupeluk Kusisipkan dalam ruang tersendiri Khusus untukmu Simpan, tutup... Kembali bernyanyi... Lyla, "Kenanglah aku kapanpun engkau mau. Simpan diriku bila masih dihatimu. Andaikan nanti cinta datang kembali. Akan kusanjug engkau didalam hatiku. Jalan ini memang perih. Tapi kita pernah mencobanya. Biarkan saja cerita ini mendewasakan kau dan aku." Kendari, 1Maret 2014 @9:10 am
Tetabuhan gendang diiringi alunan merdu suara penyinden asli Ponorogo semakin meriuhkan suasana syukuran yang diadakan Ketua RT Wangga. Para hadirin semakin asyik berjoget ala dangdut gak jelas. Beberapa anak kecil terlihat menangis meminta pulang, ada yang sibuk bermain petak umpet. Dan, iya petak umpet. Itulah kebiasaan anak-anak dimalam hari yang terkadang dilalaikan orang tua.      "Jan, kamu yang ngitung."      "Oke Pan,"seru anak bertubuh kecil pada si Jangkung, "satu, dua,......sepuluh. Sudah yah!" Seketika berbalik mencari kesepuluh temannya. Mereka bermain sebanyak sebelas orang. Dari kasta usia terkecil yakni empat tahun yang hanya menjadi anak bawang sampai berusia tiga belas tahun, dan dia menjadi pemimpin diantara semua anak. Biasa disebut "