Di bibirmu, separuh sinar bulan rekah padahal langit sedang resah di matamu, purnama utuh menjadi rindu yang buncah saat gelisah dan aku menerawang jauh kisahmu teramat panjang. harapan-harapan banyak menanti, berharap kau sentuh. laksana suratan tuhan, kita tidak dapat menggenggam satu sama lain. seakan mengelak gulatan takdir. kita memang selalu seperti ini, tidak pernah berubah. selalu ingin menjadi kanak yang keras kepala. ah, pagi ini dengan kopi yang kusesap dalam-dalam, buatku lebih jauh lagi menelisik waktu. memasuki koridor dan berbagai kelokan sebelum akhirnya aku sampai pada saat dimana kita bertemu. kau tahu? ah, kau tidak perlu tahu. Di tanganmu, kristal menggambar waktu malu malu ku tatap fitrahku mendambakanmu dan aku ingin mencintaimu. *** akan ada perubahan di hari esok. bagi semua orang, itu adalah kodrat alam. namun, tidak bagiku. satu langkah di hari ini dan langkahlangkah selanjutnya teramat menentukan siapa aku di hari esok. di lima tahun yang...