Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2017

Sunshine Becomes You (1)

Gambar
Anak itu mulai pandai berkelana seorang diri. Belum terlalu cerdas untuk dikatakan mandiri. Mulai belajar berjalan sedari anakanak seusianya belum siap menapak. Dia begitu tidak sabaran untuk berproses. Kakinya begitu kuat hingga langkahnya tak lagi dapat dihitung dalam sehari; dia tetap berjalan. "Nak, kamu kecil orangnya rusuh. Gak bisa diem. Sukanya manjat sana sini. Dalam gendongan pun kamu akan berusaha menggeliat dan menjelajah. Tidurnya tiga enam puluh derajat. Cerewet dan kamu pembelajar yang cepat," kenangnya. Si pendengar kembali terdiam. Lahir di suatu kota jauh di pelosok timur membuatnya berbeda dari saudaranya yang berada jauh  di kampung halaman. Bapak yang telah lama mengais rupiah memboyong seorang wanita yang dinikahinya tiga tahun sebelum kelahirannya untuk bersama  melanjutkan hidup di tanah rantau. Kehidupan memang seperti itu. Kadang kita perlu berotasi. Terkadang, dari barat menuju timur dan timur menuju barat. Tidak menampik, persoalan...

Buku Kita

Gambar
  Buku kita. Rapih tersusun. Terbengkalai kadang. Koyak sebagian oleh rayap. Lusuh sebagian.  ***  Kita mencintai buku agar buku mencintai kembali. Mengembalikan cinta untuk saling memberi. Tak perlu banyak kata untuk mencinta. Kita mencintai diamnya buku; dengannya belajar bahwa bijak itu perlu. Bukan terkadang dibutuhkan. Kita mencintai indahnya buku; tahu bahwa estetik pun tak hanya sekadar isapan jempol. Kita mencintai tebal tipisnya buku; tahu bahwa ukuran kadang tak pengaruhi kualitas. Kita cintai penulis buku; mengenal bahwa dia baik telah mentrasfer apa yang dimiliki untuk transformasi. Kita cintai buku: baca tulis. Buku itu telah ada. Ada pun buku itu belum tersentuh. Sentuh sekali untuk selamanya. Selamanya pun tak tiap waktu. *** Buku kita. Kita baca kemudian tulis. Tulis untuk menggenapi. Genapi untuk purna. Purna pun tak ditahu. Tahutahu telah ada. Ada untuk bersama. Bersama. Buku kita; sampulnya beda. Beda untuk disatuk...

Tentang Para Pembelajar; sebuah Catatan Perjalanan

Gambar
Ini tentang para pembelajar. Menemunya bukan suatu ketidakpastian. Berharap padanya adalah kesempatan. Saya nyaman menyebutnya keluarga. Suatu hal dimana ketika tepat setahun lalu saya diberi beberapa pertanyaan ringan nan gurih dalam suatu kesempatan dan saya mulai menyebut kata keluarga untuk kemudian membuat kami jadi lebih akrab. Perkenalan singkat yang hingga kini terus menyisakan bekas. Adalah lumrah, kami disatukan akibat daya tarik menarik yang begitu kuat. Tidak kuat keseluruhan tetapi daya itu saling menguatkan dan mengimbangi yang tidak begitu kuat lainnya. Itulah L S I P. Lingkar Studi Ilmiah Penalaran. Keluarga Ilmiah. Kabinet Bangkit Bergerak Bersinergi (BERAKSI) Periode 2016. Lingkaran ini tidak begitu besar dengan jumlah yang tentu tidak banyak tetapi memiliki banyak jiwa yang siap bersinergi. Siap berkomitmen dan memiliki semangat juang sebab memiliki kesamaan frekuensi. Seorang lelaki penyuka fisika, sepertinya mulai mencintai dunia kepenulisan dan t...