Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Malam Apa Ini?

Tudung saji kubuka. Kosong. Panci dapur kosong. Pun belanga. Tak ada bebauan apapun di sini kecuali sampah. Lemari tak menyimpan pusaka. Cermin tak nampak erotis pun aura magis. Tak ada rasa apapun di sini kecuali ambisi. Piringpiring tak berwarna. Tak bercorak. Vas tanpa bunga. Meja tanpa rampel. Ruang tanpa tamu dan perabot. Kosong. Mimpikah? Tidak. Kah mimpi? Tidak ti-dak. Lalu? ... Semua habis terjual. Tersisa kenangan dan rindu yang salah alamat di malam yang katanya petanda baru-baru-baru. Semua ludes. Tersisa mercon dan mesiu yang tak berwelas asih di malam yang katanya penanda kaum urban bondong ke kawasan baru. Semua purna. Tersisa tong dan jalan bertabur sampah sisa malam. ... "Kak, malam apa ini?" tanyaku.  "Dik, malam ini apa?" jawabnya. "Kak, apa malam ini?" tanyaku. "Dik, ini malampir. Dengan pundi yang gentayangan di tiap ruang; dengan aroma pesta semalam bercampur alkohol, rokok, parfum murahan, dan bungkus k**dom; ...

Selamat Pagi, Sayang

Selamat pagi, sayang. pagi ini, embun dedaunan begitu segar tak ada gerimis apalagi hujan hanya kita dan matahari pagi Selamat pagi, sayang pagi ini, langkah kaki kita beradu gerak mentari tak ada sepasang sepatu kets pun sandal hanya kaki kita beralas alam Selamat pagi, sayang apa kabarmu? tahukah kamu kabar baik ini kali? ah, tidak. kan belum kuberitahu aku bertemu Dia. di sepertiga waktu yang biasa kau bangunkan aku. dengan gemas, diceritakanNya tentangmu. aih, begitu melankoliknya suasana saat itu. dan, tidak ada musik terlebih suara lainnya. benar, hanya aku dan dia. tanpa beradu pandang--aku takut--segala tentangmu begitu nyata. mungkinkah...? kau tak pernah mengajariku beradu pandang. kau juga tak pernah mengajariku ilmu mungkin. kuingat, hanya ilmu kepastian yang selalu kau ulang di tiap waktu. rasanya, aku membutuhkan masa lalu sebagai penampar pipi ini. aku terlalu bersemangat untuk berkata-kata tentang ini-itu dan melupakan janji dahulu. ...

apakah aku punya bapak?

Biar kuberitahu sedikit tentangnya: Tentang BAPAK.  Saya selalu (merasa) memiliki(nya). Tidak banyak kenangan yang ada tetapi cukup untuk membuat waktu menoleh ke belakang.  Delapan tahun bukanlah waktu yang baik untuk mengatakan bahwa kesempatan benar-benar telah merenggut kebersamaan yang seharusnya menjadi hak paten pribadi. Terkadang saya berpikir sejenak dan memutuskan suatu keputusan entah bijak atau tidak: Apakah saya punya ayah? Apa yang membuktikannya? Apakah saya punya ibu? Apa yang membuktikannya? Desember yang basah: bau hujan, belahan aspal, hingga durian yang menusuk indera penciuman. Desember benar-benar arogan, tetapi cukup diselipkannya satu momen spesial untuk para wanita. HARI IBU. Ribuan (orang yang dapat saya jangkau baik nyata pun maya) menghambur kata “happy mother’s day” dengan dibubuhi intrik lainnya. Selalu seperti itu, tidak pernah berubah. Mengapa? Tiap tahun, ada hari dimana tanggal dan waktu tersebut menjadi teramat ...

RINDU ITU CINTAKAH?

    Saya pernah membaca sebuah kalimat (entah dibuku, google, atau mana--lupa--) bahwasanya, dalam sebuah hubungan tak perlu saja cinta atau tok sayang melainkan ada pembukusnya. Nah, loh? Yang dimaksud ternyata adalah IMAN. Waduh, kok ada iman? Nyangkutnya dimana? Pikiran pendek saya mulai mendominasi otak yang gaduh.         Dalam kehidupan, IMAN memiliki peran besar. Tidak hanya sekadar pengisi kewajiban aja seperti yang dipelajari dari teka, esde, hingga esema kalau iman itu ada enam. Iman kepada (1)... (2)...,...hingga (6) melainkan keenam itu dipahami hingga lahirlah wujud konkretnya. Bahasa guru sih, biar teori gak sekadar teori, yuk praktik!       C I N  T A  pada dasarnya adalah fitrah Ilahiah kepada seluruh makhluk. Makhluk hidup. Setidaknya, kita adalah sesama makhluk. Jika bukan makhluk maka kita adalah ciptaan. Jika kita bukan ciptaan maka kita bukanlah siapa-siapa. Jika kita bukan siapasiapa, lantas siapa...

Sederhana, Itu Cintakah?

Bahagia itu sederhana.      Sepersekian menit rangkaian kata itu berhasil mencipta satu makna. Sore ini, saya bersemedi di dalam ruang kecil setelah lelah menjadi bolang di pagi hingga siang. Sembari duduk lepas, mata saya berjalan memakan remah tulisan yang tertera. Saya semakin mengagumi mereka yang hebat. Walaupun, di waktu itu, seorang kakak yang baik hati (versi-ku) menegaskan bahwa jangan terlalu mengagumi dan menjadi sosok alay terhadap jiwa-jiwa lainnya.  Mengapa? Timbangnya, kau akan mudah jatuh dan terperosok jauh jika mengetahui sisi lainnya. Awalnya, saya ragu dan hanya mendengar serta mengambil hikmah sepertiga dari ribuan kata yang terlontar. Namun, kini saya semakin percaya, memang manusia seperti itu adanya. Ada kalanya, ketetapan hati dan kodrat Ilahiah tak dapat kita hindari. Dan saya mengalaminya. Istilah beken-nah, panas-panas tai ayam , hangat-hangat indomie... Fiuhhh      Desember ini, saat matahari tidak lagi...