Yes, naik kelas!

Saat akan mendekati akhir semester, anak-anak akan disibukkan dengan keluhan ah, ulangan semakin dekat; belajar lagi; kira-kira soalnya masih sama gak ya dengan tahun lalu; tempat duduknya diacak gak; dan masih banyak lagi. Tiap tahun berulang hal yang sama. Ulangan atau ujian akan tetap menghantui and the big problem's UJIAN AKHIR. Ada ujian akhir semester, ujian akhir sekolah, dan ujian akhir nasional. Ini amukan terkece-badai.

 Well... Saya telah 3 kali mengikuti ujian akhir nasional. sekian puluh kali ujian semester, dan 3 kali ujian sekolah. I'm strongly. Mengapa? Tiap tingkatan soal dari yang namanya ujian itu berbeda. Bisa secara mudah ke sulit atau tingkatan sulit ke mudah. Baik eksakta atau sosial, sama. Kemampuan siswa dalam menghadapi pun berbeda. Ada yang menganak-tirikan sosial, ada yang menganaktirikan eksak, dan malah malas pusing dengan keduanya.

Semakin sulit tingkatan, SD ke SMP, SMP ke SMA, dan berakhir di perguruan tinggi: S1-S2-S3, semua adalah ujian. Tidak hanya memandang butir-butir soal tetapi solusi penyelesaikannya. Ada cara cepat, cara biasa yang lambat dan sedang kecepatannya. Kita dibiarkan untuk meng-eksekusi sesuai kehendak hati. Tangan kita mencorat-coret rumus tanpa jenuh, kepala semakin tertunduk, gelisah, dan sedikit lelah ketika lembar terakhir mulai tergapai.

Basically, tidak ada yang sulit. Semua kembali pada kita. Air, semakin banyak volumenya, maka semakin pandai mencari tempat bermuara. Jika kesempitan, maka ia akan membagi dirinya menjadi kecil, jika stabil, akan kita jumpai di selokan, sungai, jika tak lagi ada tempat, ia akan menampung diri dan menjadi banyak lalu membludak, hingga ia tetap akan bermuara di pelabuhan terakhir: laut.

Sama halnya dengan ujian, sesulit apapun, selalu ada cara. Semakin tinggi kesulitan, semakin dekat kita dengan kesuksesan. Mengapa? Sebab kita akan naik tingkat. Naik kelas lagi. Dengan demikian, kita berproses dengan baik, menghargai proses, dan menindaklanjuti proses dengan cantik. Naik kelas lebih tinggi.

Jangan ditanya perasaan saat naik kelas! Pasti, kita akan membayang yang enak-enak, lupa pada proses (tidak semua orang seperti ini). Pokoknya, kalau naik kelas itu, waw, semriwing. Happy never ending. Hehehehe

Suka duka itu bermakna. Selalu bersyukur, itu kuncinya. Dia tidak akan membebani di luar kesanggupan jiwa. 



dy a. said
Kendaari, 25 April 2016 | 6:48 am  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a