Tak Ada Beban Tanpa Pundak

Dokumentasi dy *MUSKER IX LSIP FKIP UHO
"Bangkit, Bergerak, Bersinergi" 


Bagaimana cara menuntaskan rindu pada seseorang yang bahkan tidak kita ketahui siapa dia?

Tanyakan pada hati. Terkadang, terasa menyusahkan apa yang telah terjadi. Ujian-ujian datang tetapi pengertian akan nikmat itu ada. Sesekali aku berpikir, mengapa harus terjadi? Memang tak ada beban tanpa pundak. Namun, pundak ini begitu ringkih.  Kerapkali kuping harus mendengar kata yang tak ingin terdengar, tetapi itulah kehendak.

(1) Januari 2016
Kamu cukup tangguh, baik untuk melakukan semua. Terima apa adanya, bukan ada apanya. Bukankah menyelami tiap jejak dan titah adalah anugerah yang entah kapan akan terulang?

Aku cukup tabah untuk berperan. Dibanding dengan merapal nama sebagai number wan, menjadi tokoh di balik layar sungguh menyenangkan.

(2) Februari 2016
Ini  terasa. Belum terasa, belum cukup untuk menyimpan cerita baru. Cerita lama memaksa  terkuak dan tentang itu, aku tak siap untuk mem-publish-nya sebagai masa  lampau. Aku memilih bisu di persimpangan. Berlari, diam, jalan, atau menjadi bodoh tanpa langkah berarti?

Aku benar-benar tidak tahu, harus kemana berlari. Mengejar harapan yang tertinggal di periode kemarin. Kemudian, harapan baru berdatangan semakin banyak. Dengan kedamaian, tetapi dimana pengharap berada?

(3) Maret 2016
This the beautiful day... 1 Maret 2016, setelah pelepasan ikrar akan ke-loyalitas-an, siap berkontribusi menjadi putusan terbaik. Dan, semoga putusan akan langkah ke depan menjadi jelas, tak absurd.

... Masih ada jiwa yang belum ikhlas  bergabung dalam pasukan ini. Masih ada jiwa yang belum rela menerima ruh baru ini. Nafas ini ada tapi tak tersambut. Lingkup begitu luas,  dan Dia terus melimpahkan nikmat. Teringat akan sebuah potongan puzzle kehidupan, "setiap kalian adalah pemimpin, dan tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya."

Aku memang benar-benar tak tahu. Aku masih membiarkan Tuhan yang tahu. Namun, dengan hidup yang ingin berlabuh di dermaga yang tepat, biarkan aku berbagi bahagia dengan mereka yang aku kasihi.

Atas nama Yang Maha Kuasa,  aku telah menyedekahkan sebagian jiwa, bahkan seluruhnya untuk mereka. Mungkin, yang terasa hanya setetes cinta, sepeluh rindu, dan setangkup kata tetapi biarlah. Akan kucukupkan, sisanya biar menjadi rahasia.

(4) April 2016
Inilah jalan takdir.  Kita memang mungkin jodoh. :) Sekian lama penantian, kita  bertemu. Ada keharuan.  Ada ketidak-biasaan. Kita terpaksa menyebutnya rintang. Namun, terbalut dalam sesuatu bernama C-I-N-T-A.

Harus dengan apa aku menyebutmu? Kita tidak lama akan berpisah. Kurun waktu sepuluh bulan memang waktu yang begitu singkat tetapi lama untuk 24 jam x 300 hari.

Harus dengan apa aku menambah setangkup lagi cinta? Kau tercipta dengan matang. Mekar dengan bunga yang indah, ranum, dahan yang terkadang patah adalah kekokohan, dan kematangan yang nampak.

Harus dengan apa aku meredam rindu yang meletup?  Aku mungkin, dan sepertinya memang akan menghilang. Kemudian datang untuk menuntaskan rindu. Membawa lagu kenangan, saat bersama seperti April dengan sakura yang cantik. Wajah itu, wajah kita, adalah senyum yang mengganti cahaya.

Semua ada di sini. Semoga tetap bersama.

PadaNya kita bersandar. Tetap bermunajat, tidak ada beban tanpa pundak.  Tetap mengobarkan semangat dalam jiwa. Inilah pilihan: Bersama atau sendiri. Teguhkan diri, jalan ini lurus tetapi tak mulus.

Masih di April: Prahara adalah anugerah. Pilihan adalah ketetapan. 

... Gaes, saat kita berjanji untuk mengarungi hidup bersama, maka saat itulah pengawasan kita semakin ketat. Tak hanya empat mata, melainkan banyak mata. Tak hanya mentari pagi yang bersinar, tetapi bintang pun. Inilah dunia yang baru, yang tiap tahunnya terus bertambah usia, bertambah doa, bertambah harapan, bertambah jiwa, dan bertambah karya.

Perjalanan masih panjang. Mari menapak.




dy a. said
Kendari, 6 April 2016 | 3:25 pm   
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a