Epilog: Semarang, Mimpi dan Kenyataan (1): "Setiap perjalanan akan menjadi pembelajaran." Menemu visi baru, misi baru, dan sebut saja: perjalanan membuat kita dewasa...
kita yang merindukan segenggam hujan terkepal di tangan tanpa merembes kita yang merindukan setumpuk pakaian tak tersetrika di ranjang bertumpuk kita yang merindukan setangkup beras tak pulen dalam periuk kita yang merindukan sepasang sepatu dimana pada jempol kita sesekali menyembul kita yang merindukan sepasang kaus kaki tak berpasang kita yang merindukan sepasang seragam kumal kita yang merindukan sesuatu kita yang merindukan kita yang merindu kita yang me- kita yang kita kita kita tak kita tak lagi kita tak lagi sama kita tak lagi sama seperti kita tak lagi sma seperti dulu kita hanya memanggil nama kita melenguh hadir dalam mimpi kemudian siang menghadirkan bayang mengingatkan janji bersama di in frame. ID 1438H - rarontole bawah kelopak mata yang sayu nampak rindu ber se ma y a m . sudah cukupkah merindu? sudah cukupkah diam? mari merebak malam. menemuNya. menanya, memperjelas rindu. . ... . kendari, 6/4/18 8:48pm d...
Catatan 30 Sya'ban 1439 Hijriah menjelang 1 Ramadhan sumber gambar. google Gambar di atas saya dapatkan di google. Menjelang ramadhan, suasana pasar berubah. Drastis. Termasuk status-status personal. Selamat untuk yang telah, on-going, maupun sedang berproses #iniapaya Sekitar pukul Sebelas tadi, sebelum kembali ke rumah, saya mampir ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. And, saya kaget. Lupa sebenernya kalau ntar malam tuh dah masuk 1 Ramadhan. Alhasil, siang ini berdesakan dengan para ibu di pasar. Pemandangan pasar seminggu lalu berubah drastis. Di sisi kanan pasar, penjual sayur yang berada di pinggiran toko beradu ketangkasan memikat pelanggan sedang sisi kiri, menampakkan kelapa-kelapa yang siap di parut beserta ayam-ayam. Ayam yang siap dibagi sekian potong juga ayam yang masih berkotek di kandang. Pasar menjadi berbeda untuk saat ini. Padahal mendung dan langit sebentar ...
Berkibar. Kibar terus. Terus berkibar. Ke kanan, ke kiri, segala arah. Teruslah sesuka hati, hingga lelah. Hingga kau kembali di turunkan. Apa yang dipikirkan ketika mengingat bendera? Merah Putih. Tiang. Kain. Ibu Fatmawati. Kemerdekaan. Upacara. Atau bahkan hari Senin? Saya menyukai bendera. Apalagi bendera frisian flag, hehe... Ini bukan hari Senin. Ini hari Kamis. Dan bendera itu tetap berkibar tanpa mengingat hari apa ini. Ditahunya, pagi bersiap melayang di udara dan malam bobo syantippp sembari mengingat apa yang telah berlalu. Layaknya bendera, dengan tiang kokoh; pengibar yang entah terus berganti di tiap harinya; juga kekokohan tali temali saat mengikat agar tak mudah goyah saat diterpa angin, itulah manusia. Cobaan datang silih berganti. Ada baik buruk. Ada ibroh. Ada hikmah. Banyakan orang (termasuk saya) terkadang kufur akan hal tersebut. Masih sesekali mengeluh, kenapa? Di bilang khilaf iya, di bilang tidak juga iya. Jadi? :) ...
Komentar