Bersama Lebih Baik

Bersama lebih baik. Bersama, direkatkan oleh visi misi tentang keberlangsungan kehidupan.

Kita ibarat tiang pengikat. Saling bertautan satu sama lain, menggenggam berjalan seirama, langgeng. Tidak menampik ada perselisihan, tetapi kita satu.

Kita ibarat tiang. Satu. Lurus tetapi tak mulus. Ada goresan, cat yang mulai terkelupas, dan beberapa bentuk absurd.

Kita ibarat tiang. Tegak menghadap langit. Berdiri di bawah langit, diterpa "apapun itu", kita masih di langit yang sama.

Kita ibarat tiang. Kuat. Keropos dan perlahan tak menarik. Namun, gugur satu tumbuh seribu. Senantiasa ada pengganti, menggantinkan keberadaan demi ketahanan.

Kita ibarat tiang. Menakutkan. Terbuat dari apapun, misal besi, maka kita adalah besi yang selalu siap diperbaharui. Kita terbuat dari benda penghantar konduktor, maka kita siap menjadi magnet bagi dia yang menyentuh. Dimana saja, kita berada dimana-mana.

Kita ibarat tiang. Setia. Tidak pernah meninggalkan. Yang terjadi tetap terjadi. Kita selalu mengalah tanpa berniat meninggalkan.

Kita ibarat tiang. Bukan kurus, apalagi langsing, apalagi bernilai rupiah. Tidak ada harga sebanding jika menganalogikan dalam bentuk denotasi. Pragmatiknya, tetaplah menjadi tiang. Berdiri dalam satu rantai yang saling menyambung, tiada bercerai-berai.

Menjadi tiang adalah pilihan. Menjadi tiang listrik sekaliber si dia? Dan, si dia? Atau si dia? That's ur choice. Pilihlah.

Menjadi tiang adalah takdir. Benarkah? Kita menggunakan pemarkah di tiap jejak sebagai kenangan. Kenangan akan selalu ada sebagai peringatan dan dapat menjadi efek positif maupun negatif bagi masa depan. Tentukan takdir, berusaha. Yuk, capcusss...

Ayo, tautkan jemari untuk menggenggam. Tautkan hati agar seirama. Cerdaskan pemikiran. Menjadi kaliber itu tidaklah sulit. Menjadi sulit ketika mimpi atau harapan atau doa yang terucap itu hanya sekadar mimpi-harapan-doa tanpa realisasi tingkah nyata.

Hari ini harimu, hari kemarin hari yang lalu, hari esok di tanganmu.


dy a. said
Kendari, 24 April 2-16 | 2:43 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a