We r'nt Alone

Karena kita butuh diingatkan ketika lupa dan lalai, itulah kenapa berjuang bersama itu lebih baik daripada sendirian.

 Mengapa?
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Selalu bergantung terhadap orang lain dalam kadar konstan atau berlebihan. Saya teringat seorang kawan yang tidak ingin bergantung selain kepada pencipta sebab tak ingin punya utang budi. Benarkah seperti itu?

Maybe yes, maybe no.
Semua kembali pada persepsi masing individu. Semut pun tak dapat hidup seorang diri. Hampir seluruh makhluk tak dapat menjalin keberlangsungan hidupnya tanpa bantuan. Buaya bahkan yang ditakuti dengan taringnya yang ganas, ular dengan kemulusan dan ... tubuhnya, atau singa sang raja dan hewan lainnya tidak dapat menjatuhkan mangsa jika seorang diri.

Ini bukan rekayasa genetika. Tubuh tiap makhluk tersusun atas ribuan sel, trilyunan liter darah, dan 10 pangkat positif dua puluh tujuh atom. Namun, semangat untuk berkontribuusi atas jutaan liter nafas beserta paket kehidupan lainnya tidak dapat terelalisasi walau sekadar menebar senyum.

Tebar senyum, tawa sesekali, atau bahkan bersay-hello adalah bentuk kecil kepedulian. Tidak seratus persen benar. Kerapkali, dari stigma kita berpikir bahwa:
(1) Orang dengan wajah masam adalah orang yang tidak bersosialisasi dengan baik | jutek | 
(2) Orang dengan  wajah datar adalah orang yang tidak perduli dengan kehidupan sekitar |
(3) Orang dengan sifat diam adalah jiwa yang tidak pengertian, sibuk dengan pemikirannya |
(4) Orang dengan sikap kritis adalah jiwa yang sibuk mengurusi orang lain bermodal kemampuan berbicara |
(5) Orang dengan cara berbicara berkecepatan tinggi adalah jiwa yang tak pernah memahami bagaimana orang kesulitan mencerna pemikiran mereka |
(6) Orang dengan cara menatap memicingkan mata adalah orang tak berperasaan |
(7) Orang dengan tingkat humoris rendah adalah orang yang dingin |

SO, WHAT?
Semua memiliki arti sendiri. Mereka tidak sendiri. Masing memiliki karib terbaik. Menilai seseorang tidak mesti by the cover tetapi mengenalinya, menguliti kata pengantar, membuka daftar isi, dan membaca bab per bab adalah cara terbaik mejadi karib.

Berpositif thinking merupakan modal awal. Namun, tetaplah berhati-hati. Minyak wangi dan pengasah tak jauh berbeda. Kadang, mereka dapat bertukar peran. Bijaklah menanggapi suatu hal. Kita tidak sendiri, kita bersama orang hebat. Dengan gagasan menakjubkan, dengan ide brilian. Sungguh, its not a joke!

Selamat berbakti. Mari berkarya. Semangat menjadi berarti. 



dy a. said
Kendari, 7 April 2016 | 8:52 pm
Anduonouhu | Asr. Tokotua

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a