Namanya Gagah



Sumber Gbr: Twiter

Generasi baru yang telah dinanti, tak takut di caci, tak takut dimaki. Dilihatnya apa yang terlihat,  didengarnya apa yang terdengar, dikunyahnya apa yang tersaji, dikatakannya apa yang teramati. Itulah keserdehanaan di balik kota mungil.

Perjalanan bumi begitu melelahkan. Singkat, 2 menit 11 detik. Dan, itu setara dengan 1 tahun masa akhirat (50.000th). Anak-anak yang kuat. Tak ada nanar seolah hidup adalah ke-ti-dak-a-da-an ketakutan. Saya melihat pandangan tajam tanpa kedip dan bertanya, "Apa tujuan hidupmu?"

Wajah yang terlihat lebih imut memberitahukan perihal hangat di belahan bumi lainnya. Tangannya tak lunglai di usia seperti itu. Well, dia paham apa tujuannya.

hidup mulia atau mati syahid 

Mereka menolak untuk takut. Mengajarkan umat untuk terus berjuang tanpa tapal batas. Tersenyum demi keberlangsungan kehidupan. Dan, hal tersebut menerus terjadi hingga keadilan benar-benar tegak.

...

adalah sebagian kecil potret yang terbagi. Bukan untuk ditertawai, dizhalimi, dibenci, dicaci, dihina, dan dikutuk. Ada, untuk diakui ke-berada-an-nya. Sebagai sesama ciptaan. Sesama makhluk. Sesama hidup. Sebagai sesama umat. Sebagai sesama saudara seiman. Sebagai cinta. 

Harapan itu masih ada. Gelisah yang tak terekam kamera dan tak ada yang sedia menggambar kiranya menjadi biasa. Bukan karena tak masuk berita, media tv, radio, koran, dan media lainnya lantas mereka baik-baik saja. 

Anak-anak, menerus kita kehilangan. Tetapi, para pemilik rusuk yang bengkok kuat bertahan demi syahid-syahidah. Pagi ini, saya bersyukur atas kelimpahan-Nya, atas temu dg kalian dalam keadaan penuh nikmat.


 Anak-anak, kalian adalah pemuda gagah.


dy a. said
Kendari, 11 April 2016 | 7:00 am 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a