Jalan Lurus Tak Melulu Mulus (1)

Kadang kita harus mengambil keputusan untuk mengalah dibanding menahan keegoisan dan berakibat dia berpaling, meninggalkan kita.

“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
 
Setiap manusia dicipta untuk menjadi pemimpin. Pemimpin diri sendiri, pemimpin kalangan, dan pemimpin umat--khalifah--dengan mencontoh umat terdahulu--para khilafaur rasyidin-- dan masih banyak lagi.
 
Kepemimpinan, leadership, dan leader menjadi begitu penting. Tidak hanya untuk diketahui perseorangan melainkan umum. Banyaknya problematika yang kian mendramatisir dunia khayal menjadi tantangan bagi pengusung, penggerak, dan pemikir bangsa. Tidak hanya satu aspek melainkan multi-aspek. Jiwa dituntut untuk peka. 
 
Seorang pemimpin yang terpilih sebagai pimpinan banyak orang, menjadi besar tanggungjawabnya. Kematangan sikap, pikiran, dan kebijakan adalah parameter tersendiri untuk mengukur sejauh mana ia berhasil membawa wadah tempat bernaung maju selangkah dibanding langkah pemuka terdahulu.
 
Satu hal yang patut diingat bahwa seorang pemimpin hanyalah pemikul dan penerus estafet perjuangan pemimpin sebelumnya. Bukan sebagai pengawal maupun pengakhir. Berada di tengah zaman yang kikuk membuat semuanya harus berjalan cepat. 
 
P = F / A
 
Sangat mungkin menjadi pemimpin dengan takaran usia yang tak terprediksi. Boleh jadi, di usia SD, anakanak telah belajar menjadi pemimpin, SMP naik menjadi OSIS atau jabatan struktural lainnya, SMA menjadi punggawa struktur organisasi, dan kuliah menjadi pembesar dari organisasi yang dipilih hingga pada saat bekerja, kepimpinan itu melekat. Tidak menutup kemungkinan, ada yang dipaksa untuk menjadi pemimpin. Bukan karena dianggap mampu, bukan karena bisa, bukan karena kemauan, tetapi karena pilihan. Itu jawaban yang saya temui dari berbagai pengamatan terhadap kisah beberapa pemimpin.
 
Bukan pula karena ia pandai, tidak juga bodoh, dan bahkan bodoh. Namun, semua tidak menutup adanya celah bagi kita untuk terus merapal doa, menengadahkan tangan meminta yang terbaik.
 
Seorang pemimpin adalah dia yang matang pemikirannya (baik lahir dari lingkungan kepemimpinan atau lahir dari keinginan membela karena merasa terkungkung), yang bijak sikapnya, yang tidak kekanak-kanakkan, yang tidak mudah disetir mind-set-nya, yang tidak mudah mengobral kata, dan yang dapat merangkul anak-anaknya sehingga dapat bekerja sama.
 
"Ya Allah, jangan Engkau serahkan kepemimpinan wilayah kami kepada orang yang tidak mengasihi kami." (HR. Tirmidzi).
 
Bumi terus berputar. Evolusi dan revolusi tak henti. Jiwajiwa maju. Semoga bentuk kezhaliman dan aksi tidak terpuji lainnya tidak terjadi. Cukup jahiliyah menjadi pengajaran. Individu adalah variabel bebas yang tak dapat diotak-atik. Terkecuali, jika menjadi terikat dengan suatu hal. Semoga, tidak pemipin yang menyalahi aturan alam. Tidak ada yang menyesatkan bawahannya demi melanggengkan kekuasaan.
 
 “Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb Semesta Alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb Semesta Alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, dimana pun mereka berada.”

Jalan menuju keberhasilan selalu mendaki ke atas, jadi wajar kalau proses pencapaian sukses kita tidak selalu mudah.



dy. a. said
Kendari, 22 April 2016 | 8:35 am
penulis tidak lebih baik dari apa yang tertulis. wallahu'alam bish shawab.
#MUHASABAH :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a