B-e-n-d-e-r-a

Berkibar. Kibar terus. Terus berkibar. Ke kanan, ke kiri, segala arah. Teruslah sesuka hati, hingga lelah. Hingga kau kembali di turunkan.

Apa yang dipikirkan ketika mengingat bendera? Merah Putih. Tiang. Kain. Ibu Fatmawati. Kemerdekaan. Upacara. Atau bahkan hari Senin?  

Saya menyukai bendera. Apalagi bendera frisian flag, hehe... Ini bukan hari Senin. Ini hari Kamis. Dan bendera itu tetap berkibar tanpa mengingat hari apa ini. Ditahunya, pagi bersiap melayang di udara dan malam bobo syantippp sembari mengingat apa yang telah berlalu.

Layaknya bendera, dengan tiang kokoh; pengibar yang entah terus berganti di tiap harinya; juga kekokohan tali temali saat mengikat agar tak mudah goyah saat diterpa angin, itulah manusia.

Cobaan datang silih berganti. Ada baik buruk. Ada ibroh. Ada hikmah. Banyakan orang (termasuk saya) terkadang kufur akan hal tersebut. Masih sesekali mengeluh, kenapa? Di bilang khilaf iya, di bilang tidak juga iya. Jadi? :) 


 Bendera, tiang, angin, dan pengamat. Selalu dengan formasi itu. Mau direncanakan dengan baik atau tidak, bendera akan tetap berkibar. Kadang saat upacara, masih ada yang terbalik formasinya atau berbentuk x saat akan dikibarkan. Namun, dia tetap akan berkibar.

Tanpa alasan. Tetap berjalan. Diulur tali hingga menuju puncak. Sesekali terhenti di tengah jalan untuk memperingati sesuatu. Selebihnya kokoh menjulang di atas. 

aku melihatmu dari kejauhan. ketika dari jarak yang sama
kau hanya menatap punggungku
yang kau kenali ringkihnya
-The picture gallery, 1956-

tiap mengulur pusaka akan berpindah ke uluran lainnya. barangkali kisah bersama pusaka a, bukanlah tujuan utamanya. masih ada persinggahan lain. namun, biarkan persinggahan itu menjadi saksi  persinggahan untuk perjamuan di uluran kasih lainnya... (eiaaaa)


Pada pagi yang cerah ini sebenarnya aku ingin bertanya padamu, “Apa kabarmu?” Selalu ada tempat bagi kita untuk kembali pulang kepada-Nya”, maka dari itu memohonlah...

Ingat, pengibar pusaka harus sabar; jika tidak maka akan terjadi kekacauan. Dan inilah perilaku yang menimbulkan berbagai kekacauan. Saat mengulur pun telepati yang kuat dibutuhkan agar pusakan tepat berada di puncak. Bijak mengambil keputusan. Menjaga lisan agar khidmat Indonesia Raya di dengar. Dan walhasil, semua akan bahagia. Tidak ada yang akan tersakiti akibar pusaka yang naik tak sesuai birama lagu ataupun terbaliknya pusaka saat akan dikibarkan.

selamat pagi. jangan lupa bahagia. :)
.
.
.
.
.
dy a. said
  Kendari, 27.10.2016 | 8:00 am

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?