Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?
Catatan 30 Sya'ban 1439 Hijriah
menjelang 1 Ramadhan
![]() | ||
| sumber gambar. google |
Gambar di atas saya dapatkan di google. Menjelang ramadhan, suasana pasar berubah. Drastis. Termasuk status-status personal. Selamat untuk yang telah, on-going, maupun sedang berproses #iniapaya
Sekitar pukul Sebelas tadi, sebelum kembali ke rumah, saya mampir ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan. And, saya kaget. Lupa sebenernya kalau ntar malam tuh dah masuk 1 Ramadhan. Alhasil, siang ini berdesakan dengan para ibu di pasar. Pemandangan pasar seminggu lalu berubah drastis. Di sisi kanan pasar, penjual sayur yang berada di pinggiran toko beradu ketangkasan memikat pelanggan sedang sisi kiri, menampakkan kelapa-kelapa yang siap di parut beserta ayam-ayam. Ayam yang siap dibagi sekian potong juga ayam yang masih berkotek di kandang.
Pasar menjadi berbeda untuk saat ini. Padahal mendung dan langit sebentar lagi akan menurunkan hujan. Namun, hal itu tidak menyurutkan niat para ibu. Di parkiran pun, bapak-bapak siap sedia di atas motornya. Menunggu.
Saya bergegas. Menuju penjual telur, tempe, sayuran, dan bawang. Lengkap. Langit semakin gelap. Saya akan main hujan lagi, pikirku. Ternyata tidak. Haha.
.
.
Ketika berteduh tadi, saya membayangkan kembali peristiwa lalu. Baik yang telah lama berlalu memakan kurun waktu 'tahun' ataupun yang baru saja terjadi.
Ramadhan 2015, 1436 Hijriah
Saat itu, di pasar basah saya yang terbiasa berbelanja di daerah sana tergelitik. Sedikit. Beberapa kali berbelanja untuk keperluan buka puasa dan sahur, saya ditemukan dengan berbagai kisah unik. Kebiasaan harus membeli sayuran fresh yang mengakibatkan tiap hari saya harus berbolakbalik pasar.
Tak jarang, saya menemu buruh pikul yang memaksa atau setengah memaksa agar belanjaan kami para pembeli di angkatnya. Suara serak ibu penjaja sayuran. Denging lalat. Gerutu ibu. Wajah datar bapak. Risihan langkah kanak-kanak. Juga, suara hati dan pikiran yang tidak kita dengar.
Semua menjadi hal yang biasa. Pasar saat ramadhan berubah. Mungkin sama saja. Hanya jam tayang yang dipersingkat. Jujur, saya lebih menyukai belanja di siang hari ketika ramadhan di banding saat sore. Atau, saat pagi menjelang siang. Sebab saat itu pasar tak benar-benar ramai. Kita masih dapat melenggang dan melakukan transaksi dengan rasa nyaman.
Menjelang Ied Fitri, 1436 Hijriah, saya bepergian untuk membeli persiapan buka dan sahur esok. Di tengah kerempongan kami setengah berdesakan di pasar, seorang lelaki nampak tengah menawar. Saya tidak dapat memprediksi apa dia seorang mahasiswa atau bukan. Jelasnya, dia bukan siswa. wkwkwk
Seperti biasa, kemiri ketumbar lada merica menjadi pelengkap bumbu yang sulit dicari. Banyaknya pertanyaan dari si dia ketika berbelanja membuat ibu penjual terkekeh sesekali sembari diikuti tawa. Saya yang kebetulan lewat, mau tak mau sedikit tersenyum menahan tawa. Bagi saya itu hal biasa tetapi menjadi lucu karena tak biasa.
Pada dasarnya, tak perlu menunggu menjelang ramadhan atau saat lebaran untuk para lelaki membantu ibu berbelanja di pasar. Mereka dapat melakukannya kapan saja. Tanpa menunggu.
Di lain waktu, ketika saya dan teman-teman berencana mengadakan acara makan bersama. Kami berbagi tugas. Tim ce berbelanja sayuran sementara Tim co berbelanja buah-buahan. Menggemaskan: pengeluaran belanja sayur lebih kecil dibanding belanja buah. Namun, kadangkala sebaliknya (hanya saja itu jarang terjadi).
Pernah satu ketika, untuk sebuah hajatan besar, karena kesibukan masing-masing tim, salah seorang teman menyeletuk. Sebut saja namanya Fulan. Si Fulan meminta kami untuk mengurusi dapur, mulai dari masak, mencuci, hingga menyediakan sementara Tim Fulan yang akan berbelanja. Sontak, serentak kami tidak sepakat. Haha. Kami trauma untuk hal itu.
Namun, itu hanya cerita. Cerita yang memiliki zamannya sendiri. Mengapa saya menuliskan tentang ini? Gak sengaja tadi baca cerita whatsapp teman tentang dirinya yang akan membantu seorang ibu berbelanja. Memori saya segera berproses. Mengingat kisah yang sudah dilupakan.
Banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari pasar. Tentang bagaimana sabarnya penjual yang di-cueki calon pembeli, transaksi yang kadang menyebalkan baik di pihak pembeli atau penjual, pembeli yang gak pandai menawar, jalanan pasar yang tidak bersahabat, lonjakan harga, perbedaan bumbu-sayuran-dan lainlain, atau juga masalah tempat belanja.
Kadang, ketika berbelanja kita perlu mengelilingi pasar terlebih dahulu. Tidak semua. Tetapi sejenis survei, mengecek harga, menentukan di mana barang yang kita cari dengan kualitas pas sesuai hati berada lalu belanja.
Pakaian ketika berada di pasar (tampilan), cara bertransaksi, sampai pada efesiensi waktu ketika berada di pasar.
Pasar tradisional tidak akan pernah mati. Meskipun keberadaan pasar kian tergerus, tetapi hal itu tidak mengurangi daya saingnya dengan pasar modern. Saya bahkan lebih menyukai berbelanja d pasar tradisional di banding pasar modern. Selain alasan kondisi pasar yang jauh berbeda, perbedaan harga, hingga bertatap langsung dengan penjual adalah hal yang tidak dimiliki pasar modern. Masing-masing tetap memiliki nilai plus-minus. Bijaknya kita memperlakukan. Mempertahankan atau meninggalkan. Sebab berbicara tentang ekonomi, semua hal yang tidak lagi indah di pandang mata akan tergerus zaman. Menanamkan nilai berbelanja ke pasar tradisional adalah salah satu cara menjaga stabilitas perekonomian. Jika tidak, maka pedagang tradisional akan terkesampingkan.
Hmm... jarang perempuan yang tidak pernah ke pasar. Sesekali, mainlah ke pasar. Tanyakan berapa harga cabai, tomat, bayam, wortel, dan lainnya. Ke depannya, kita tidak menerus mengharap ibu yang akan berbelanja. Kelak, kita harus mengambil alih peran tersebut. Entah bagaimana, saya merasa aneh ketika perempuan merasa malu untuk menginjakkan kakinya ke pasar.
"Ibu, belanja apa?"
"Ibu, hari ini kita akan masak apa?"
Teman-teman pasti punya banyak cerita, kan? Ayo ceritakan. Saya akan membacanya, sungguh. :)
.
.
Kendari, 16 Mei 2018 | 1.16 pm
diah a. said - seorang pembelajar
di tengah derasnya hujan kota madya kendari

Komentar