Semarang, Mimpi dan Kenyataan (1)
"Setiap perjalanan akan menjadi pembelajaran."
Menemu visi baru, misi baru, dan sebut saja: perjalanan membuat kita dewasa dan berpikir selayaknya bukan di usia saat ini. Pola pikir dan cara pandang akan memperjelas semua. Kita akan mencapai posisi ini ketika berproses dan menghargai proses dengan istimewa.
Foto di atas saya dapatkan ketika mengikuti sebuah pertemuan luar biasa bersama orang-orang hebat se-Indonesia di salah satu PTN ternama di Jateng. Syukur alhamdulillah masih diberi kesempatan nafas untuk merasakan panasnya Kota Lumpia di siang hari, indahnya Kota Tua di pagi hari dengan rutinitasnya, dan warni lampu penjuru kota di malam hari. Amazing, dan saya tidak akan pernah tahu itu jika saya tak mengalaminya seorang diri.
Perjalanan yang cukup panjang setelah transit Makassar-Surabaya dan berakhir dengan penantian di Stasiun (yang saya lupa namanya). Sembari menunggu jemputan, iseng pun sengaja kami (saya bersama kafilah Sultra saat itu) mengelilingi seperempat daerah terminal. Banyak pelajaran baru yang saya petik. Tidak hanya ketika turun dari Bus saya memetik hikmah, tetapi ketika Surabaya terhirup baunya, pelajaran itu datang begitu saja.
Hikmah, hidayah tidak akan datang begitu saja jika hanya ditunggui.
Hikmah, hidayah itu perlu dijemput. Bukan hanya dinantikan.
Surabaya, dengan jejeran bus di waktu Tahajud. Tidak ada gambar yang terdokumentasikan dengan baik. Saat bertandang dan beranjak pulang, entah mengapa ponsel dan kamera yang saya bawa mudah me-low-bat-kan diri. Waktu berjalan begitu saja dan benar, kikuk Kota Surabaya-Semarang (dengan daerah yang terlewati begitu saja karena dengan gegabah saya tidak mencatatnya) sangat ehm ehm. Tahajud kedua, hawa dingin benar-benar dingin ditambah full AC bus yang kami tumpangi. Beruntung jaket dan pakaian yang kukenakan cukup tebal untuk menjadi penghangat walau tak menampik, it's so cooled.
Transit sejenak membeli penganan (jujur, saya tidak membeli apapun--mood makan minum saya saat itu sedang buruk--) dan saya tidak membeli apapun. Gegas turun mengikuti rombongan dan berjalan mengitari warung untuk melihat. Percakapan lokal. Urung berburu kuliner, saya kembali ke mobil untuk mendapatkan kursi empuk saya. Ngantuk!
Bus berjalan, weak up. Saya terjaga. Tidak benar tertidur, pikiran saya tidak begitu tenang (untuk hal yang tak bisa terungkap). Well,waktu menanjak ke angka yang besar dan kami tiba di tujuan.
Tidak ada kisah--posisi dan prestasi--yang akan dilewati
jika tanpa berproses.
BALATKOP. Ya, itu nama penginapan kami selama 5 hari 4 malam. Tempat yang sering diplesetkan baik oleh kafilah lainnya maupun panitia: BALAIKOKOP. Tidak ada celaan, semua berjalan baik. Lima hari (saya pribadi) meminang kenangan dan cerita tersendiri. Sebuah catatan perjalanan yang kemudian mengabadikannya. Semoga masih bisa bertandang ke sana, bertemu orang-orang hebat kembali, dan menjadi ... (Saya tidak tahu harus mengisinya dengan apa. That's the choice).
Kalau ia memang tulang rusukmu, tak usah khawatir, ia pasti kembali padamu, akan tua, dan slalu bersamamu dalam pelukanmu.
Kota lumpia: Mimpi dan kenyataan. Ketika waktu, doa, dan cinta menjadi nikmat dan amanah maka fitnah tak berada jauh dari diri.
Diantara nikmat-nikmat tersebut, ada satu nikmat yang terbesar yakni
nikmat iman dan kita telah dipilihNya menjadi orang yang beriman.
Untuk Semarang (1)...
Diah Anindiah Said | Kafilah FSLDK SULTRA
dy a. said
Kendari, 28 April 2016 | 7:20 am

Komentar