Ramadhan di Rantau
"Dek, mau buka puasa pakai apa sebentar?"
"Terserahmi. Saya makan apa aja kecuali daun singkong."
"Dek, Dita mau beli sayur apa selain daun singkong?"
"Terserahmi. Yang kakak makan itumi."
"Dek, kue apami kita buat sebentar untuk pabuka*?"
"Lihat saja sebentar."
___
Percakapan yang terus berulang di tiap hari selama Ramadhan terkecuai soal sayur mayur yang memang diulang semenjak si tengah berada di Kendari. Mudah sebenarnya. Saya hanya perlu ke pasar berbelanja seperti biasa atau juga menunggu mas mbak sayur melewati komplek perumahan kami. Namun, soal selera yang berbeda membikin saya harus adil. Tidak mementingkan keinginan pribadi. Alhasil, tak jarang saya harus mengalah dan meng-klop-kan rasa lidah agar kami tak perlu masak pelbagai menu. Cukup menu yang sama untuk dua orang yang berbeda.
Tak jarang makanan yang telah di masak terbuang hanya karena 'soal selera' yang tak mau mengalah. Hal mubadzir yang ketika berulang menjadi satu kisah tersendiri. Malu pada diri, tak dapat me-manage pengeluaran dengan baik. Malu pada orang di luar sana ketika membuang makanan yang layak di makan tetapi terbuang sebab ego. Malu pada muslim di luar sana yang berhemat dan justru berbagi di bulan Ramadhan. Malu pada muslim di Palestine dan belahan bumi lainnya, yang siap berbuka dan bersahur dengan menu apapun tanpa menyia-nyiakan pangan yang ada.
Rasanya, gegana: gelisah, galau, merana. It's my problem dan saya harus menemukan jalan agar tidak melakukan hal yang sama berulang.
Maka, bersyukur adalah jawaban di tiap kesulitan yang ada. Banyak pembanding yang jika dibandingkan dengan diri sekarang, justru diri saat ini gak ada apa-apanya. Termasuk Ramadhan kali ini. Saya yang sebelumnya melaksanakan Empat kali Ramadhan di rantau, dengan segala keterbatasan yang ada menjadi seorang yang harus lebih ikhlas. Ikhlas untuk segala-galanya. tisu mana tisu....
Menu Ramadhan yang beda. Suasana sahur dan berbuka. Tarawih. Dan, bunyi sudek panci wajan di dapur Ibu adalah hal yang tentu berbeda. Pasti ada alasan lain di balik semua. You know kan, we're strong because a reason.
Setiap 'pelaksana Ramadhan di rantau' memiliki cerita unik. Ada yang berbagi, ada yang menyimpannya untuk diri sendiri. Tak usah bersedih jika ada teman yang tak ingin berbagi kisah. Itu adalah haknya, gak bisa diganggu gugat. Hehehe
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."
-QS. al-Qashash : 56-
Ramadhan akan berlalu. Purnama di langit semakin menunjukkan wajah utuhnya. Kita gak tahu sampai kapan bakal nemu hal Ramadhan lagi. Dan, entah kita dapat menyelesaikan ramadhan ini atau tidak dan menemu idul firi.
Mari bergegas. Betapa banyak yang ingin menemu Ramadhan hingga bertemu hari yang fitri tetapi tak kesampaian. Sekalipun ramadhan masih di sendiri pula di tanah rantau juga (hag hag hag), tetaplah menebar kebaikan. Mencari peluang, memanfaatkan peluang, dan keberuntungan yang kebetulan.
Saya masih ingat, ketika Ramadhan biasa akan dipenuhi corak hijau es pisang ijo di pinggiran jalan juga warni es buah. Tak ketinggalan suara anak di masjid serta teriakan sahur warga komplek. Ramadhan di rantau tanpa campur tangan ibu menjadi berbeda. Tanpa lingkaran keluarga utuh: ayah, ibu, anak atau bahkan keluarga besar.
Ramadhan selalu memiliki hal yang untuk dikenang. Persoalan telat sahur sebab kecapean, tidak mendengar alarm, atau suasana mati lampu yang membikin tidur nyenyak bahkan alasan-alasan lainnya adalah ceritacerita unik.
Sebab ini ramadhan, frekuensi ibadah tetap di jaga bahkan kurva harus dinaikkan. hehehe.
"Sewaktu kami masih kecil, banyak orang yang berpagi-pagi di masjid. Mereka membaca al-qur'an sampai mendekati pertengahan al-qur'an sebelum imam memulai khutbahnya."
bulan yang mulia lagi menghitung hari untuk say goodbye again dengan penduduk bumi. tugas kita adalah menjadi yang terbaik versi kita tanpa menjatuhkan lawan dengan cara yang tidak elegan.
semoga kita di pertemukan dengan malam seribu bulan di penghujung ramadhan. juga menghirup segarnya kikuk hari nan fitri.
selamat menunaikan dan menyelesaikan ramadhan di rantau dan memulai hari yang fitri di tanah lahir. bagiyang masih ramadahn pun fitri di tanah rantau, jangan sedih. jangan lupa bahagia.
taqabbalallahu minna wa minkum.
afwan zahir wal batin.
__
diah anindiah said
kendari, 14 ramadhan 1438H | 1:03 pm

Komentar