belajar menjadi; menghindari malas
Ada dua nikmat dimana banyak orang yang tertipu dengan keduanya;
nikmat sehat dan nikmat waktu luang.
-diriwayatkan Bukhari dari Ibn Abbas-
Well, keduanya emang menjadi bumerang bagi sebagian orang. Saya diantaranya bahkan mungkin cuma saya. Ya, saya.
Tepat beberapa malam lalu, dan malam sebelumnya. Genap lima hari dengan ini. Memasuki 1/3 Ramadhan terakhir; saya dibuat riweuh dengan diri sendiri. Begitu banyak hal yang tidak dapat saya maksimalkan. Well, menjadi detlainers itu gak enak. Beneran. Saya merasa napas yang tetiba sesak. Jantung yang mulai sulit dikontrol degupannya juga pergerakan jemari di atas tuts ponsel sumsang. Kali itu, saya terlalu berani mengambil keputusan untuk bekerja di akhir waktu dan menerobos lambatnya jaringan ponsel untuk mengirim berkas. Kaget? Iya. Gelisah? Iya. Sengaja? Iya.
...
Sebelum itu, sebelum purnama genap membulat di langit, saya bertemu dengan temanteman dalam sebuah komunitas dimana kami adalah kumpulang orang yang sulit berteman (padahal tinggal sekota). Kamu yang baca jangan terbahak ya. haha... Banyak kami mengobrol lalu muncul istilah telolet alias sibuk di akhir waktu. Bahkan setelah si tetua di teror :D beliau mulai menceritakan. Kami mesyem mesyem aja ya. Haghag. Di akhir cerita, permasalahan muncul di akhir waktu bahkan mengisi beberapa form di menit terakhir detlain adalah satu topik serius yang membikin kami tertawa terpingkal _termasuk saya :D...
"Saya gak tahu napa ya, mbak e jadwalnya tuh di Dua menit terakhir. Benerkan kak?" katanya.
Si dia mesyem mesyem aja.
"Dua menit terakhir loh. Ya ampun..." tepok jidat si qaqah.
So, saya mulai tergelitik untuk mencoba mengikuti. Haha. Konyol dan bodoh tetapi penasaran. Parah ya? Jadilah saya memulai menggelitik ponsel sejak pukul Sembilan lebih setengah jam dan berakhir hingga pukul Satu pagi. Itupun diiringi aksi jaringan yang ngadatnya oemjihellow. Jadi inget deg degan sepanjang Bandung-Jakarta karena takut macet terus ketinggalan pesawat mana harga tiket ohno gitu kan harganya untuk kantung mahasiswa. Hehehe.
Setelah kejadian memilukan dan memalukan itu, saya tahu bagaimana rasanya bekerja di akhir waktu. Pikiran saya mulai bercabang. Boleh jadi, saya lolos seleksi juga tidak. Saya pasrah. Saya tidak mau berandai, kan tidak boleh ya? Ingatki, jangan berandai; seandainya.
Sadar bahwa potensi saya gak pantas untuk diburu seperti bintang yang melesat maka saya berjanji agar memanfaatkan kembali masa muda. Hhhh? Jadi kemarinkemarin tetap muda, gak tua. belumtua.
Tapi emang sih, orang tuh baru ngerasain nikmat kalau udah ngejleb banget. Kalau sakit, baru sadar sehat itu nikmat banget. Kalau kepepet baru sadar Allah itu urgent banget pertolongannya. Kalau lupa baru nepuk jidat, Ya Tuhan.
Basicly... Manusia emang gitu atau hanya saya kalik ya? Maka, mari memanfaatkan waktu dengan baik. Jangan menyiakan waktu. Dan, ini Ramadhan. Mari berjuang menembus batas kemampuan biasa. Tetaplah disibukkan dalam kebaikan. Jangan terlena dunia.
Mereka akan diuji oleh dunia dan perhiasannya.
Sebaik baik perhiasan
adalah wanita...
........................................
Yuk, mulai fokus dan konsentrasi dalam tiap tapakan langkah kita. Belajar menjadi air, terus bergerak. Manfaatkan waktu dengan baik, ya. Semoga Allah selalu lindungi saya dan keluarga dari segala fitnah dunia dan akhirat. Dimudahkan apa yang begitu sulit. Ditampakkan apa yang tersembunyi, dan senantiasa menggenggam bekal untuk hari yang sudah pasti.
Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari,
dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari,
gunakanlah kesehatanmu untuk persiapan saat sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu.
- HR. Bukhari -
.
.
.
seorang pembelajar - diah a. said
kendari, 20 Ramadhan 2017M - 9.24 pm

Komentar