menjadi serupa jantung

Jadilah seperti jantung yang tidak terlihat tetapi terus berdenyut setiap saat hingga membuat kita terus hidup menjelang akhir hayat. (Anonim)

___

Siapa mereka? Kitakah? Ya, bisa jadi. Hidup adalah sebuah siklus. Dimana temu dan pisah adalah hal yang tak dapat terelakkan. Juga, perihal jatuh bangkit. Banyak fase yang akan terlewati mengikuti alur yang telah tersedia. Kita hanya perlu menata. Menyiapkan diri agar tak ada yang terbengkalai.

Siang ini, di sepanjang bundaran Mandonga --(maaf tanpa gambar-suasana tadi sedang hujan)--juga kemarin; saya kembali mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Bukan mall, ya. Haha. Jadi, saat sedang mencari perbekalan untuk berbuka dan sahur, banyak hal yang terlihat menjadi tak terlihat dan tak terlihat menjadi terlihat.

1) Terlihat tetapi tak terlihat.
A) sebagai seorang makhluk hidup, manusia tak luput dari khilaf hingga menyembunyikan aib sendiri namun menguak aib orang lain. Siang kemarin, sekelompok ibubu (duh, kenapa ya) berjumpa dan bercengkerama selama nyaris lebih Lima menit. Saya tidak memperhatikan. Fokus memilah belanjaan. Maklum, sayur bulan puasa harus lebih selektif. Selektif menu dan selektif milih. Kalo udah siangan pergi, bakal dapat sayur yang kurang baik.

B) Kebaikan orang lain. Selama ini, betapa mudahnya diri menyalahkan orang lain tanpa melihat lagi kebaikan yang telah dia perbuat. Saya teringat seorang ikhwa. Dalam suatu perjalanan pulang, panjang lebar beliau mengisahkan tentang sepersekian isi dari sirah nabawiyah. Tentang membenci dan melupakan apa yang dibenci. Kemudian menukar kebencian itu dengan kebaikan yang dibuatnya walau sebesar biji sawi. So, sulit melupakan keburukan tetapi mudah mengingat kebaikan.

C) Muadzin dan dhuafa. Saya pernah menemu beberapa dhuafa juga tak banyak muadzin. Kebanyakan diantara mereka adalah orang tua (muadzin) sedang dhuafs adalah para kanak. Entah mengapa, di masjid tertentu di pelosok, jarang pemuda yang berhias di tempat beribadah walau sekadar duduk menanti waktu shalat tiba. Entah mengapa lagi, ketika usia semakin menanjak, mereka yang dulu tak terlihat menjadi terlihat. Terutama di tiap hari raya.

Sedang, para dhuafa yang kebanyakan kanak-kanak adalah titipan orang tua. Orang tua mereka terlihat tetapi kasat mata bagi pandangan orang lain sebab dibutakan oleh desakan ekonomi.

Hidup ini keras, vrooo...

D) Kamu kali ya?πŸ˜…πŸ˜‚

___

2) Tak Terlihat tetapi Terlihat
A) Aib teman/saudara yang tidak ditutupi.
B) Kebaikan yang terumbar.
C) Aurat
D)

___

Ramadhan telah memasuki hari ke Enambelas. Semakin banyak titik dimana diri harus terus mengevaluasi kinerja. Saya masih banyak berbuat hal yang kurang baik untuk terus mengasah potensi. Birrul walidain yang kurang. Juga, ilmu sebagai bekal. Sebagai perempuan, ya gitu deh πŸ˜…hehehe. Jangan sampai nyesal di akhir.

Akhirnya, jangan tanya:
1) kenapa susah bangun tahajud sementara bangun sahur kok bisa?
2) kenapa susah shalat subuh padahal lepas sahur bisa langsung shalat subuh?
3) kenapa susah mengingat Allah sedang jadwal meet and greet handai taulan begitu mudan diingat apalagi nama artis korea ya? πŸ˜…
4) kenapa susah menjadi baik padahal kalau berbuat buruk begitu mudah?
5) kenapa susah bertemu kamu kalau pada akhirnya... eh
6) terlalu banyak tanya MENGAPA tanpa solusi.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (Al Insyirah: 5-6)

Jadilah seperti jantung. Tetap memompa, memacu darah untuk tetap beredar. Selagi Ramadhan, manfaatkan waktu yang ada. Banyak yang datang dan pergi di bulan mulia ini. Semogs diri termasuk orang yang senantiasa dirahmati untuk terus menikmati ramadhan di bumiNya.

Sudahkah kita berjuang segenap kemampuan? Sejauh mana kita mengerahkan segala persendian untuk berkontribusi total di medan perang?
___

diah anindiah said
15 Ramadhan penanggalan 10 Juni 2017
00.34 am - kendari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a