istiqomah itu sulit, butuh perjuangan
Tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. -SDD-
Eyang Sapardi benar; tidak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Bahkan hujan tahun ini ikut membersamai Ramadhan. Tidak ada yang salah.
Tiga hari terakhir habis dengan perumpaan. Menyesal? Iya. Namun, dengan itu saya tahu harus bagaimana. Saya dapat sadar (walau lambat) bahwa frekuensi keimanan saya sedang tidak stabil. Tidak mengapa. Saya harus bergegas.
Ramadhan kali ini memasuki hari ke Duabelas. Setelah Duahari lalu hujan membiarkan kaki melenggang bebas kini dengan datangnya hujan saya harus berpikir lebih cepat dan lebih berani untuk menanggung resiko.
"Dek, kakak keluarnah. Kunci pintu."
"Mau ke mana?"
"Kampus."
"Konsulmi cepat-cepat. Ujian meja sebelum lebaran. Biar cepat pulang."
"Iya. Assalamualaykum."
Saya berlalu. Meninggalkannya bersama laptop juga drama Cheese and Trap.
Hari ke-Dua.
"Ndak ke kampus?"tanyanya.
"Sebentar. Jam Sembilan."
"Tigapuluh menit lagi. Siap-siapmi."
"Iya."
"Dek, kakak ngampusnah."
"Iya."
"Assalamualaykum."
Waktu berputar. Pukul Empatsore saya kembali.
"Mau kemana lagi?"
"Telkom."
"Bikin apa?"
"Terreset ponselku. Hilang semua data. Proposalku."
"Oh, iya. Pergimi. Hatihati."
Saya bergegas mengambil kunci motor. Biasanya naik angkot tetapi karena cuaca sedikit cerah, saya memberanikan diri mengendarai motor sendiri.
Tepat pukul Limasore saya pulang. Kami membahas banyak hal hingga pulas.
Hari ini.
"Dit, kakak keluar. Kunci pintu."
"Hmm."
"Assalamualaykum."
Tak ada suara. Hanya aku yang sejam sebelum itu mondarmandir krasal krusuk di ruang berukuran 3x2,5 meter. Matahari malumalu. Hujan tak malu. Saya memegang payung. Membiarkan hujan kali ini mengalahkan kemalasanku. Maafkan aku.
Aih... nampaknya waktu memang menjadi pedang. Setidaknya untuk yang berada di nyaris garis akhir. Tidak ada. Belum ada alasan mengapa aku harus menyegerakan tugas akhir selain karya nyata yang belum ada.
Sebelum itu, Sabtu 3 Juni...
Usai menamatkan sebuah pertemuan rutin perdana agenda kampus, saya mengantar seorang kakak ke depan kampus sembari mencari takjil. Kami terlibat percakapan ringan dan cukup menohok. Entah karena idealism saya atau saya yang tak peka realitas.
"Dek, udah sampai mana tugas akhir?"
"Lagi satu kali ketemu dosen pembimbing, Kak."
"Ada kendala?"
"Gak ada, Kak."
Tertawa. "Terus kenapa lambat?"
"Memang kalau hujan saya bawa motor pelanpelan, Kak. Takut. Licin."
Tertawa (lagi). "Maksudnya Anti (kamu), apakah Dek?"
"Kakak tanyakan kenapa saya (menyebut nama) bawa motor pelanpelan?"
Kali ini dia tertawa lebih renyah lagi. "Maksudku toh Dek, tugas akhirnya Anti."
Kali ini kami tertawa bersama.
"Belum ada karyaku di kampus, Kak. Belum genap CV. Masih ganjil. Hehehe."
"Ya ampun, Dek. Amanah di kampus juga itu karya. Hanya beda nilainya. Di mata manusia, ya, emang segitu... tapi kalau di hadapanNya, itu udah lebih dari cukup, Dek. Ga mudahnah jadi pemimpin. Berat itu amanahnya anti kemarin."
"Tapi Kak, the value..."
"Segerakanmi, Dek. Jangan ditahan. Kita ga pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
"Iya, Kak."
Kami berganti topik. Intinya segerakan studi.
Sibuk membikin alasan bikin lupa memperbaiki diri. -Ukhti Sally on IG-
Maka padaNya saya mohon ampun. Setiap waktu memberi tantangan sendiri. Bagaimana cara kita menghadapi dan menyelesaikan, itu adalah ujian. Bukankah Dia tak akan menguji di luar kesanggupan hambaNya?
Maka, menjaga potensi diri adalah amanah. Menuntaskan amanah adalah kewajiban. Selama ini masih banyak aktivitas tidak bermanfaat yang saya lakukan hingga Allah memberi cobaan saya berupa Dunia dan perhiasannya. Hidup ini adalah permainan. Siapa yang berhasil memenangi akan mendapat akhir yang baik. Tentu dengan cara yang elegan. Namun, siapa yang tidak berhasil melewati tiap permainan per level, akan menuai kesia-siaan.
Jangan berputus asa. Mari nikmati permainan ini. Eh, mari nikmati perjuangan ini akan lelah tak sekadar lelah melainkan lelah fii lillah.
Allah is the greatest timer. Sebaikbaik rencana adalah rencanaNya. Semoga diri tetap dikuatkan. Tetap istiqomah dan iman yang semakin ditempa, semakin baik kadarnya.
___
Ketika diri mulai lelah karena sendiri, carilah teman yang mengingatkan untuk terus bermetamorfosa. Ketika tak menemu teman dan sahabat dalam artian yang sebenarnya... percayalah, sebaikbaik teman dan tempat untuk curhat sepuasssspuasnya adalah Allah.
Keep moving forward.
___
diah anindiah said
kendari, sepanjang 10-12 Ramadhan 1438H
Komentar