belajar menerima; menjadi ikhlas

Lelaki itu menjawab: "Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya".

Fudhail bertanya,  “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya.”

...

Fudhail berkata: “Engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (perbuatan dosamu) di masa lalu. Karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena (perbuatan dosamu) di masa lalu dan pada sisa umurmu.”

___

Penghujung Ramadhan menjadi pertanda sendiri bagi tiap jiwa. Saya bertemu dengan banyak orang dan pertemuan tersebut memberi kesan tersendiri di tiap perjumpaan. Mereka mereka yang mengisi hari saya. Menjadi warna tersendiri.

Usia semakin menanjak. Tentu. Maka, usaha untuk melepaskan semakin besar. Semakin tegar mengikhlaskan. Sebagai seorang perempuan, saya tidak bisa setegar itu. Benar kata seorang khalifah, wanita mampu menyimpan rasa cinta kepada seorang yang dicintainya tetapi tidak pada seorang yang dibencinya. Waktu terus merambat. Mengajak diri menyusuri lorong waktu. (Kadar bercengkerama bersama Pencipta tak sebanyak pada teman. Negatif ya!!)

Ini perihal niat; tentang sejauh mana diri berjuang. Banyak yang mengatakan saya pribadi adalah seorang perfeksionis, teliti, dan tegar. Ketiga poin berulang itu cambukan bagi diri. Betapa saya tidak bisa membayangkan ketiganya terdapat dalam diri. Semoga dijauhkan dari sikap tinggi hati. :-(



Saya tidak tahu sejauh mana orang mencinta saya. Membenci. Merindu. Dan, menyuka ala kadarnya. Saya hanya perlu mengetahui bahwa merekalah pewarna alami kehidupan saya. Sisa umur dunia yang bertambah dan akhirat yang makin berkurang menjadi alasan mengapa saya harus ikhlas melepaskan satu demi satu jiwa yang menyimbolkan diri selaku parasit. (Kelak, pada akhirnya kita akan saling membutuhkan).

Dunia ini kejam. Dunia ini keras. Dunia ini penuh sandiwara. Saya menyaksikan itu di usia saya saat ini. Hingga kini, bahkan salah satu alasan kuat saya 'memperlambat diri' menyudahi status mahasiswa strata satu adalah 'menghindari ego seorang yang berlebihan'. Bagaimana selama 4th saya 'dititipi' sesuatu. Bagaimana prestasi dan kondisi kian merosot. Juga, aktivitas lainnya.

Innalillahi wa'inna 'ilaihi raaji'un. Allah sebaikbaik pencipta. Maka, pasrah padaNya di sisa usia adalah nikmat yang tak dapat disalahkan. Akhirnya, di sisa waktu ini saya harus menjadi mata air. Yang terus mengalir menuju muara utama. Mengejar jembatan lurus menemuNya.

Seperti kata NK, Diah itu ATAT. AT Kuadrat. Akhwat Tangguh. Akhwat Tegar. Barangkali itu sebab dia bosan menjumpai wajah saya depan Aula Fakultas.

Di balik 'hadiah pertemanan titipan teman' yang hingga kini bertahan dalam tubuh, saya harus berjuang. Membuktikan bahwa itu bukan suatu alasan untuk  berkarya. Banyak jalan menuju Roma. Cumlaude, Terbaik Jurusan/Fakultas, Kuliah tercepat, dan lain lain mungkin tidak dapat saya wujudkan sebagai sisa mimpi di awal 2013 lalu.

Allah kuatkan. Allah menangkan. Allah dulu - Allah lagi - Allah sekarang. Apaapa, yaAllah.

Well, saatnya mandiri. Bertahan di tengah badai. Mengikuti arah angin dengan menjadi mata air tanpa berbalik ke aliran sebelumnya. Tetap mengaliri menuju hulu demi hulu menemu muara.

Ramadhan memasuki hari ke 26. Aroma lebaran semakin terasa (juga sarjana sarjana muda). Saya tegar tersenyum. Thats not mine. Mine is Qada and Qadar. Given from Him. May Allah bless us.

Masih ada waktu untuk berharap. Meminta.
"MENGIKHLASKAN mimpi saat ini yang terwujud adalah wujud penerimaan nikmat dan sikap untuk siap menerima yang terbaik untuk diri."
___

seorang pembelajar - diahasaid
kendari, 26 Ramadhan 1438H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a