08 09 1438H
Belajar dari Para Kanak
.
.
.
Starting Windows segera nampak ketika layar Empatbelas inchi kuatifkan. Sapaan yang hangat. Biasa saja. Bersahabat.
Tepat ramadhan sepekan saat jarum jam menunjuk pukul Delapanbelas WITA. Waktu berbuka telah tiba. Yuhuuu... Saat yang dinanti. Bagaimana rasanya menantikan sesuatu yang sangat dinanti itu tiba? Thats so funny. Maybe its the great moment.
Tidak lama setelah menyelesaikan rutinitas pasca berbuka, aku membuka satu akun media sosial yang cukup menyuguhkan video kanak menggemaskan dari ibuibu luar biasa. Mbak Dewi, Ibuk Retno, dan kembar AIUEO. Aku mengambil banyak hikmah dari Mbak Dewi dan Ibuk Retno. Perjalanan studi, pengabdian, pendidikan, kesungguhan, dan merawat kasih sayang. Terlalu melankolik, tetapi kedua Ibu tersebut mengajarkan banyak hal.
Najwa dan Kirana adalah dua bocah imut menggemaskan yang menjadi patokan ibuibu dumay memerhatikan kondisi anak mereka (juga para jomblowan belajar--gue banget--).
Anakanak adalah generasi penerus. Ibarat pohon, mereka adalah benih yang bakal jadi buah ranum. Didikan kepada calon generasi emas mulai ditumbuhkan sedari dini. MasyaAllah, betapa Allah menitipkan amanahnya tanpa pilih kasih. Yang perlu kita lakukan adalah menjaga semampu kita bisa. InsyaAllah.
Hingga isya menjelang, video Najwa tentang Ramadhan juga butiran kurma masih jelas teringat. Gadis pemilik kiss bye dan lesung pipit di dua pipi gemesnya. Juga anak anak kecil lain yang tak segaja kutemui baik nyata maupun maya.
"Jika kita menjaga amanah Allah, maka Allah menjaga kita. Jika kita syukuri nikmat Allah, maka tiada kekurangan. Jika kita bersabar atas penantian sembari memantaskan diri maka buah kesabaran akan segera ranum."
Setidaknya, walau kita belum dapat menjadi shalih/ah... belajarlah untuk menjadi shalih/shalihah. Bukan untuk dinilai bagus juga baik tetapi sebagai nilai lebih, bekal bagi diri untuk menjadi parents.
Maka, tak perlu bersedih jika ketetapanNya belum sesuai rencana. Kita hanya mencoba membuat dan merealisasikan sesuai kemampuan. Jatuh dan terpuruk adalah alasan mengapa penyesalan selalj datang terakhir. Agar kita sadar bahwa manis ada setelah pahit terasa.
___
dy a. said
Kendari, 3 Juni 2017 - 18.55pm

Komentar