yang (seharusnya) dicintai

Pagi ini, dengan kota masih berselimut kabut, banyak bercerita yang ingin meluap. Bukan lagi tentang hari ke-enam dimana diri terbelenggu dalam sebuah ruangan dan setumpuk buku. 
Pagi ini, dengan segala kekuatan, seakan kembali mengingat banyak hal. Perihal buah, musim, dan kotak. Ingin ku banyak bercerita--butuh-- meluapkan banyak kisah yang selama ini hanya dapat didengungkan.
*** 
 
Pada sebuah pagi, dunia kembali menyapa. Matahari masih terbit dari timur. Seruan subuh yang merdu. Suaranya saling bersahutan. Imam memimpin sholat. Makmum lantang menjawab aamiin di tiap fatihah. Saya menikmati semua. Bahagia (1)
Dunia begitu bahagia di pagi yang tidak banyak desing, doadoa bersahutan. Saling berlomba menuju Tuan. Para doa mengambil keputusan cepat untuk segera menemu Tuan. 

Bunga di taman bermekaran. Bentuk warna warni saling memadu: teduh, cantik, indah. Selamat datang. Terucap selamat datang untuk segala hal. Pada nafas yang kembali. Raga dan jiwa yang menyatu. Senyum tulus. Dan wajah yang dibasahi wudhu.

Dunia begitu berwarna. Perjalanan para pejalan semakin bermakna. Di jalan yang tak tentu mulusnya, pejalan  bersiap akan segala hal. Termasuk tanya pada pagi itu. Sepotong tanya yang melulu membuat seseorang merasa tertawan.

Siapa orang yang kau cintai? Hei, kamu menanyakan itu pada seorang penyendiri. Siapa yang kau cintai? Sudahlah. Aku serius!  Aku pun.  Jawablah, aku tak ingin kita mencintai orang yang sama. Lantas akan aku apakan jika iya?  Kamu resmi terdiam.
Aku mencintai rasulullah, para sahabat, ummul mukminin, serta seluruh saudariku. Kau? Nah, kan. Jawaban kita sama. Akan kau apakan aku ini? Tidak mengapa jika kita mencintai mereka. Bukankah benar adanya? Yang ingin kutanyakan, seseorang yang lain. Aku kali itu terdiam kembali. Jawab, Di! Sejak kapan kamu manggil aku Di? Biasa. Jawab aja. Gak ada.
Jujur? Baiklah. Aku mencintai Rasulullah. Aku tidak mengenalnya dengan begitu baik. Aku tidak hidup di zamannya. Aku tidak mengetahui rupa seperti apa. Aku hanya membaca tentangnya dari buku-buku serta penuturan Abah.
Nah, itu ada. Kalau yang lain masih ada? Aku mendiamkanmu. Kamu sudah terlalu kepo kali itu. Mengapa kau  mencintai Rasul dengan alasan yang sama seperti yang lainnya? Aku ingin balik bertanya. Apa kau merasakan seperti yang kurasa?
Perasaanku pun masih dipertanyakan. Mengapa dengan ilmu yang minim tentangnya tetapi dengan lantang aku masih berani berucap demikian? Aku memiliki alasan untuk itu. Baiklah, sedikit dan akan banyak berbagi. Semoga jawaban ini membuatmu puas dan tidak lagi bertanya seperti anak kecil yang merengek meminta jawab atas tanya, "Mama... Belikan permennnnnnnn!" (hehe)
Rasulullah adalah seorang yang bersahaja. Orang yang paling terkenal. No.1 di dunia selama 1400th terakhir. Belum ada yang dapat mengalahkan ketenaran tersebut. Sebut saja para sahabat dan nabi terdahulu. Tidak ada. Itulah Rasulullah.
Lahir pada 571M di Kota Mekkah saat Abrahah dan pasukan hendak menghancurkan Ka'bah. Pasukan gajah yang menolak menyerang Mekkah namun dipaksa menuju Mekkah oleh Abrahah dan koloninya. Pasukan yang pada akhirnya pontang panting berlari karena dihujam bebatuan panas oleh Hud Hud dari Neraka.
Rasulullah istimewa. Dan selalu menjadikan setiap orang yang berada disekililingnya begitu istimewa. Siapapun dia. Pernah suatu ketika, semasa hidupnya beliau selalu menyuapi seorang tua Kafir Quraisy dengan ikhlas. Ketika beliau meninggalkan, seorang Khulafaur Rasyidin menggantikan tugas beliau. Namun, ketika memakan makanan pemberian seorang sahabat, dia memprotes dan mengatakan kau bukan orang yang tiap hari datang padaku. Kemana orang yang selama ini menyuapiku? Makanan yang diberikan padaku begitu halus. Tak sekasar ini, siapa kau? Tak elak, sahabat pun menangis. Betapa Rasul mencintai seorang yang bahkan tidak mencintainya. Seorang yang dihadapannya mencacinya. Sementara si pencaci tidak mengetahui bahwa orang yang dicaci adalah orang yang tengah menyuapinya.
Si tua tersebut pun memeluk islam. Tidak menyangka, air tuba dibalas dengan air susu. Para sahabat pun seperti itu, beliau amat mencintai para sahabat. Hingga Rabi'ah bin Ka'ab yang ditanya perihal permintaannya kepada Rasul. Dia tak meminta harta Rasul. Bukan pula jodoh. Bukan pula rupa. Juga tahta. Melainkan, Ya Rasulullah, izinkan aku menemanimu di syurga-Nya.

Pernah suatu ketika, seorang sahabat mencari letak kesalahan Rasulullah. Dia pun mengatakan akan mencambuk Rasulullah. Para sahabat geram. Baik Abubakar. Umar. Utsman. Hingga Ali. Mereka menginginkan agar hukuman cambuk diberikan saja pada mereka. Para sahabat tidak rela jika Rasulullah yang tengah sakit dan begitu baik hati, budi pekertinya terluka. Tetapi budak tersebut bersikeras. Maka turunlah Rasulullah dari tempat tidurnya. Membuka baju, dan nampaklah tubuhnya yang putih dan berseri-seri. Berlari pemuda itu menuju Rasulullah, melepas cambuk, dan memeluknya. Meminta maaf karena lancang bersikap seperti itu semata-mata karena ia ingin memeluk Rasulullah. 

Banyak kisah Rasulullah yang sampai sekarang tak lekang oleh waktu. Beda zaman. Beda dimensi kehidupan. Betapa nikmatnya hidup di zaman Rasulullah. Memperjuangkan islam dengan para syuhada. Mendengar, menatap, dan menjadi sahabat Rasul. Menjadi saksi perjuangan para pendahulu.

Seribu empat ratus tahun telah berlalu dan Muhammad saw., abadi dalam sejarah. Abadi dalam keseharian umat yang begitu ia elukan. Sunnah serta risalah beliau hingga kini menguat, menjadi amal jariyah beliau. Aku rindu padanya tetapi tidak tahu apakah jika aku hidup di zamannya aku dapat membantu peperangan dan mengurusi segala sesuatu sesuai titahnya? Aku takut tidak menjadi apa yang diinginkannya.

Sang Kekasih Allah Swt., sang yatim piatu yang begitu shiddiq, amanah. Sang Penolong kita kelak di akhirat nanti. Bahkan Allah mengizinkan ia memberi pertolongan. Olehnya, perbanyak shalawat .

Kita memang tidak akan pernah bertemu Rasulullah di dunia ini. Namun, perbaikan diri yang sematamata karenaNya akan menjawab Iya. Kita pasti dapat bertemu. Tingkat rasa cinta kita pun. Jika masih kurang rasa cinta dan rindu untuknya, perbanyaklah membaca sirah Rasulullah dan para sahabat. Agar ibrah kehidupan dapat kita ambil. Lebih banyak kisah yang kita tahu makin banyak pula hal kecil yang ternyata selama ini terlewati. Betapa beliau meninggalkan hal yang amat berdampak. Peradaban islam. Strategi. Tata cara thaharah. Shalat. Muamalah. Musyawarah. Hingga kitab: AL QUR'AN.

***
Di antara kalian yang paling dekat tempat duduknya denganku (Rasulullah) pada hari Kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (Hadits shahih, riwayat At-Tirmidzi)
Aku ingin hidup lebih lama lagi. Memantaskan diri. AKu ingin menjadi mendengar Beliau menjawab salam kita bersama. Bahagia bukan (2)? Lets fastabiqul khairat. Bersungguh-sungguh untuk bersamanya, hilangkan hawa nafsu. 
 
Dan aku ingin sekali melihat bagaimana Rasulullah memberikan senyumnya kepada kita. Aku sangat ingin hal ini bisa benar-benar terwujud. Namun jauh-jauh hari sebelum itu, kita harus mampu menyembulkan rasa rindu untuknya. Kita harus berusaha keras untuk bisa mengenalnya lebih dalam lagi. 
Karena perkara bisa mencintainya adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan lebih keras lagi.
semangat pagi. jangan lupa bahagia (3)
 ***
Itu alasanku. Bagaimana denganmu? Apakah kau  memiliki alasan yang tak sama denganku?
 
.
.
.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 23.10.2016 | 8:50 am 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a