Hai, Hello (1)
Apa kabar?
Baikkah atau seperti biasa yang kamu haturkan?
Apapun itu, semoga kamu tetap dapat enerjik, laiknya yang aku lihat.
Kamu ingat, tentang orang-orang yang bergantian datang mengisi waktu kita? Kita nampaknya agak berat, sebut saja hidup masing-masing dari "kita". Aku ingat, kekata yang terus kamu ulang, "Yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Pencipta. Yang buruk menurut kita, belum tentu buruk di mata Pencipta."
Lang, di antara sekian kekata yang sering kau ucap, itu terus kuingat. Sebab untuk beberapa waktu terakhir kita kerapkali lupa untuk menerjemahkan. Kita lupa tentang ke-se-kufu'-an kita sehingga kini ada yang dekat, ada yang jauh. Ada yang baru, ada yang lama--ada yang datang dan pergi--.
Lang, pergantian jiwa yang tetap konsist adalah hal lumrah. Kau tahu? Dia sebaikbaik penyayang dan pemberi apa yang dibutuhkan oleh kita bukan? Barangkali, tiap kedatangan ada ujian. Ada cerita yang dapat kita petik sebagai pembelajaran. Bahkan, kisah umat terdahulu termaktub dalam kitab agar tak lagi terulang di masa kini. Namun? Ah, sudahlah.
Pertemuan-pertemuan kadangkala membikin kita mengagumi, membenci, dan menjadi. Proses menuju itulah yang tak banyak jiwa menyanggupi. Kita samasama meyakini bahwa dari sekian banyak yang datang dan pergi, pasti akan ada satu yang pasti. Pasti menjadi hingga akhir; sepasang. Namun, untuk menjadi bukankah sangat kecil peluangnya?
DiciptakanNya jiwa sepasang, tidak sendiri. Dari bagian khusus yang tak mudah dikoyak, sehingga mudah dilindungi. Sehingga menyerahkan hati pada yang berhak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Misal, nada make-up yang dikenakan. Warna make-up coklat belum tentu senada dan cocok dengan kulit dasar putih. Atau kacamata berkilauan dengan blingbling. Sebaik apapun itu, belum tentu cocok. Masing jiwa miliki karakter yang berbeda. Masing dari kita pun begitu. Kamu rewel, manja. Aku? Aku bahkan dapat mengunci diri di kamar, seorang, dan tidak memerdulikan rintihan henpon yang nyaris lobet.
Kita kini sedang mencari kebutuhan bukan apa yang kita inginkan. Percayalah. Dia tak pernah berat sebelah dalam menimbang apa yang pantas.
Olehnya, salinglah kita menasehati untuk bersyukur. Salinglah menjaga untuk melindungi.
...isbiru, washobiru...
...bersabar dan kuatkan kesabaran ...
"Muhammad'kan dirimu, agar Allah meng'Khadijah'kan kekasihmu. 'Ali'kan dirimu, agar Allah meng'Fatimah'kan pendampingmu."
(Ahmad Rifa'i Rif'an)
dy a. said
Kendari, 10 Oktober 2016 | 7:40 am

Komentar