Berdamai (1)


2010-2016: Ada alasan di tiap langkah. Semakin di cari, semakin nampak menyeruak. Ada alasan mengapa semua harus tetap dalam kendali. Harus tetap terjaga: Stabil. Ada alasan; untuknya.

Saya menjadi melankolik seharian. Entah karena perasaan bersalah akibat tidak berdaya melawan sistem imun diri sendiri selama -+ 48 jam. Pura-pura tegar sepanjang waktu itu. Dengan nyata menggagalkan temu lingkar kecil bersama para titik-titik keci. Dengan sempurna memolototi diri  akibat kepayahan diperbuat.

Saya menjadi... 

*** 

Olehnya, perlu alasan. Diadakannya alasan, atas tanya mengapa. Pertanyaan dan pernyataan yang kerab terumbar: Jaga kesehatan.



Baiklah. Saya lalai. Maka kini saya sadar, untuk siapa kesehatan itu perlu saya jaga.

Untuk:
(1) Kedua orang tuaku (without caption);
(2) Kedua adik kecilku yang tetap selalu kekanakan di mata si sulung;
(3) Lingkar bil Qalam (terimakasih sejak awal telah menjadi penyokong dan kini menjadi the one);
(4) Mutarabbiyahku (adik-adik tangguh yang menghargai arti pertemuan dan perpisahan. Sungguh, saya teramat jauh dari kesan seorang murabbiyah);
(5) Menteeku (adik-adik cerdas yang berkomitmen antara IQ dan SQ);
(6) Mereka yang telah dan hadir sebagai pewarna hari; dan
(7) Dia yang masih berjalan dengan rutinitasnya (yang terus berjuang menggapai kebersamaan yang tertunda).

***

Atas ini, tidak perlu ada penyesalan. Bukan karena nasi telah menjadi bubur melainkan karena kasih-Nya yang tak luput hingga senantiasa mengingatkan, menegur, serta mencurahkan nikmat-Nya agar hambaNya bersyukur atas nikmat yang tak pernah henti.

Tidak dibebaninya suatu kaum melainkan sesuai kesanggupannya (2:286) serta nikmat mana yang sanggup para hamba dustakan?




Pada saatnya, ketika amanah telah dituaikan. Maka tiga nikmat yang tanpa sadar terlewatkan:
(1) nikmat yang nampak di mata hamba;
(2) nikmat yang diharapkan kehadirannya; dan
(3) nikmat yang tidak dirasakan. (ibnul qayyim rahimahullah)

Pantaskan diri agar amanah menjadi aman. Ketika tongkat estafet telah dalam kendali, kita tidak dapat mengelak, berlari, lalu pergi. Kita hanya dapat menerima, dan berjuang untuk menemu penerima selanjutnya.

"Apapun yang hilang akan selalu tergantikan.
Allah ambil kecantikan, kekuatan, dan keceriaan saat kita diberi cobaan. Namun, hal itu akan tetap tergantikan dengan yang baru tanpa kita tahu.
Allah tahu apa yang dibutuhkan hambanya, hanya saja Dia lebih tahu waktu yang tepat untuk memberi."  


ALHAMDULILLAH 'ALAA KULLI HAL

.
.
.
.
dy a. said
Kendari, 20.10.2016 | 8:00 pm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kita yang... .

Belanja di Pasar Tradisional: Why Not?

B-e-n-d-e-r-a